Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
CECILE MENGUNDURKAN DIRI


__ADS_3

Meeting akan segera dimulai, namun Andreas belum juga muncul dan memimpin jalannya rapat.


Beberapa klien mempertanyakan kehadiran lelaki tersebut. Ini juga merupakan kali pertama mereka akan bertemu dengan pimpinan perusahaan yang baru.


" Adikku itu memang sangat malas. Dia belum mengerti masalah tanggung jawab dalam pekerjaan. Memang sedari dulu kerjanya hanya berfoya-foya saja. " Stefan mencoba mempengaruhi salah satu klien.


" Oh ya? Saya juga terkejut saat mendengar adik anda yang menggantikan posisi Pak Wildan sebagai pimpinan. Padahal, yang saya tahu andalah yang telah berkecimpung lebih lama di perusahaan ini. " klien itu menambahkan. Ia belum mengerti jika Stefan bukanlah anak kandung Pak Wildan.


Stefan menyeringai sinis, dirinya yakin bahwa Andreas tak akan bertahan lama di perusahaan ini.


" Kita lihat saja. Sampai kapan adikku mampu bertahan dalam menjalankan perusahaan. Aku tidak yakin jika dia akan mampu membawa kemajuan untuk perusahaan Papa." ungkapnya mencela sang adik.


Pria disebelahnya manggut-manggut, dirinya jadi kurang respek terhadap pimpinan baru. Ini saja sudah lewat lima menit dari jam rapat, tetapi Andreas belum juga menampakkan batang hidungnya.


Stefan memang sengaja duduk disebelah klien utama, dirinya sengaja ingin menjatuhkan Andreas agar klien itu membatalkan niatnya untuk menanam saham diperusahaan . Dengan begitu, citra Andreas akan jatuh dimata papanya.


" Selamat pagi semuanya. Maaf atas keterlambatan saya pagi ini. "


Semua mata tertuju pada pusat suara. Yah, Andreas akhirnya tiba diruang rapat setelah dibujuk dengan susah payah oleh Stevia.


Awalnya Andreas merasa kurang percaya diri apalagi setelah mendengar sindiran dari Stefan. Namun, Stevia selalu berusaha meyakinkan dan menyemangatinya bahwa ia pasti mampu menyelesaikan semua ini dengan baik.


Andreas mulai menjelaskan visi dan misi perusahaan kedepannya. Ia juga menunjukkan desain kompleks perhotelan dan apartemen yang akan dibangun nantinya. Dengan beberapa berkas pendukung yang telah disusun oleh istrinya bersama Raihan, ia berhasil meyakinkan seluruh klien untuk mau menanamkan modal di perusahaannya.


Mereka sangat kagum, ternyata Andreas jauh berbeda dari yang mereka pikirkan tadinya. Mereka dapat melihat sendiri kharisma seorang Andreas Dirgantara sebagai seorang pemimpin dan kemajuannya dalam berpikir. Banyak diantara para klien yang memuji dan mengelu-elukan lelaki tersebut. Mereka yakin Andreas bisa membawa perusahaan menjadi lebih baik.


Stefan semakin iri pada sang adik. Kejadian ini sama persis seperti di masa lalunya dulu. Andreas memang cerdas dan berprestasi di sekolah hingga lelaki itu selalu jadi idola di sekolahnya. Apalagi, Papa dan Mamanya selalu saja membanggakan anak semata wayang mereka.


Seluruh anggota rapat berangsur-angsur meninggalkan ruangan. Stefanpun hendak beranjak dari sana. Pria itu pergi begitu saja saat berpapasan dengan Andreas, tanpa menyapa sang adik.


Andreas mematung, dirinya tak mengerti dengan perubahan sikap Stefan sekarang. Pria itu nampak dingin dan acuh terhadapnya. Sangat berbeda dengan sebelumnya yang begitu hangat dan perhatian terhadapnya.


" Hei, kenapa kau melamun? "

__ADS_1


Andreas terkesiap saat seseorang menepuk bahunya dari belakang. Senyumnya mengembang sempurna melihat kehadiran Stevia disana.


" Aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya nerveus menghadapi beberapa klien penting Papa." jawabnya berbohong.


Stevia tersenyum simpul,


" Sudah, jangan terlalu dipikirkan. By the way, aku ucapkan selamat, Sayang. Aku dengar banyak klien yang memuji kepandaianmu. Aku sangat bangga padamu. "


" Kau jangan terlalu memujiku. Ini semua juga berkat bantuanmu. " puji Andreas.


Lelaki itu menatap sekeliling, saat dirasa tidak ada siapa-siapa disana, Andreas langsung menyambar bibir istrinya begitu saja. Stevia kembali terkesiap saat mendapat serangan secara tiba-tiba. Ia mampu merasakan pria itu menyesap bibir mungilnya dengan cukup liar meskipun hanya sesaat. Stevia langsung mendorong suaminya menjauh lantaran takut ada karyawan yang melihat.


" Jangan berbuat seenaknya. Bagaimana jika ada karyawan yang melihat? Kita bisa dikenakan sanksi karena memberikan contoh yang tidak baik. " tegur Stevia.


Andreas menyeringai penuh kemenangan.


" Tenang saja, aku juga membaca situasi sebelum bertindak. Tidak akan ada orang yang tahu, kecuali bekas yang aku tinggalkan di bibirmu. " bisiknya sambil berlalu meninggalkan sang istri.


Stevia memegangi bibirnya, ia bergegas mengambil kaca kecil yang terselip di saku jasnya. Netranya membola saat melihat Andreas telah membuat tanda merah di sudut bibirnya.


*****


Andreas kembali keruangannya. Pria itu terkejut melihat keberadaan Cecile disana. Wanita itu berdiri, raut wajahnya menunjukkan gurat-gurat kekesalan.


" Katakan padaku. Apa kau mencintai Stevia sekarang! Apa kau sudah mengkhianatiku, Andreas! " pekik wanita itu memendam kemarahan.


Andreas terdiam sesaat sebelum merangkai kata yang tepat agar bisa diterima oleh Cecile.


" Maafkan aku. Aku sudah tidak mampu membohongi diriku sendiri. Aku memang mencintai Stevia. " ucapnya perlahan, tetapi penuh penegasan.


Cecile seolah tak percaya, airmatanya berhambur begitu saja. Hatinya serasa terhujam mendengar kenyataan itu. Ia berjalan gontai mendekati Andreas, lalu berdiri tepat dihadapan lelaki tersebut.


" Ka- u jahat Andreas. Kau te-ga sekali padaku. " Tiba-tiba Cecile memukul- mukul dada Andreas dengan kedua genggaman tangannya.

__ADS_1


Andreas berusaha menerima pukulan Cecile, iapun merasa bersalah pada wanita tersebut. Namun, bukannya semakin tenang, Cecile justru semakin menjadi-jadi.


" Cecile hentikan. " Andreas berusaha melirihkan suaranya. Berkali-kali ia berkata, tetapi wanita itu sama sekali tak menggubrisnya.


" Cecile, Hentikan! Jangan memaksaku bertindak kasar! " bentaknya sambil memegangi kedua tangan Cecile untuk menghentikan perbuatannya.


Cecile terdiam menyaksikan Andreas yang menatap nyalang kepadanya. Ia menghempaskan kasar kedua tangannya sehingga terlepas dari genggaman Andreas.


" Kau tak berperasaan, Andreas. Dasar pengkhianat. " wanita itupun berlari pergi sembari mengusap air matanya.


...-----------...


Cecile kembali keruangannya, ia segera mengemas barang-barangnya sebelum meninggalkan kantor.


Stefan yang tak sengaja lewat begitu terperanjat melihat Cecile yang sedang berkemas.


" Apa yang kau lakukan! " bentaknya kesal.


Cecile menatap nyalang lelaki itu,


" Mulai detik ini aku akan berhenti bekerja denganmu. Aku sudah muak bekerja disini. Kantor ini sudah seperti neraka bagiku."


Cecile tengah menenteng tasnya, tetapi Stefan menghalangi kepergian wanita tersebut.


" Cepat katakan. Apa ini ada hubungannya dengan Andreas dan juga istrinya? " cecar lelaki itu berusaha mencari duduk permasalahan.


Cecile tak ingin menjawab, hatinya terlalu sakit kali ini. Ia mendorong Stefan dengan kasar lalu pergi begitu saja meninggalkan lelaki tersebut.


Stefan benar-benar kacau sekarang, ia tidak mau Cecile pergi meninggalkannya. Otaknya kacau memikirkan apa yang terjadi padanya akhir-akhir ini. Semenjak kedatangan Andreas dan Stevia di perusahaan, satu persatu permasalahan mulai menjadi batu sandungan baginya.


Pria itu *******-***** rambutnya, otaknya terasa kencang akibat setumpuk masalah yang membebani pikirannya.


Aaarrrggghhhh...

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2