
Undangan sudah mulai disebar, hari dan tanggal pernikahan Stevia dan Andreas tinggal menunggu hitungan hari. Stevia dan Andreas kini disibukkan untuk fitting baju pengantin.
Tadinya Andreas enggan pergi bersama Stevia. Jika bukan Pak Wildan dan Bu Renata yang memaksa mungkin pria itu lebih memilih untuk tidur dan bersantai dirumah saja.
Toh pernikahan ini adalah keinginan orang tuanya, mau tidak mau dirinya hanyalah seperti boneka yang bisa diatur semaunya.
Keduanya memutuskan untuk pergi ke sebuah butik terbesar di pusat kota. Dengan malas Andreas melangkah masuk kedalam butik. Namun, berbeda dengan Stevia, wanita itu begitu bersemangat untuk memilih gaun pengantinnya.
" Andreas, ayo cepat. " Stevia menarik tangan Andreas, hampir saja lelaki itu terjatuh karena terkejut.
Netra Stevia berbinar menyaksikan beberapa pasang gaun pengantin mewah yang terpajang di butik tersebut. Andreas hanya memicingkan mata, menurutnya semua sama saja tidak ada bedanya jika dia harus menikah dengan Stevia.
" Lihatlah, bagus sekali gaun-gaun itu. Andreas kau mau aku memakai yang mana? " tanya Stevia bersemangat.
" Terserah, aku malas. Lebih baik aku menunggu saja disini. " ungkap Andreas lesu. Pria itu duduk disebuah kursi dan mengambil salah satu surat kabar yang ada dimeja.
Stevia mencebik kesal, tapi tak mengapa dirinya tak peduli. Suka atau tidak sebentar lagi ia akan menikah. Harapannya semasa kecil bahwa dia ingin menjadi ratu semalam dihari pernikahannya.
" Ya sudah, aku akan mencoba beberapa. Nanti kau yang pilih, mana yang paling cocok untukku. Bagaimana apa kau mau?" rayunya sekali lagi.
" Heem.."
Hanya jawaban singkat itulah yang keluar dari mulut Andreas. Pria itu bahkan masih tetap menutup wajahnya dengan koran. Stevia tak mempedulikan hal itu, yang jelas ia harus tampil maksimal. Ini juga pasti akan berpengaruh dengan kariernya ke depan.
Salah satu pegawai butik menyerahkan sebuah gaun yang baru saja ditunjuk oleh Stevia. Gaun putih berlengan panjang menggembung dengan hiasan renda telah dicoba oleh Stevia. Dirinya cukup nyaman dengan gaun tersebut, cepat-cepat ia keluar untuk menunjukkannya pada Andreas.
" Andreas coba lihat, apa menurutmu gaun ini bagus? "
" Heummm.."
Stevia mendengus kesal, pria itu menjawab tanpa menyisihkan koran yang menutupi wajahnya. Stevia segera menghampiri Andreas dan merebut koran dari tangannya.
" Bagaimana kau bisa berkomentar jika kau sama sekali tak melihatku?" ungkapnya sebal.
Namun, tak disangka-sangka Andreas justru tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.
" Eeemmmm...Bua..ha..ha.. Cocok, cocok sekali denganmu yang kampungan! " ejeknya dengan wajah memerah karena terlalu keras tertawa.
Stevia menatap penuh kekesalan, dengan perasaan gondok iapun masuk kembali ke ruang ganti untuk mencoba pakaian pengantin yang lainnya.
" Ini Nona. Silahkan dicoba. "
Stevia kembali mencoba salah satu gaun yang ada disana.
" Seksi. Yah, aku ingin gaun yang terkesan seksi. " gumamnya memandang gaun yang ia kenakan saat ini.
" Yuhuuu...Andreas bagaimana dengan yang ini. " ucapnya dengan penuh percaya diri.
Andreas yang sedang memainkan ponsel dengan terpaksa menoleh. Hampir-hampir saja airliurnya menetes menyaksikan apa yang ada dihadapannya saat ini.
Bagaimana tidak? Stevia terlihat begitu seksi dengan gaun pengantin V neck yang mengekspos bagian tengah belahan dadanya. Gaun terusan dengan punggung terbuka dan belahan mencapai pangkal paha itu hampir mengekspos sebagian kemolekan tubuhnya.
__ADS_1
" Kau menyukainya, Andreas? " godanya saat pria itu memperhatikannya tanpa berkedip sama sekali.
" Andreass? " panggilnya sekali lagi saat Andreas belum kembali dari alam bawah sadarnya.
Andreas terperanjat kaget, otaknya telah kembali ke tempatnya.
" Apa kau sudah gila? Atau kau sengaja ingin mempermalukanku? Mama mungkin kau memakai pakaian kurang bahan seperti ini di depan rekan dan kolega orang tuaku! "
Suara Andreas kali ini sampai membuat telinga Stevia menggema. Dengan segera ia masuk dan mengganti gaun pengantinnya.
Andreas geleng-geleng kepala, Stevia hampir memancing kebangkitan sesuatu dalam dirinya. Bisa-bisa dirinya akan kalah jika sampai tergoda oleh wanita tersebut.
" Tuan. Maaf, Nona Stevia meminta anda untuk mencoba jas pengantin ini. Beliau barusan yang memilihkan untuk anda. " sapa salah satu pelayan sembari menyerahkan jas pengantin yang ada ditangannya.
Andreas memperhatikan jas tersebut. Seulas senyum tersimpul di wajah tampannya.
" Seleranya bagus juga. " gumamnya dalam hati. Iapun segera mencoba jas tersebut.
" Andreas, semoga kali ini kau menyukai gaun pengantin yang kupakai. " ucap Stevia setengah berputus asa. Dirinya cukup lelah harus berkali-kali mengganti pakaiannya.
Andreas menoleh, sorot matanya menunjukkan kekaguman pada wanita dihadapannya. Gaun terusan berwarna putih dengan dada terbuka. Sederhana, tapi nampak begitu pas dibadan Stevia.
Stevia pun begitu terpukau melihat Andreas yang berpakaian formal. Pria itu nampak lebih gagah dan tampan dengan jas yang ia kenakan
.
" Kau sangat tampan. " ucap Stevia menatap penuh damba pada Andreas.
Wanita itu menarik tengkuk Andreas dan semakin mendekatkan kewajahnya. Andreas ikut terbuai oleh perlakuan manis Stevia. Wanita itu seolah memberinya lampu hijau untuk mereguk manisnya madu yang selama ini hanya berani ia curi.
Namun, saat tinggal selangkah lagi. Kini Stevia justru menertawakannya.
" Akuilah, Kau telah jatuh cinta terlebih dulu kepadaku, Andreas? " sindirnya pada pria dihadapannya.
Seketika Andreas mendorong tubuh Stevia cukup keras agar menjauh darinya. Pria itu memilih berlalu, ia yakin Steviapun sebenarnya hanya ingin bermain-main dengannya.
Sesaat pria itu menghentikan langkahnya sambil sedikit menoleh kepada Stevia.
" Jangan harap aku akan tertarik padamu. Bagiku dulu maupun sekarang kau sama saja. Aku membencimu, Stevia Suryatama. " tegasnya. Ia melempar jas yang dipakainya pada Stevia dan pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.
Stevia menatap kepergian Andreas, ada rasa jengah dalam hatinya. Pria itu selalu mengelak dari perasaannya.
" Kau terlalu jual mahal, Andreas Dirgantara. Aku pasti bisa menaklukkanmu. " gerutunya sebal.
...----------------...
Andreas keluar dari dalam butik, gedung itu terasa engap baginya. Ucapan Stevia seolah menjadi tantangan baginya. Apakah dirinya yang akan jatuh dan bertekuk lutut dihadapan wanita yang selalu ia tolak dan ia rendahkan dimasa lalu? Ataukah ia mampu terlepas dari jeratan yang seolah membelenggunya saat ini?
__ADS_1
Stevia seolah menjadi bayangan menyeramkan dari masa lalu yang menghantui dirinya di masa sekarang. Ia ingat terakhir kali bertemu dulu wanita itu begitu membencinya. Mana mungkin jika tiba-tiba sekarang Stevia kembali justru membawa sejuta cinta untuknya.
" Lebih baik kutinggalkan saja dia disini. " gumamnya kesal.
Ia berniat menuju parkiran, tapi alangkah terkejut dirinya saat tanpa diduga-duga Cecile pun berada disana. Wanita itu nampak memendam setumpuk amarah padanya.
" Jadi ini buah dari penantianku selama bertahun-tahun? Kau jahat, Andreas. Bisa-bisanya kau tetap menikah dengan wanita itu. Jadi selama ini kau hanya mempermainkanku?! " Bentak Cecile dengan berlinang airmata.
Andreas segera mendekati kekasihnya.
" Dengarkan penjelasanku dulu, Sayang. Ini benar-benar di luar dugaan. Papa dan Mama bahkan telah menyebar undangan dan menentukan hari pernikahanku. Ini semua bukan mauku, aku hanya mencintaimu, Cecile. " Andreas memeluk erat Cecile yang mencoba berontak darinya.
" Aku berjanji akan segera menceraikan si Culun dan akan langsung menikahimu. Aku tak peduli meski Mama dan Papa menentang hubungan kita. " Andreas berusaha meyakinkannya.
Cecile mencoba melepaskan pelukan Andreas, wanita itu mengharap ketegasan dari Andreas.
" Aku tidak mau. Jika kau benar-benar mencintaiku, maka sekarang kau batalkan pernikahanmu. Kita kabur dari kota ini. " pinta Cecile.
Andreas kebingungan, namun dirinya juga tidak mengharapkan pernikahan ini. Tanpa pikir panjang, pemuda itu mengiyakan ajakan kekasihnya.
Cecile begitu senang, ia menggandeng Andreas dan berniat mengajak lelaki itu pergi dari sana. Namun, langkahnya terasa berat saat menyadari seseorang menahan tangan Andreas yang lainnya.
" Kau? " Cecile begitu terkejut saat Stevia berada dibelakang mereka.
" Kau tidak bisa membawanya pergi. Andreas akan menikah denganku! " tegas Stevia mempererat genggamannya pada Andreas.
Andreas berusaha melepaskan genggaman tangan Stevia, kali ini ia ingin mengikuti kata hatinya. Dia ingin hidup bahagia dengan kekasihnya.
" Lepaskan ! " dalam sekali hentakan, tangan Stevia berhasil terlepas darinya.
Andreas dan Cecile kembali melangkah, tapi sekali lagi Stevia berusaha menahannya.
" Silahkan saja pergi dan batalkan pernikahan kita, Andreas. Tapi ingat, Papamu memiliki sakit jantung dan bukan tidak mungkin beliau akan semakin terpuruk saat putranya berani mencoreng nama baik keluarga dengan lari bersama wanita lain. " ancam Stevia.
Seketika Andreas menghentikan langkahnya, amarahnya serasa diubun-ubun. Pria itu melepaskan genggaman Cecile, tangannya mengepal dengan begitu erat.
Andreas berbalik, ia mendekat ke arah Stevia dengan sorot mata penuh kemarahan.
" Kau, benar-benar keterlaluan!!" ingin rasanya ia menonjok wanita di depannya. Akan tetapi, Stevia memang menang darinya. Ia tak bisa mengabaikan begitu saja kehormatan keluarganya.
Stevia tersenyum penuh kemenangan, ucapannya barusan ternyata berhasil mengubah haluan Andreas.
" Ingatlah, kau tak kan pernah bisa memilikinya. " ejek Stevia meninggalkan Cecile seorang diri.
Cecile begitu kesal, ini kali kedua dirinya kalah dari Stevia.
" Dasar wanita murahan ! Aku pasti akan merebut Andreas darimu. " tekadnya dalam hati.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like.koment, rate lima n vote seikhlasnya untuk karya terbaruku ya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1