Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Klien wanita


__ADS_3

Semenjak hari itu, hubungan Dira dan Oma Ros menjadi membaik. Oma Ros memiliki semangat baru di dalam dirinya. Oma Ros juga sudah mulai terapi, ada rasa yang kuat untuk cepat sembuh dari stroke yang di deritanya karena Oma Ros ingin bisa menggendong cicitnya jika sudah lahir.


Di balik sakitnya Oma Ros ada hikmah di balik ini semua, yaitu Dira yang berhasil meluluhkan hati Oma Ros yang sekeras batu dan bahkan semakin dekat. Tatapan Oma Ros yang biasanya sinis kini berubah menatap Dira dengan tatapan yang teduh dan lembut.


Mami Yuli dan Tuan Bagaskara sangat bahagia karena sekarang Oma Ros sudah menerima Dira menjadi menantu di keluarga ini dan tidak lagi memandang Dira sebelah mata. Begitupun juga Darren yang turut bahagia melihat kedekatan Oma Ros dan Dira. Baginya Dira adalah sosok perempuan yang hebat, karena istrinya itu selalu bisa menaklukkan hati yang keras.


Siang ini Dira berencana pergi ke kantor Darren dengan membawa bekal untuk Darren. Dengan hati riang Dira mempersiapkan bekalnya yang sudah di susun di rantang. Selesai menyiapkan bekal, Dira berganti pakaian dan berdandan cantik.


"Mi... Oma... Dira berangkat dulu ya," pamit Dira seraya menyalami tangan mertuanya dan Oma Ros.


"Iya," jawab mami Yuli.


Oma Ros tersenyum saat Dira menyalami punggung tangannya. Seandainya tangannya bisa di gerakkan, Oma ingin sembari mengelus kepala Dira, pikir Oma. Tapi sayang seribu sayang itu hanya ada di angannya saja, lantaran Oma Ros belum bisa menggerakkan tangannya.


Dan sinilah sekarang Dira berdiri, di depan kantor sang suami. Sebelum melangkah masuk, Dira terlebih dahulu merapikan tampilannya.


"Selamat siang, ibu," sapa security.


"Siang juga, pak...."


"Woyo, Bu," tukas pak Woyo.


"Pak Woyo. Saya permisi dulu, pak," ujar Dira dengan senyum ramahnya.


"Iya silahkan, bu," kata pak Woyo seraya membungkukkan sedikit badannya.


Dira melangkah masuk ke dalam kantor. Dira sudah tiba di lantai atas dimana ruangan suaminya berada.


Dira sudah tiba di depan ruangan Darren. Lena, sekretaris Darren segera bangun dari duduknya saat mengetahui kalau istri sang bos tengah berdiri di depan pintu ruangan kerja Darren.


"Selamat siang, Bu Dira," sapa Lena.


"Siang juga, mbak. Suami saya ada di dalam?" Tanya Dira.


"Mohon maaf, Bu. Beliau masih ada meeting," jawab Lena.


"Kalau gitu saya menunggu di dalam saja," tukas Dira.

__ADS_1


"Iya, Bu...." Timpal Lena yang melangkah lebih dulu, hanya untuk membukakan pintu.


"Silahkan masuk, Bu." Lena mempersilahkan Dira masuk sembari membuka lebar pintunya.


"Iya, terima kasih mbak."


"Sama-sama, Bu."


Dira melangkah masuk ke dalam ruang kerja Darren dan Lena menutup pintunya. Dira melangkah menuju sofa dan meletakkan bekalnya di meja. Sembari menunggu Darren selesai meeting, Dira membaca majalah.


Cukup lama Dira menunggu Darren,membuat Dira di serang rasa ngantuk. Sudah berapa kali Dira menguap, karena ngantuk yang tidak bisa tertahan.


"Lebih baik aku cuci muka saja deh...." Gumam Dira seraya menutup mulutnya yang kembali menguap. Dira bangun dan bergegas ke toilet.


Darren selesai meeting, dan Darren keluar bersama klien wanita yang bernama Maira. Darren dan Maira beriringan menuju ruang kerjanya sembari membicarakan bisnis yang sedang keduanya jalani, sedangkan Rizky mengikuti dari belakang.


Lena yang melihat bosnya, segera berdiri dan akan memberi tahu kalau di dalam ada Dira yang sudah sejak tadi menunggunya.


"Maaf pak Darren, di dalam ada...." Ucapannya Lena terpotong oleh Maira.


"Oh iya, jadi gimana? Dan kapan kita memulai kerjasamanya," timpal maira dan Darren mengabaikan ucapan Lena.


"Silahkan."


"Terima kasih...." Ucap Maira selembut mungkin.


"Silahkan duduk dulu," kata Darren sembari menunjuk ke arah sofa.


Maira duduk dengan anggun dan menyilangkan kaki jenjangnya yang putih mulus.


"Permisi, pak. Ini dokumen yang bapak minta," ujar Rizky mengulurkan dokumen tersebut.


Darren menerima dokumen tersebut dan melangkah mendekati Maira. Darren yang sangat fokus membaca isi dokumen tersebut tidak melihat adanya bekal di atas meja.


Darren duduk di samping Maira, mereka berdua sangat serius mempelajari bisnis yang akan keduanya kerjakan. Hingga tiba seorang office boy membawa minuman untuk Maira.


"Ini minumannya, pak... Bu...." Ucap office boy.

__ADS_1


"Iya terima kasih," jawab Maira dan sang office boy mengangguk seraya tersenyum.


Setelah itu, Darren dan Maira melanjutkan pembicaraannya.


Di dalam toilet, Dira merapikan kembali dandanannya, karena tadi Dira membasuh mukanya karena rasa ngantuk.


Dira keluar dari toilet. Dira terdiam di ambang pintu toilet karena Dira melihat Darren tengah duduk bersama seorang wanita cantik, bahkan Darren dan wanita itu duduknya sangatlah dekat sekali. Apalagi wanita itu sedikit mencondongkan badannya ke Darren, membuat hati Dira terbakar api cemburu.


"Kurang menempel duduknya," seloroh Dira dengan melipatkan kedua tangannya di dada.


Darren menegakkan tubuhnya dan mengangkat kepalanya.


"Dira...." Gumam Darren dengan wajah terkejutnya.


"Siapa dia?" Tanya Maira, tapi Darren mengabaikan pertanyaan Maira.


"Sejak kapan ada disini?" Tanya Darren.


"Sejak subuh," dengus Dira kesal.


"Kenapa diam saja? Silahkan lanjutkan lagi pembicaraannya, kalau perlu duduknya lebih menempel lagi," sindir Dira ketus.


"Apaan sih, Ra. Kamu jangan bicara kaya gitu deh," timpal Darren tak enak hati.


"Dia siapa?" Maria kembali bertanya.


"Istriku," jawab Darren.


"Oh...."


Setelah mengetahui kalau wanita yang berdiri di depan toilet itu adalah istrinya, duduk Maira sedikit menjauh dari Darren.


Aku pikir Darren masih single, tapi ternyata sudah menikah. Dengus Maira di dalam hatinya.


Sejak pertama melihat Darren, Maira sudah tertarik dengan Darren. Ada niatan di dalam hatinya Maira untuk mendekati Darren, tapi ternyata Darren sudah memiliki seorang istri dan sang istrinya tengah berdiri di depannya dengan tatapan sedingin salju.


_____****_____

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2