Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Kelegaan


__ADS_3

"Tante ...." gumam Airin yang langsung menelan ludahnya gusar.


"Mami...." Lega Dira, karena dirinya tidak tersungkur ke lantai. Dira tidak bisa membayangkan jika dirinya benar-benar tersungkur ke lantai, membayangkannya saja membuat dirinya... cepat-cepat Dira menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan pikiran buruknya. Dengan segera Dira membuang nafas panjang karena kandungannya terselamatkan oleh mertuanya.


"Untung saja...." gumam Dira penuh kelegaan.


"Berani kamu ya menyakiti menantu saya!" pekik mami Yuli yang memandang Airin tajam. Sungguh mami Yuli sangat murka dengan kelakuan Airin yang ingin mencelakai menantunya itu, apalagi sang menantu tengah mengandung cucunya yang sangat di nanti olehnya.


Mami Yuli mendekati Airin dengan tatapannya yang menghunus tajam ke bola mata Airin.


PLAKK


Satu tamparan mami Yuli berikan. "Aww...." rintih Airin yang langsung merasakan rasa sakit di pipinya dan memegangi pipinya yang terkena tamparan keras. Airin meringis merasakan pipinya yang kini berkedut panas.


"Dan jangan harap kamu bisa mendapatkan anak saya. Jika kamu bersikukuh ingin merebut anak saya dari Dira, saya orang pertama yang akan mendepak kamu dari kehidupan rumah tangga anak saya. Camkan itu baik-baik!" Mami Yuli memperingati Aira dengan penuh emosi seraya mengacungkan jari telunjuknya di wajah Airin.


Airin mengeraskan rahangnya. Ancaman mami Yuli membuat hati Airin geram dan dirinya semakin bersikukuh mendapatkan Darren dan memiliki Darren seutuhnya.


Awas saja kau wanita tua. Jika aku berhasil mendapatkan anakmu, kamu orang kedua yang bakal aku depak dari hidup Darren. Jangan harap kamu bakal hidup tenang. Batin Airin.


"Ayo, Ra... kita pergi dari sini." Mami Yuli langsung menggandeng lengan Dira dan pergi dari hadapan Airin.


Airin menatap kedua punggung mami Yuli dan Dira dengan tatapan tajam dan mengetatkan rahangnya karena menahan emosi.


***

__ADS_1


Darren kembali ke tempat acara. Matanya mencari-cari sosok orang yang sangat di cintainya itu. Darren khawatir dengan Dira, setelah apa yang Oma Ros umumkan di depan para tamu yang hadir di acara ulang tahun perusahaan.


Darren takut kalau-kalau Dira pergi dari hidupnya. Sungguh dirinya tak akan sanggup kehilangan wanita yang sangat di cintainya itu.


Darren mengusap wajahnya, dan sekarang pikirannya kalut karena dirinya tak melihat sang istri di sana.


"Ra... kamu dimana?" cemas Darren karena tidak menemukan Dira.


Darren keluar dari tempat acara dan mencoba mencari ke toilet wanita dan berharap Dira ada di sana.


Darren mempercepat langkah kakinya menuju toilet dan saat akan berbelok, matanya menangkap sosok yang sejak tadi di carinya tengah berjalan berdua dengan maminya.


"Huft... ternyata sama mami," ucap Darren penuh kelegaan.


Sesegera mungkin langkahnya menuju dua wanita yang di cintainya itu.


Darren langsung memeluk Dira erat dan mengabaikan keberadaan sang mami di sampingnya.


Darren melerai pelukannya dan menangkubkan kedua tangannya di pipi Dira dan menatap lekat bola mata Dira.


"Maaf...." lirih Darren.


Deg


Maaf?! Apa maksud Darren dengan kata maaf. Apa Darren setuju bertunangan dengan wanita itu?

__ADS_1


Hati Dira bertanya-tanya dengan perkataan Darren yang berucap kata maaf. Jika benar Darren setuju bertunangan dengan wanita itu. Sumpah demi apapun, saat ini juga dirinya bakalan pergi meninggalkan Darren dan tak akan kembali dari hidup Darren. Begitu pikiran Dira saat ini.


"Seharusnya tadi aku nggak meninggalkan kamu di panggung." Jeda Darren berucap seraya menatap lekat bola mata sang istri. " Kamu tenang saja dan jangan berpikir yang macam-macam tentang perkataan Oma tadi. Aku nggak bakalan bertunangan dengan wanita pilihan Oma," sambung Darren lagi.


Senyum Dira terbit dan menarik tangan kanan Darren untuk membawanya ke bibirnya.


Di kecupnya punggung tangan Darren. " Terima kasih, karena kamu tidak menuruti keinginan Oma untuk di jodohkan dengan wanita itu," ucap Dira dengan kelegaan yang tadi sempat menyesakkan dadanya.


"Lebih baik kamu bawa istrimu pulang," seloroh mami Yuli sembari menepuk punggung Darren.


"Iya, mi. Ayo Ra kita pulang."


Dira mengangguk. "Mi... Dira pulang duluan." Pamitnya kepada sang mertua dan di balas anggukan kepala.


Darren langsung membimbing Dira meninggalkan mami Yuli yang masih berdiri menatap anak dan menantunya itu.


***


Setelah kepergian Darren. Tuan Bagaskara mengusap wajahnya. Dirinya sama kesalnya dengan perkataan Oma Ros yang bersikukuh menginginkan Darren tetap bertunangan dengan Airin.


"Bagas nggak akan membiarkan ibu merusak rumah tangga Darren," tukas tuan Bagaskara yang penuh kekecewaan terhadap ibunya.


"Ck... Apa yang ibu lakukan itu demi kebaikan Darren. Airin itu cocok dengan Darren yang sama-sama dari keluarga yang terpandang, tidak seperti si Dira yang berasal dari keluarga miskin. Ibu tuh nggak habis pikir dengan Darren? Bisa-bisanya memilih wanita dari kalangan yang tak sepadan dengan kita!" ketus Oma Ros.


Tuan Bagaskara menghentak nafas kasarnya. Sungguh ibunya itu sangat keras kepala.

__ADS_1


Aku harus bisa meluluhkan hati ibu yang sekeras batu. Karena aku tau seperti apa keluarga Airin.


__ADS_2