
Ririn sedang sibuk menyiapkan beberapa berkas untuk meeting. Rencananya Tomy akan mengadakan pertemuan dengan salah satu klien yang ingin menggunakan jasa perusahaannya untuk produk pakaian sport milik mereka.
Tok..Tok..Tok..
" Masuk. "
" Nona, maaf ini tadi ada yang mengirimkan undangan untuk anda."
Seorang cleaning servis meletakkan sebuah undangan diatas mejanya, lalu keluar meninggalkan ruang kerjanya.
" Undangan siapa ini, mewah sekali. " gumam Ririn sambil membolak-balik undangan di tangannya.
Perlahan ia membuka undangan tersebut, alangkah terkejut dirinya saat tahu bahwa undangan itu berasal dari Stevia. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah nama calon pengantin prianya.
" Tidak. Ini mungkin hanya kebetulan namanya saja yang sama. " ia masih belum bisa mempercayainya.
Dirinya tak menyangka Stevia akan menikah secara mendadak seperti ini. Setahu dia, sahabatnya itu masih jomblo dan belum berniat menjalin ikatan serius dengan lawan jenis.
" Ya Tuhan?! Apa Pak Tomy juga mendapat undangan dari Stevia? Aku yakin dia pasti akan kecewa sekali mendengarnya. " Kini dirinya justru iba terhadap atasannya.
" Rin, kenapa lama sekali? Sebentar lagi meeting dimulai, aku sudah menunggu berkas-berkas yang akan dipresentasikan. " protes Tomy nyelonong tanpa permisi masuk ke ruangan sekertarisnya.
Ririn terkesiap melihat kehadiran Tomy diruangannya. Buru-buru ia ingin menyembunyikan undangan tersebut, tapi dengan cepat Tomy merebut undangan itu dari tangannnya.
" Wah, undangan ini mewah sekali. Dari siapa? Tak kusangka kenalanmu orang-orang berduit juga ya. " ledek Tomy pada asistennya.
" Itu..eh..itu.."
Tomy merasa aneh dengan gelagat Ririn, ia semakin penasaran dengan pengirim undangan tersebut. Dirinya memilih langsung membuka undangan itu sendiri dari pada harus menunggu Ririn yang terkesan bertele-tele.
Netranya membelalak seketika melihat nama pasangan pengantin yang tertera disana. Tomy langsung meremas undangan itu hingga tak berbentuk lagi. Dadanya terasa sesak saat membaca undangan tersebut.
Ririn begitu cemas melihat wajah Tomy yang telah merah padam memendam amarah. Seketika Tomy langsung pergi dari sana dan berniat ingin membuat perhitungan dengan Andreas. Ia tak habis pikir, ternyata sahabatnya sendiri tega menikung dari belakang.
Dengan cepat Ririn mengejar atasannya, ia takut Tomy kalap karena emosi. Gadis itu menghadang Tomy dan menghalangi jalannya.
" Pak..Pak Tomy jangan emosi dulu. Aku masih belum tahu undangan itu asli ataukah hanya orang usil saja. Lagi pula nama Andreas Dirgantara juga pasaran, siapa tahu itu hanya kesamaan nama saja. Tolong Pak Tomy tenangkan diri dulu. Sebentar lagi kita akan melakukan meeting. " nasehat Ririn panjang lebar kali tinggi.
__ADS_1
Tomy terdiam, ia berusaha mencerna omongan Ririn. Tapi kini dirinya justru semakin menjadi-jadi. Ia tahu bahwa itu benar Andreas sahabatnya, lataran disana tertera nama Pak Wildan dan Bu Renata sebagai orang tua mempelai.
Ia jadi teringat kejadian kemarin saat berkunjung di apartemen Andreas. Yah, ia baru sadar, pantas saja dirinya seperti tidak asing dengan sepatu wanita yang ada dibalik korden. Ia ingat malam itu Stevia memakai sepatu heels yang senada dengan pakaiannya.
" Andreas, kau benar-benar pengkhianat !!" Tomy justru semakin berapi-api, rasanya ia tak sabar untuk membuat perhitungan dengan Andreas.
Pria itu semakin maju dan tak mau mempedulikan Ririn kembali.
" Pak saya mohon. Meeting hari ini sangat penting. Pak Faizal adalah orang yang sangat otoriter dan disiplin. Jika Pak Tomy meninggalkannya sekarang, saya takut beliau akan kecewa dengan kinerja kita. " nasehat Ririn bersungguh-sungguh.
Tomy tak menjawab, ini memang keputusan berat. Akan tetapi, Stevia juga adalah sesuatu yang sangat berharga baginya. Ia masih tak rela jika sahabatnya itu mengambil Stevia darinya. Padahal selama ini Andreas seolah tak tertarik dengan wanita itu sama sekali.
Ia memaksa untuk terus maju, sedangkan Ririn cukup gigih menahannya.
" Minggir, Rin."
Gadis itu menggelengkan kepala, ia tetap kukuh pada pendiriannya.
" Baiklah jika kau memaksa. "
Degh..Degh..Degh...
Jantung Ririn berdetak tak karuan saat tubuhnya berhimpitan dengan Tomy. Aroma maskulin yang menguar dari balik jas pria tampan itu benar-benar membuatnya merasa nyaman.
" Ririn lepaskan. Jangan sampai ada karyawan lain yang melihat kita. " guman Tomy berbisik di samping telinga Ririn. Pria itupun merasakan sesuatu yang aneh saat badan Ririn menempel erat dibadannya.
Gadis itupun akhirnya kembali dari alam sadarnya. Dirinya sungguh malu, bisa-bisanya ia memeluk pria yang bukan siapa-siapanya.
" Ya Tuhan, Ririn. Sepertinya besok kau harus membawa topeng saat bekerja. Memalukan sekali. " rutuknya dalam hati.
" Ma-af Pak. " ucapnya setengah takut dan tegang.
Saat hendak mundur, tiba-tiba kakinya malah tergelincir. Spontan saja gadis itu menarik dasi Tomy saat hendak terjatuh.Tomy sendiri begitu terkejut saat lehernya hampir tercecik akibat dasinya yang tertarik. Keduanyapun akhirnya terjatuh secara bersamaan.
Keduanya sama-sama menelan salivanya, posisi mereka sungguh diluar dugaan saat ini. Tomy tanpa sengaja mencium bagian tengkuk leher Ririn akibat dasinya yang tertarik cukup kencang.
Sedangkan Ririn, tubuhnya meremang seketika saat nafas Tomy seolah menjelajah area tengkuk lehernya. Seumur-umur baru kali ini ia merasakan dicium, apalagi ini dicium di salah satu bagian berbahaya baginya.
__ADS_1
Ririn buru-buru ingin bangun, namun saat berusaha mengangkat tubuhnya, secara reflek kakinyapun ikut terangkat salah satu dan kini justru menendang sesuatu paling berharga milik Tomy.
Aaaarrggghhh...
Tomy mengerang lantaran senjata pamungkasnya terasa begitu nyeri. Tubuh yang awalnya akan bangun, kini justru semakin kencang menindih Ririn. Ririn bisa merasakan sesuatu yang aneh dibawah sana, terasa panjang dan kencang, entah apa itu namanya. Ia mengerti, tapi belum pernah merasakannya.
Buru-buru ia mendorong tubuh Tomy agar tidak terjadi sesuatu yang lebih membahayakan.
Gadis itu segera bangun, merapikan pakaian dan berkali-kali membungkuk hormat pada atasannya.
" Maaf Pak. Saya benar-benar tidak sengaja. Tolong ampuni kesalahan saya. " ucapnya tanpa berani mengangkat wajahnya. Ia malu setengah mati kali ini.
Tomy berjongkok, ia mendesis merasakan bagian intinya yang masih terasa nyeri. Perlahan ia berbalik ingin kembali keruangannya.
Ririn heran, bukankah tadi atasannya begitu menggebu-gebu ingin membuat perhitungan dengan Pak Andreas?
" Pak -Tomi tidak jadi pergi? " tanyanya ragu.
Tanpa berbalik, Tomy menjawab hanya dengan mengangkat salah satu tangannya.
" Jika nanti Pak Faisal datang, suruh dia menungguku lima belas menit lagi. " ucapnya tanpa menoleh.
" Baik, Pak. "
Ririn mengamati pria itu hingga masuk ke dalam ruangan. Gadis itu mengelus dada, kejadian tadi sungguh tak pernah ia sangka-sangka.
" Astaga. Apa itu yang dinamakan ular tanpa bisa? Bisa menggigit tapi enaknya sungguh luar biasa. Uupss. " Ririn menutup mulutnya sendiri menyadari otaknya sempat travelling kemana-mana.
Tomy gemes dech gara-gara kejadian barusan
Ririn malu banget pasti tuh
Bersambung....
__ADS_1