
Pagi-pagi sekali Dira dan Darren pergi ke rumah nek Iroh, sesuai dengan rencananya kemarin kalau mereka akan ke pasar dan menjual sayur sawi hijau yang sudah di panen kemarin.
Selain sawi hijau nek Iroh juga membawa sayuran yang lain yaitu tauge. Ketiganya berangkat menggunakan mobil pickup yang sudah terbiasa mengantar para pedagang atau para petani yang akan mengais rezeki.
Mereka sudah tiba di pasar dan langsung menuju lapak yang biasanya nek Iroh dagang. Darren yang tidak biasa dengan suasana pasar tradisional apa lagi jalan yang sedikit becek membuat Darren terus mengomel. Apalagi melewati pedagang ikan, Darren langsung menutupi hidungnya, karena bau anyir dari ikan.
"Bisa nggak sih, dagangnya di supermarket aja gitu," cetus Darren.
"Kalau di supermarket namanya bukan pasar!!" timpal Dira sembari mencibir Darren.
Tibalah ketiganya di lapaknya nek Iroh dan langsung saja sayuran yang di bawanya langsung di taruh di depan mereka.
Karena bingung mau ngapain, Darren berinisiatif berteriak untuk menarik para pembeli.
"Di beli... di beli... sayur sawi dan tauge," teriak Darren.
Para pembeli yang lewat, apalagi para emak-emak langsung mengerubungi Darren karena para emak-emak belum pernah melihat ada seorang bule berjualan di pasar.
"Saya mau beli sayur taugenya kang, apa lagi di taugein hati saya sama akang bule," seloroh pembeli emak-emak kepada Darren.
"Oh... tentu saja boleh. Beli berapa bungkus emak?"
"Dua bungkus saja, dan tolong satu lagi,*" ujar si emak-emak.
"Apaan emak?" tanya Darren.
"Tolong bungkusin hati kamu buat emak."
"Ih... si emak bisa saja," timpal Darren seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Kurang dari satu jam dagangan nek Iroh sudah habis terjual. Nek Iroh sangat senang karena untuk pertama kalinya, dagangannya cepat habis dan laris manis berkat bantuan Darren yang terus menarik para pembeli.
"Terima kasih nak Darren, sudah membantu nenek berjualan. Beruntungnya Dira memiliki kamu sebagai seorang suami."
"Ah... nenek bisa saja. Padahal ini belum seberapa," ujar Darren sombong.
"Sudah, ayo lebih baik kita langsung pulang," pungkas Dira yang kini sedang membereskan lapak nek Iroh.
***
Setelah mengantar nek Iroh pulan ke rumahnya. Dira dan Darren langsung pulang.
Saat tengah bercengkrama dengan Darren. Tiba-tiba Dira berpapasan dengan Andi, mantan Dira.
Andi berasal dari keluarga kaya di kampungnya Dira. Orang tua Andi tidak merestui hubungan Dira dan Andi, karena Dira bukanlah dari kalangan yang berada. Padahal Andi sangat mencintai Dira, tapi apalah daya Dira yang hanya seorang anak yatim-piatu dan juga bukan dari keluarga yang berada, membuat Dira memutuskan hubungannya dengan Andi.
Andi menatap sendu melihat Dira, yang kini sudah tidak bisa di milikinya lagi. Apalagi sekarang Dira sudah semakin jauh dari genggamannya.
"Iya kak...." sahut Dira.
"Apa kabar."
"Seperti yang kak Andi lihat."
Andi menahan rasa sesak di dadanya, dan berusaha terlihat baik.
"Habis dari mana?" tanya Andi sembari tersenyum hangat.
"Dari pasar, biasa membantu nek Iroh berjualan sayur. Kak Andi mau kemana?"
__ADS_1
"Mau...."
"Sayang, ternyata kamu disini. Aku mencari kamu di rumah kamu, tapi kata ibu kamu, kamunya lagi pergi." Ujar Siska calon tunangan Andi.
Andi tak menyahuti omongan Siska, kemudian Siska melingkarkan tangannya di lengan Andi dan bersandar di pundak Andi.
"Maaf, kami permisi dulu," pamit Dira dan langsung menggandeng tangan Darren. Darren hanya mengernyitkan dahinya melihat perubahan Dira, yang langsung diam sepanjang perjalanan menuju pulang.
"Apa dia mantan elo?"
"Siapa?"
"Cowok yang tadi lah...."
'Bukan!" jawab Dira cepat.
"Gue nggak percaya," timpal Darren.
Dira berhenti dan menatap Darren.
"Terus kalau memang benar dia mantan aku, emang kenapa?"
"Ya nggak kenapa-napa, gue kan cuma bertanya saja. Kenapa sih, sensi amat." Ujar Darren.
Dira langsung melanjutkan langkahnya cepat. " Lah... malah di tinggal lagi. Burik... tunggu!"
Darren mempercepat langkah kakinya, mensejajari langkah Dira.
Kenapa dada gue sesak ya... melihat Dira bertemu dengan mantan pacarnya. Mana mungkin gue suka sama si burik.
__ADS_1
Darren langsung menggandeng tangan Dira, sedangkan Dira menatap tangannya yang di gandeng oleh Darren.