
Stevia melepaskan genggaman tangan Tomy saat tiba dilorong rumah sakit. Ia merasa apa yang telah dilakukan bukanlah hal yang sepatutnya. Suka tidak suka biar bagaimanapun Andreas adalah suami yang dirinya harus setia dalam segala keadaan.
Tomy terkejut saat wanita itu berlepas diri darinya. Ia berbalik dan menatap penuh tanya pada Stevia. Stevia langsung memotong sebelum Tomy bertanya kepadanya.
" Aku harus kembali. Tidak seharusnya aku pergi bersamamu. " tegasnya pada Tomy.
Tomy terperangah tak percaya, setelah apa yang dilakukan Andreas dan Cecile, Stevia masih saja ingin bertahan disisi pria tersebut.
" Apa kau tidak lihat tadi, bagaimana mereka memperlakukanmu? Aku tidak rela jika kau disakiti seperti itu! " sanggah Tomy tak terima.
" Tapi, itu bukan urusanmu. Ini adalah masalah pribadiku dan keluargaku. Aku sangat berterima kasih karena kau telah tulus membantuku. Tapi batasanmu hanya sampai disini. " tegas Stevia sekali lagi. Wanita itupun berniat untuk kembali ke ruangan Andreas.
Tomy benar-benar tak percaya, Sebegitu besar pembelaan Stevia terhadap suami yang telah menyia-nyiakannya. Bahkan ia, dirinya yang memiliki cinta yang besar untuk Stevia, seolah tak berarti untuk wanita tersebut.
" Tunggu! "
Ucapan Tomy berhasil menghentikan langkah Stevia.
" Apa kau mencintai Andreas? "
Pertanyaan tersebut sontak membuat Stevia tercengang. Baru kali ini ada yang menanyakan tentang perasaannya pada Andreas. Bahkan dirinya sendiripun seolah lupa untuk menanyakan hal itu pada hatinya.
Tomy sendiri sebenarnya berat untuk menanyakan hal tersebut. Dirinya tentu tidak siap jika Stevia benar-benar menyukai Andreas. Akan tetapi, jika itu memanglah benar. Iapun tidak bisa memaksakan cintanya begitu saja pada Stevia.
Stevia terdiam, sangat sulit baginya untuk menjawab pertanyaan itu. Sedari dulu, ingin sekali dirinya bisa membenci Andreas. Bahkan, ia sempat mengeluh pada Tuhan kenapa dirinya harus mencintai pria yang selalu saja bersikap buruk padanya.
Wanita itu membuang nafas kasar, ia kembali berbalik dan menatap tegas kepada Tomy.
" Maaf. Itu bukan urusan anda. "
Wanita itu kembali melenggang menuju kamar Andreas. Rasa sakit ditubuhnya seolah terpupuk kembali oleh keteguhan hatinya.
Tomy mematung di tempatnya. Kesal? Tentu saja. Stevia seolah tak memberinya celah untuk masuk kedalam hati wanita itu.
" Aaarrghhhh..."
__ADS_1
Tomy mengusap kasar rambutnya, ia menatap seluit Stevia hingga menghilang dibalik lorong.
" Aku tak akan pernah menyerah begitu saja." tekadnya menggebu-gebu.
****
Diruang Andreas suasana menjadi tegang setelah kepergian Stevia.
Pak Wildan benar-benar tak habis pikir, putranya itu sangatlah keterlaluan. Bisa-bisanya Andreas membiarkan istrinya yang sedang sakit pergi begitu saja dengan pria lain. Apalagi Andreas berani bermesra-mesraan bersama Cecile di depan mereka semua.
Stefan menyeringai senang, saat seperti inilah yang ia inginkan. Terjadinya perpecahan antara ayah dan anak. Ia berharap setelah ini Pak Wildan bisa berpikir dua kali untuk menyerahkan perusahaan ke tangan Andreas.
Tubuh Ririn seolah membeku diantara dua kutub yang saling bersimpangan. Ia merutuki Tomy dan juga Stevia yang pergi begitu saja meninggalkan dirinya disana.
Pak Wildan menatap tajam kepada putranya,
" Papa benar-benar kecewa padamu. Suami macam apa yang berani bermesraan dengan wanita lain di depan istrinya sendiri. Papa sangat malu dengan Pak Aldo, sepertinya Papa salah telah menjodohkanmu dengan putrinya. "
Hati Andreas tercubit ketika seolah dirinya dianggap suami yang tidak pantas untuk Stevia.
Ucapan Andreas berhasil membuat amarah Pak Wildan membucah.
" Diam kau Andreas! Stevia bukanlah wanita seperti yang kau katakan. Papa memang sengaja ingin membantunya melunasi hutang-hutang keluarganya. Selama ini dia bekerja keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Papa sangat bangga padanya dan apa Papa salah jika Papa ingin putraku menikah dengan wanita baik-baik? " kecam Pak Wildan.
Cecile ikut angkat bicara, dirinya merasa saat seperti inilah yang tepat untuk membuat Andreas berpihak kepadanya. Ia memberanikan diri menggenggam tangan Andreas sebagai bentuk ikatan cinta diantara keduanya.
" Paman? Bukankah Paman tahu selama bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan Andreas? Kami saling mencintai, kenapa Paman justru menikahkan Andreas dengan wanita lain? Apa salah Cicile sehingga Paman tak mau menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian?" wanita itu mengeluarkan uneg-uneg yang selama ini mengganjal dihatinya.
Andreas terkesiap, ia tak menyangka Cecile berani menanyakan hal itu dihadapan Papanya. Bu Renata kini yang memasang badan demi membela suaminya.
" Ya, kami memang tidak merestui hubungan kalian. Apa kau pikir kami tidak tahu, kerjamu hanya mengajak putraku berfoya-foya dan menghabiskan uangnya. Kau justru membawa pengaruh buruk bagi Andreas. Kalau bukan Andreas yang meminta, Stefanpun tidak akan mau menerimamu menjadi sekertarisnya." sanggah Bu Renata kesal.
Cecile terperanjat, ia tak menyangka Bu Renata tega menghinanya di depan orang banyak. Dalam hati ia ingin sekali mengumpat dan memaki wanita tua itu.
" Terserah Bibi mau bicara apa! Yang jelas aku dan Andreas tidak akan pernah bisa dipisahkan. Kami saling mencintai dan Andreas pasti akan meninggalkan wanita itu demi aku. Bukankah begitu Andreas? " ia menatap Andreas, berharap pria itu mau membelanya.
__ADS_1
Namun, mereka semua terkejut saat Andreas memegangi kepalanya sambil merintih kesakitan. Yah, perdebatan ini sukses membuat pria itu merasa kepalanya hampir pecah. Pak Wildan dan Bu Renata ikut panik, mereka mendekati ranjang Andreas.
" Aarrrghhh...."
Kepala Andreas berdenyut kencang, dirinya merasakan nyeri yang luar biasa.
Cecile begitu gugup dan cemas melihat wajah Andreas yang memucat, ia memeluk pria itu dan mendekatkan kepala Andreas disisinya.
" Andreas kau tidak apa-apa? Lihat Paman, Bibi?! Ini semua gara-gara kalian yang terlalu egois dan memaksakan kehendak! " bentaknya pada kedua orang tua Andreas.
" Cukup Cecile, hentikan. " pinta Andreas dengan suara melemah. Ia ingin menarik diri dari wanita itu, namun tubuhnya seakan tak berdaya.
Pak Wildan dan Bu Renata diliputi rasa bersalah, mereka lupa jika saat ini kondisi Andreas masih lemah. Bagaimanapun mereka tak ingin terjadi hal yang buruk terhadap putranya.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, semua terperangah menyaksikan kedatangan Stevia. Raut wajah Stevia berubah panik saat melihat wajah Andreas yang pucat dan seperti menahan rasa sakit.
Ia segera mendekati lelaki itu dan menarik Cecile menjauh dari suaminya. Wanita itu duduk sambil memeluk Andreas menyandarkan kepala sang suami didadanya.
Cecile tak terima, ia berniat menyingkirkan Stevia dari Andreas. Saat Cecile mendekat, Stevia langsung memberi ketegasan padanya.
" Bagaimanapun aku adalah istri sah dari Andreas. Kau tidak berhak untuk mendekatinya apapun yang terjadi. Silahkan pergi dari sini atau ku panggilkan satpam untuk mengusirmu dari sini. "
Cecile menghentikan langkahnya, saat ini posisinya memang lemah. Apalagi dilihat dari kondisi, Andreaspun tak akan bisa membelanya. Dengan wajah kesal, wanita itupun akhirnya meninggalkan ruangan Andreas.
Stevia mendesah, ia sedikit lega karena mampu mengendalikan keadaan. Dengan segera ia meminta Ririn untuk memanggil Dokter supaya memeriksa kembali keadaan suaminya.
Andreas semakin melemah, pria itu hampir kehilangan kesadarannya. Namun, dirinya sempat membisikkan sesuatu di telinga Stevia.
" Maafkan aku. "
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1