
Setelah pesta berakhir, Stevia dan Andreas kini kembali ke kediaman keluarga Dirgantara. Andreas menolak saat Pak Wildan berniat menyiapkan sebuah kamar hotel mewah untuk menginap mereka. Ia beralasan bahwa dirinya dan Stevia masih ingin mengenal lebih dekat dulu karena memang belum ada cinta diantara keduanya.
Pak Wildan memaklumi hal tersebut. Meskipun telah mengenal lama, Andreas dan Stevia baru dipertemukan kembali belakangan ini. Dan mereka punya hubungan yang kurang baik di masa lalu.
Beliau mempersilahkan keduanya untuk beristirahat dikamar lantaran pasti melelahkan menyambut ribuan tamu yang hadir barusan.
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, Andreas melangkah sembari menyeret koper pakaian milik Stevia. Ia meninggalkan koper Stevia begitu saja saat telah memasuki kamarnya.
Stevia mengerucutkan bibirnya, Andreas hanya bersikap baik ketika ada Pak Wildan dan Bu Renata, namun lelaki itu acuh jika mereka sedang berdua. Iapun menarik kopernya dan menyimpan disisi kamar, lalu duduk di sofa yang ada disana. Netranya berkeliling memperhatikan setiap sudut kamar Andreas.
Kamar berukuran sangat besar dan mewah dengan warna putih abu-abu mendominasi, terkesan cool untuk standar laki-laki.
Andreas hanya melirik sekilas, ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang untuk melepas penat sejenak. Rasanya sangat melelahkan bertemu dengan banyak orang dan yang paling berat adalah memakai topeng bahagia diwajahnya.
" Huh...untung semuanya sudah beres. Akhirnya aku bisa beristirahat dengan tenang. " gumamnya lega lalu mulai memejamkan mata.
Stevia duduk sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia heran melihat kelakuan Andreas. Dirinya risih memperhatikan pria itu masih memakai sepatu dan belum membersihkan diri, tapi malah tidur-tiduran diatas kasur.
Wanita itu berjalan mendekati Andreas, ia tak menyangka jika Andreas telah tertidur saat ini.
" Dasar ***** jorok! Bisa- bisanya dia tidur dalam keadaan seperti ini. " gerutunya seorang diri. Berusaha bersikap masa bodoh, tapi tangannya gemas jika melihat yang seperti ini.
Stevia perlahan melepas sepatu dan kaos kaki yang menempel di kaki Andreas. Pelan-pelan, ia naik keatas ranjang dan duduk disamping lelaki itu.
" Bahkan dasinya saja masih melilit dileher. " gerutunya sambil melongarkan dasi dan membuka kancing bagian atas kemeja tersebut.
Wanita itu tersenyum, ia memperhatikan pria tersebut lamat-lamat.
" Kau itu kalau tidur seperti ini sangat mirip baby kucing yang imut, tapi kalau kau bangun. Heh,, sudah mirip harimau ngamuk. Hauo...Huao.."
__ADS_1
Stevia memperagakan gaya harimau yang akan menerkam mangsanya. Ia cecikikan seorang diri membayangkan Andreas seperti itu. Habisnya dia kesal, tatapan Andreas kepadanya selalu saja sinis belum lagi mulutnya yang mengomel layaknya burung beo kurang makan.
" Hoooaaammm..."
Wanita itu mulai menguap kerena kantuk. Dirinya sendiri bahkan belum ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan membersihkan diri. Ternyata memang capek juga berdiri seharian, apalagi dengan gaun yang berat ditubuhnya.
Ia melihat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Pantas saja jika netranya sudah tidak bisa diajak kompromi sekarang. Iapun akhirnya tidur disamping Andreas sebab disana memang hanya ada satu ranjang king size yang pastinya cukup untuk mereka berdua.
Stevia membuat sekatan dari guling, iapun tak ingin dianggap wanita gampangan yang selalu agresif dengan lelaki.
" Yey,, aman. Andreas, awas jangan macam-macam ya. " ia berbicara sambil menunjuk-nunjuk hidung Andreas. Pria itu sedikit melakukan pergerakan, buru-buru Stevia berbaring dan berpura-pura tidur memunggungi lelaki itu. Pikirannya menerawang menelaah semua yang terjadi pada hidupnya.
" Ya Tuhan. Sebenci-bencinya aku pada Andreas, tapi kenapa hati ini selalu berpihak padanya? Dan kini Engkau telah mempersatukan kami berdua dalam ikatan pernikahan karena terpaksa. Takdir seolah mempermainkanku, saat aku hampir bangkit diriku kini kembali jatuh dikubangan yang sama. Apakah aku harus bersedih atau bahagia?"
Wanita itupun mulai memejamkan mata dan terbuai ke dalam mimpinya.
...----------------...
Semerbak aroma mawar membuat dirinya begitu nyaman dengan tidurnya. Andreas mengendus-endus sesuatu yang terasa wangi, lembut dan hangat. Ia semakin memajukan wajahnya dan mengeratkan pelukan pada guling yang terasa berbeda kali ini. Ia mengusap-usap dengan wajahnya sesuatu yang terasa lembut tersebut.
Stevia mengeliat merasakan sesuatu yang terasa merayap di dadanya. Lama-lama dirinya tak tahan dengan sensasi geli-geli yang ditimbulkan.
" Eeeuuuuh..." Stevia melenguh lantaran tak tahan.
Seketika netra Andreas terbuka lebar mendengar suara seseorang disampingnya.
" Wuuaaaaaa..." pria itu terperanjat saat menyadari wajahnya telah berada di dada atas Stevia yang polos dan tampak putih bersih. Wanita itu belum mengganti gaunnya semalam.
Keduanya sama-sama terkejut, Stevia segera menutupi bagian dadanya yang terbuka.
" Culun! Apa yang kau lakukan disini! " bentak Andreas kesal.
__ADS_1
" Ya tidurlah. Bukankah ini juga tempat tidurku. Kau saja yang sudah melewati pembatas kita. " Ia menunjuk guling yang ada diantara mereka.
Andreas menelan ludahnya kasar, memang sepertinya guling itu telah bergeser dan lebih condong dekat pada Stevia. Mungkin akibat pergerakannya semalam.
" Ya,, Mana kutahu kau juga tidur disini. Aku yang telah berada lebih dulu diranjang, kau saja yang kegenitan mendekatiku. " ucapnya berkilah.
Stevia mendengus kesal, Andreas sama sekali tak berubah dari dulu hingga sekarang. Pria menyebalkan yang selalu tak mau disalahkan dan maunya menang sendiri.
Tiba-tiba saja raut wajah Stevia berubah manis. Sekarang ia justru menggeser tubuhnya memepeti Andreas. Pria itu bergeser sedikit, namun lagi-lagi Stevia semakin memepetinya.
" Iya. Memangnya kenapa kalau aku yang mendekatimu? Aku adalah istrimu dan kita sudah sah melakukan apapun yang kita mau. Bagaimana Andreas? Sepertinya kau sangat nyaman berada disini. " ia membusungkan dada untuk menggoda suaminya.
Glek...
Andreas rasanya ingin ngiler melihat dada putih bersih mengkilap dan mulus seperti jalan tol. Jujur saja tadi dirinya memang sangat menikmati bahkan terbuai oleh secuil bagian tubuh Stevia tersebut.Namun, seketika dirinya tersadar akan janjinya pada Tomy.
" Jangan gila kau, Culun. Manamungkin aku tergoda olehmu. "
Andreas berlagak bergidik ngeri, buru-buru ia mundur berniat turun dari ranjangnya. Namun, karena konsentrasinya memudar, pria itu justru jatuh jungkir balik dari atas ranjangnya.
Tawa Stevia pecah melihat pria itu meringis kesakitan sambil memegangi pinggangnya. Andreas memilih untuk kekamar mandi saja dari pada harus dipermalukan oleh Stevia.
" Awas kau, culun. Aku pasti membalasmu. " ancamnya sebelum memasuki kamar mandi.
Stevia masih tertawa di tempatnya, pria itu ternyata bisa bersikap konyol jika sedang gugup seperti barusan.
" Ini baru permulaan Andreas. Kita lihat saja seberapa lama kau akan bertahan dengan kesombonganmu itu. " gumam Stevia masih betah melanjutkan tawanya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini . Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian adalah semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😊💖
__ADS_1