
Pagi ini begitu cerah, Stevia dan Andreas memohon izin untuk pergi jalan-jalan dan menikmati suasana pantai di dekat kota Ririn. Mereka sengaja meninggalkan Tomy agar ia memiliki waktu luang untuk bisa bersama Ririn.
Tadi malam Tomy tidur terlalu larut, semalaman ia gelisah untuk menentukan langkah selanjutnya bagi masa depannya.
Saat mengobrol bersama diruang tamu bersama Alan, dirinya melihat pria itu begitu baik dan juga ramah. Iapun bisa melihat betapa pria tersebut mencintai Ririn dengan sepenuh hati. Batinnya galau, apakah dirinya harus tetap maju, ataukah ia lebih baik berhenti dan mengikhlaskan Ririn pada pria sebaik Alan.
Semalam, Alanpun pulang cukup larut dari rumah Ririn sehingga Tomy tidak punya kesempatan untuk mengobrol berdua dengan Ririn. Maklum, jarak rumah Alan dan Ririn tidak terlalu jauh, hanya beda RT saja dan mereka memang bersahabat sejak kecil.
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya saat sinar mentari mulai menyilaukan pandangannya dari balik kaca. Iapun bangun, kemudian membukakan pintu bagi yang diluar sana.
" Ada apa sih, Bi. Masih mengantuk juga. " gerutunya sambil mengucek-ucek matanya yang masih terasa lengket.
" Aaaaaa.. Pak Tomy kenapa bertelanjang dada seperti ini. Bapak tidak sopan! " Ririn buru-buru menutup matanya karena malu.
Tomy terperanjat, dirinya lupa jika saat ini sedang berada di rumah Ririn. Ia pikir dirinya sedang berada di apartemen, biasanya Bibi yang ia tugaskan membersihkan apartemennya selalu membangunkannya di pagi hari.
Tomy menutupi dada dengan kedua tangan sekenanya. Ia lupa, semalam karena gerah ia melepas kaos dan hanya mengenakan boxer. Ia terbiasa tidur di kamar ber AC, sedangkan kamar tamu Ririn cukup sempit dan pengap baginya.
__ADS_1
Bu Dian yang mendengar teriakan putrinya segera menghampiri.
" Ada apa sih, Rin? Pagi-pagi sudah berisik, mengagetkan orang saja. " gerutunya kesal.
Bu Dian terkekeh melihat Ririn yang malu melihat Tomy tengah bertelanjang dada.
" Astaga Rin. Ngapain kamu seperti itu? Pak Tomy masih pakai baju saja kagetmu bukan main. Lihat di luar sana, bule- bule malah pada pakai baju kurang bahan. Mereka biasa-biasa saja. " ejek Bu Dian pada putrinya. Namun, Ririn tetap saja menutup matanya.
Tomypun merasa sungkan, ia segera kembali masuk dan menggunakan kaosnya. Pria itu kembali keluar dan menemui Ririn.
" Udah, Rin. Kamu bisa buka mata sekarang. " tutur Tomy yang kini telah berdiri tegap dihadapan gadis tersebut.
" Rin, udah ngelihatnya. Kalau kangen ngomong, jangan dipandangi saja. Nanti gantengku bisa terkikis lama-lama." kelakar Tomy. Ia rindu menggoda mantan sekertarisnya.
Rini terkesiap, dirinya baru menyadari apa yang ia lakukan barusan. Buru-buru ia mencari alasan agar Tomy tidak ke G R an.
" Idih, Bapak. Siapa juga yang kangen? Heran saja, orang ganteng kok beleknya kemana-mana. " sahut Ririn balas mengejek.
Tomy teringat bahwa dirinya bahkan belum mencuci muka barusan. Buru-buru ia memeriksa sudut matanya, siapa tahu ada kotoran tertinggal disana.
__ADS_1
Ririn terkekeh seketika, Tomy sepertinya telah termakan kata-katanya.
Romi mendengus sebal. Dari cara Ririn tertawa, sudah jelas gadis itu hanya mengerjainya.
" Maaf Pak, bercanda. Saya kesini mau menyampaikan, Pak Andreas dan Stevia sedang pergi berjalan-jalan dari pagi. Mereka berpesan kalau Bapak tidak usah mencari keberadaan mereka. Bapak belum sarapan, saya sudah menyiapkan sarapan pagi anda dimeja. " jelas Ririn.
Gadis itu segera pergi setelah menyampaikan pesannya, ia tak mau berlama-lama di dekat Tomy. Dirinya takut jika sampai pendiriannya goyah lantaran bertemu lagi dengan lelaki itu.
Tomy yakin, Andreas dan Stevia memang sengaja meninggalkannya. Mereka ingin memberikan waktu untuknya agar bisa berdua bersama Ririn. Tiba-tiba sebuah notifikasi dari Andreas masuk ke ponselnya,
" Cepat ungkapkan perasaanmu! Jangan menunda lagi atau kau akan menyesal seumur hidupmu. "
Semangat Tomy ikut kembali, hari ini dirinya harus bisa menyatakan perasaan apapun yang terjadi. Ditolak atau diterima, dirinya tetap akan berlapang dada.
" Aku harus mengungkapkan perasaanku pada Ririn secepatnya. " tekadnya dalam hati.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍
__ADS_1