
"Darren...." Geram Arga menahan marahnya.
Arga mendengus sebal, seraya menatap tajam wajah Darren yang terlihat menahan tawanya. Kalau tidak ada Dira disini, dirinya pasti langsung menghajar Darren. Arga hanya bisa menahan kekesalannya, bisa-bisanya di kenalkan sama cewek yang nggak jelas gitu, mana ceweknya sudah tuir. Pikir Arga.
"Tadi, Akang nyuruh saya tunggu disini. Emang mau ngapain?" Tanya Brendalina yang bingung, karena apa yang akan Darren tunjukkan.
Darren yang tidak mau membuat Arga semakin kesal, lalu Darren mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Dira menatap heran melihat Darren membuka dompetnya dan mengambil uang.
"Nih... Aku cuma mau kasih ini buat kamu," ujar Darren seraya mengulurkan dua lembar uang seratus ribuan.
Brendalina terbengong menatap uang yang masih berada di tangan Darren. Di pikirannya Brendalina, buat apa Darren mengasih uang kepada dirinya. Dirinya datang kesini hanya untuk bertemu dengannya, bukan mau minta duit.
"Ini... Uang buat apa?" Tanya Brendalina lagi.
"Buat beli permen ke warung Bu Nok," sahut Darren.
"Ha...!!"
Brendalina tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh lelaki yang di kaguminya itu. Berkali-kali Brendalina menggelengkan kepalanya tak percaya. Brendalina yang merasa terhina dengan perlakuan Darren, langsung memutarkan tubuhnya dengan kesal. Tanpa pamit, Brendalina langsung pergi begitu saja.
"Emang saya anak kecil apa!" Sungut Brendalina kesal. Niat hati ingin kangen-kangenan sama Darren, eh malah di kasih uang dan bikin hatinya tambah kesal, suruh buat beli permen.
"Jahat kamu mah, Yang," cibir Dira menggelengkan kepalanya.
Darren hanya nyengir kuda sembari memasukkan uangnya ke dompet, tapi dengan gerakan cepat Dira menyambar uang tersebut dan memasukkan ke saku bajunya.
"Buat beli bakso," ujar Dira, lalu Dira masuk ke dalam rumah dan menemani Rendi.
Arga yang masih berdiri disana, hanya bisa terdiam. Kemudian Arga menahan pundak Darren yang akan melangkah masuk ke dalam rumah.
"Apa?" Tanya Darren menoleh ke Arga.
__ADS_1
"Bagi gue duit," cetus Arga seraya mengadahkan tangannya ke Darren.
"Ngapain elo minta duit sama gue," tukas Darren.
"Buat nampol muka elo yang rese!" lanjut Arga.
"Apaan sih elo...." Ketus Darren seraya menyingkirkan tangan Arga dari pundaknya, lalu mulai berjalan masuk rumah.
Arga kembali menahan Darren, dan kali ini Arga melingkarkan tangannya di leher Darren.
"Lepasin, Argo go!" kesal Darren.
"Gue kan tadi bilang minta di kenalin sama cewek, tapi kamu malah kenalin gue sama tante-tante girang," sungut Arga kesal.
"Hahahaha...." Darren tertawa renyah.
"Bilang saja elo demen sama tuh si Berkele," ejek Darren.
**
Waktupun terus berjalan dan berganti bulan ke bulan. Kini usia kehamilan Dira sudah menginjak sembilan bulan dan tinggal menanti hari lahirnya tiba.
Dira tengah sibuk mempersiapkan kado untuk sahabatnya yang sudah lebih dulu melahirkan. Dira dan Darren sudah siap berangkat ke rumah sakit dimana Anin melahirkan.
Tiba di rumah sakit, Dira langsung menggandeng tangan Darren. Mereka berdua melangkah bersama menuju ruang rawat Anin. Kedatangan Dira dan Darren di sambut bahagia oleh pasangan yang baru saja di karuniai seorang bayi mungil, yang berjenis kelamin perempuan. Anin tersenyum sumringah melihat ibu hamil itu, kini menghampirinya dan duduk di kursi samping ranjang.
"Selamat ya... Sekarang kamu sudah jadi Mama muda," ujar Dira yang ikut bahagia melihat sahabatnya itu. Tangan Dira tidak luput mengelus pipi merah bayi Anin yang kini berada di pangkuan Anin.
Anin hanya tersenyum simpul menampilkan rentetan giginya yang putih.
"Bagaimana rasanya jadi Mama muda?" Tanya Dira lagi.
__ADS_1
"Mmm ... Sangat menakjubkan sekali dan serasa mimpi. Sumpah aku belum percaya kalau sekarang tuh aku sudah punya anak," kata Anin yang benar-benar bahagia memiliki malaikat kecilnya yang sangat menggemaskan itu.
"Namanya siapa?" Tanya Dira lagi.
"Namanya Binar Nafeeza, yang artinya perempuan yang sangat bercahaya seperti permata yang sangat berharga." Kali ini Mateo yang menjawabnya.
"Waw... Nama yang sangat cantik," tukas Dira tersenyum memandangi wajah imut anak Anin.
"Boleh aku gendong." Pinta Dira kepada Anin.
"Boleh."
Anin memberikan bayinya itu ke pangkuan Dira, lalu Dira menggendong Baby Binar.
"Cantik ya...." Ungkap Dira ke Darren.
"Cantik lah, kan perempuan," tukas Darren yang kini ikut memandangi Baby Binar.
"Eh, ada Neng Dira," seloroh ibunya Anin, yang baru masuk.
"Ibu...." Sapa Dira sembari menyunggingkan senyuman.
Sekitar setengah jam, Dira berada di kamar rawat Anin. Dira dan Darren pun pamit pulang.
"Kami berdua pulang dulu ya," pamit Dira kepada Anin. Kemudian Dira mencium pipi Baby Binar yang kini mengerjap-ngerjapkan matanya.
Setelah pamit, Darren dan Dira meninggalkan kamar rawat Anin dan kini melangkah kembali ke parkiran mobil. Saat sudah tiba di pintu keluar rumah sakit, tiba-tiba Dira merasakan perutnya mules.
"Aduh...."
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ