
Ririn segera melepaskan tangannya dari genggaman Alan saat melihat kehadiran Tomy, Andreas dan Stevia. Entah mengapa dirinya merasa bersalah ketika Tomy menatap dingin padanya.
Alanpun terkesiap, tetapi dirinya mencoba untuk mengerti. Mungkin, Ririn masih malu atau sungkan saat dirinya menggandeng gadis tersebut di depan orang lain.
Akan tetapi, Alan merasa kurang nyaman dengan tatapan dingin yang Tomy lemparkan kepadanya. Hatinya berkata, pria itu seolah cemburu melihat kedekatan dirinya bersama Ririn.
Dan anehnya, Ririnpun terlihat sangat gugup ketika menyadari kehadiran Tomy dan para sahabatnya barusan.
" Ba-gai mana kalian bisa tahu alamat rumahku disini?" tanya gadis itu gugup.
Tomy terdiam dan tak menanggapi ucapannya. Pria itu mengalihkan pandangannya, hatinya terasa gerah menyaksikan gadis itu bergandengan dengan pria lain. Memang, sebelumnya ia tak pernah melihat Ririn dekat dengan pria manapun.
Menyadari hal itu, Stevia segera menjawab pertanyaan sahabatnya untuk mencairkan suasana.
" Tentu saja kami tahu. Bukankah Tomy masih menyimpan data karyawannya di kantor. Kau tega sekali, waktu itu kau bilang akan mengundang kami di pernikahanmu. Tapi, nomormu malah sulit dihubungi." ungkap Stevia seolah berpura-pura kesal.
Ririn nampak kebingungan, mana mungkin dirinya mengatakan bahwa ia sengaja mengganti nomor untuk menghindar dari Tomy.
__ADS_1
" Oh iya. Disini memang sinyalnya sedikit sulit. Kebetulan nomor lamaku terblokir, jadi aku menggantinya dengan yang baru. Mari, kita masuk dulu kedalam. "
Ririn rasa itu jawaban paling tepat agar tak memperpanjang masalah. Wanita tersebut balik bertanya pada pria yang berada disampingnya.
" Alan? Bolehkah aku membatalkan jalan-jalan kita sore ini? Mereka sudah jauh-jauh datang dari Jakarta, aku tidak enak meninggalkannya sendiri. " lanjutnya bertanya pada Alan.
Sebenarnya Alan merasa kecewa, sebab rencananya ia ingin mengajak Ririn dinner romantis di tepi pantai dan menyatakan cintanya di hadapan khalayak yang ada disana. Namun, apa boleh buat. Dirinyapun tak mungkin memaksakan kehendak disaat seperti ini.
" Tentu saja. Kita bisa pergi lain hari. Ajaklah teman-temanmu untuk masuk kedalam. Mari silahkan. " ucap Alan ramah kepada tamu Ririn.
" Tom, ayolah. Kita masuk dulu kedalam." ajak Andreas lantaran sahabatnya tak bergeming dari tempatnya.
Dengan terpaksa, Tomy ikut menyusul kedua sahabatnya. Mereka disambut hangat oleh ibu dan adik-adik Ririn. Ririn memperkenalkan satu-persatu dari mereka, juga memperkenalkan Tomy sebagai atasannya.
Bu Dian merasakan sesuatu yang berbeda saat Ririn menyebutkan atasannya. Dari cara bicara dan tatapan putrinya, ia rasa Ririn memiliki ketertarikan sendiri pada pemuda tersebut.
Tomy memperhatikan sekitar, kediaman Ririn berukuran sederhana, tapi nampak bersih dan juga rapi. Iapun tak luput memperhatikan kelima adik Ririn yang sepertinya masih bersekolah. Pasti butuh biaya yang banyak untuk memenuhi kebutuhan mereka secara layak.
__ADS_1
Dirinya tak bisa membayangkan, gaji Ririn harus dibagi-bagi untuk biaya hidup dan mengontraknya dikota serta kebutuhan ibu dan adik-adiknya di kampung.
" Pak Tomy?! Terima kasih karena sudah mempekerjakan putri saya di perusahaan anda. Selama ini, Ririn adalah tulang punggung bagi keluarga kami. Ayahnya sudah meninggal lima tahun yang lalu. Beruntung setelah lulus kuliah, ia langsung diterima bekerja di kantor anda." ucap Bu Dian penuh suka cita.
Tomy tersenyum simpul, dalam hati ia bangga bahwa Ririn ternyata seorang gadis yang kuat. Ririn bahkan tak pernah mengeluh atau menceritakan beban hidupnya. Di mata Tomy selama ini Ririn tampak periang dan terlihat tanpa beban.
" Sama-sama, Bu. Itu semua juga berkat kemampuan Ririn sendiri. Dia karyawan yang sangat rajin dan pintar. Saya merasa sangat kehilangan saat dia berpamitan untuk pulang ke kampungnya."
Pandangan Ririn dan Tomy saling bertemu, keduanya sama-sama diselimuti oleh rasa rindu satu sama lain. Meskipun Ririn berusaha keras untuk melupakan Tomy, namun nyatanya ia justru tersiksa sendiri oleh kerinduannya.
Hati Alan begitu gelisah, dirinya diliputi rasa ketakutan akan kehilangan. Sebagai sesama laki-laki ia bisa membaca bahwa Tomy sepertinya menaruh hati pada Ririn.
Hari pernikahannya hanya tinggal tiga hari lagi. Ia tak ingin jika pernikahan yang sudah di depan mata akan kandas begitu saja.
" Semoga ini hanya perasaanku saja."
Bersambung...
__ADS_1