
Perusahaan Dirgantara Gruop kini sedang kisruh akibat desas desus yang beredar diperusahaan. Stefan dan beberapa staff yang memihak padanya berhasil mempengaruhi para karyawan.
Mereka membicarakan masalah kerja Andreas yang kurang kompeten hingga kesalahannya lantaran tak mampu memilih perusahaan yang tepat untuk menjalankan proyek mereka ke depannya. Bahkan, dirinya mencoba membuat para investor yang tadinya menanamkan saham ke perusahaan untuk mencabut saham mereka dari sana.
Berita itu juga telah sampai ditelinga Stevia. Telinga Stevia sampai panas rasanya mendengar gosip murahan seperti itu. Dirinya ingin bertanya pada Andreas, namun ia takut masalah ini akan semakin menggangu kinerja suaminya.
Tok...Tok...Tok..
Raihan segera memasuki ruangan atasannya,
" Vie? Apa kau juga sudah mendengar berita yang menjelek-jelekkan suamimu di kantor? Ini sangat berbahaya Vie. Jika ini dibiarkan terus menerus, mungkin Pak Andreas bisa kehilangan jabatannya saat rapat direksi nanti." terang Raihan ikut cemas.
Stevia menghembuskan nafas kasar, rasanya ia jengah memikirkan hal ini.
" Ya. Akupun sudah mendengarnya. Aku yakin tidak akan ada asap bila tidak ada api. Rasanya aku muak harus bersikap manis didepan kak Stefan. Lelaki itu selalu saja ingin menjatuhkan suamiku. " curhatnya pada Raihan.
Raihan teringat akan berkas yang ia berikan pada Stevia beberapa waktu yang lalu. Berkas itu berisi kecurangan Stefan yang telah memanipulasi beberapa data keuangan perusahaan selama ini.
" Memangnya apa kau lupa menyerahkan berkas-berkas kecurangan Stefan waktu itu pada suamimu?" tanyanya kembali.
" Aku sudah menyerahkannya, tapi entahlah. Aku belum mendengar respon Andreas mengenai hal itu. " sahut Stevia pasrah.
Raihan melihat raut kekecewaan di wajah Stevia.
" Ya sudah. Kita pasrahkan semua pada Pak Andreas. Semoga dia bisa mengambil keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah ini. " Raihan menenangkan.
****
Andreas tengah sibuk berkutat di depan layar laptopnya. Secara diam-diam, Pak Bagas telah mengirimkan rekaman CCTV khusus yang telah ditanam oleh ahli IT kepercayaannya.
Yah, sewaktu kejadian itu berlangsung, seluruh CCTV yang ada disana telah dirusak. Sepertinya pelaku ingin menghilangkan jejaknya. Untung saja Greenfield telah menanam CCTV tersembunyi yang hanya diketahui oleh pimpinan dan orang kepercayaan perusahaan tersebut.
Andreas mengamati baik-baik siapa saja yang berlalu lalang disana sebelum kejadian tersebut berlangsung. Netranya membola sempurna saat melihat mobil Stefan memasuki kawasan proyek.
" Kak Stefan? Untuk apa dia kesana?" Andreas kembali menyaksikan video tersebut lebih jeli, ia mulai memperlambat mode rekaman.
__ADS_1
Disana terlihat Stefan sedang mengobrol dengan beberapa orang pegawai proyek. Mereka satu persatu pergi, lalu berkumpul kembali dan mulai menaiki bangunan setengah jadi tersebut.
Andreas semakin dikejutkan ketika mereka telah tiba di lantai atas. Ia tak menemukan sosok sang kakak, tapi justru kini si peneror misterius yang bergabung ditengah-tengah mereka.
" Kemana Kak Stefan? Apa mungkin benar jika dia adalah..."
" Tidak..Tidak. Ini pasti tidak mungkin. "
Andreas masih belum ingin mempercayai pikiran buruknya. Mungkin saja Stefan memang tidak ikut serta kesana. Atau mungkin kakaknya langsung pergi setelah itu.
Selama ini dirinya dan Stefan sangatlah dekat. Hanya saja semenjak kakaknya disibukkan oleh pekerjaan, keduanya jadi jarang bertemu. Ia sangat menghormati dan menganggap Stefan seperti kakaknya sendiri, meskipun Stefan hanyalah anak angkat keluarga Dirgantara.
Sesaat pria itu kembali mengingat masa lalunya dengan sang kakak. Mereka sering bersama, saling berbagi mainan dan makanan. Namun, Stefan selalu menjauh jika dirinya sedang bercengkrama dengan Mama dan Papanya.
Hingga sebuah panggilan telepon berhasil membuyarkan segala angan-angannya. Terdengar suara Pak Bagas dari balik telepon,
" Maaf Pak Andreas, saya telah berhasil meringkus beberapa pegawai proyek yang ikut terlibat dalam insiden kemarin."
Andreas bernafas lega, ia penasaran siapa dalang dibalik kejadian waktu itu.
" Mereka mengatakan bahwa mereka telah dibayar oleh Pak Stefan untuk membantunya dalam usaha pembunuhan terhadap anda."
Ucapan Pak Bagas bagaikan petir yang menyambar di hati Andreas. Ternyata pikiran buruknya memang benar adanya. Stefanlah dalang dibalik semua peristiwa percobaan pembunuhan yang selama ini terjadi padanya.
Andreas mengusap kasar wajahnya, hatinya terlalu sakit saat tahu orang yang begitu ia sayang dan hormati justru tega menusuknya dari belakang.
" Ya Tuhan,, Bagaimana ini? Bagaimana perasaan Mama dan Papa jika mereka tahu bahwa kakakku sendiri yang telah berusaha untuk membunuhku selama ini? " batinnya bergejolak.
Andreas bangkit dari kursi kerjanya, ia mencari-cari dokumen yang istrinya berikan waktu itu. Berkali-kali ia memeriksa rak penyimpanan dokumen, namun hasilnya nihil.
" Dimana dokumen itu? Perasaan aku menyimpannya disini waktu itu. " gerutunya sembari terus mencari file tersebut barangkali tercampur dengan file lainnya.
" Aarrrghhh..Bagaimanamungkin bisa tidak ada! Aku harus menanyakannya kembali kepada Stevia. " pria itu bangkit dan menuju ke ruangan istrinya .
...**********...
__ADS_1
Andreas memasuki ruangan sang istri, wanita itu nampak sedang fokus memeriksa beberapa pembukuan. Senyumnya mengembang sempurna saat menyadari kehadiran sang suami.
" Andreas? Tumben kau kesini? " sapanya saat pria itu duduk berhadapan dengannya.
" Vie, maafkan aku. Dokumen yang kau berikan padaku waktu itu hilang. Aku sudah mencarinya ke seluruh penjuru ruangan, tapi aku sama sekali tak menemukannya. " sesalnya.
Stevia begitu terperanjat,
" Apa? Kau menghilangkannya? Bagaimana bisa? Oh Andreas, jika saja kau tahu betapa pentingnya dokumen itu. " keluhnya kesal.
Andreaspun nampak bersalah, tetapi dirinya ingat jika dokumen tersebut memang telah ia simpan.
" Memangnya, apa sebenarnya isi dari dokumen itu? Kenapa sepertinya begitu penting sekali?" tanyanya penasaran.
Stevia mendesah pelan,
" Sayang, file itu berisi tentang laporan keuangan yang telah dimanipulasi, juga beberapa tanda tangan Papa yang telah dipalsukan.
" Maaf, tapi aku curiga jika kakakmu adalah dalang dibalik semua ini. Selama ini seluruh laporan keuangan harus diserahkan kepadanya terlebih dahulu sebelum dikirim ke Papa Wildan. Aku sengaja ingin kau membacanya sendiri agar kau bisa memberikan kesimpulanmu. " terangnya pada Andreas.
Pria itu membuang nafas kasar, lagi-lagi dirinya harus mendengar keburukan dari sang kakak.
" Ya sudah. Aku kembali keruanganku dulu. Akan ku cari lagi, siapa tahu dokumen itu terselip diantara file-file lainnya. " Andreaspun berpamitan keluar dari ruangan istrinya.
......................
Stefan tengah duduk bersantai diruangannya. Pria itu tengah merasa diatas angin saat ini. Yah, dirinya telah berhasil menjatuhkan nama Andreas di perusahaan. Dan satu lagi, ia telah berhasil mengambil dokumen yang telah Stevia berikan waktu itu pada Andreas.
Sejak kedatangan Stevia keruangan Andreas, ia telah mencium gelagat aneh dari wanita itu. Stevia terkesan seolah menyembunyikan sesuatu darinya. Untung saja waktu itu Andreas tengah disibukkan oleh setumpuk pekerjaannya. Disaat ada kesempatan, iapun berhasil mencuri dokumen itu dari tangan adiknya.
" Saat rapat direksi nanti, akan kupastikan Andreas kehilangan jabatannya. Papa dan Mama pasti akan semakin kecewa padanya. Dan Cecile, dia pasti akan kembali ke pelukanku." tekadnya
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1
...-------------...