
Hari ini hari kedua Dira dirawat di rumah sakit dan hari ini pula Dira sudah di perbolehkan pulang oleh dokter karena keadaan Dira dan bayinya tidak ada masalah dalam kesehatannya.
Setelah mendapatkan imunisasi untuk sang bayi, Darren langsung memboyong anak dan istrinya pulang. Apalagi di rumah sudah banyak yang menanti kedatangan bayi mungilnya itu.
Darren dan Dira di jemput oleh tuan Bagaskara, dan saat ini tuan Bagaskara tengah menggendong sang cucu. Sedangkan Darren tengah membereskan barang bawaannya.
"Sudah selesai, A," tanya Dira yang tengah duduk di atas brankar.
"Sudah...." Seraya menyeletingkan tasnya.
Dira turun dari brankar dan membantu membawa barang bawaannya.
"Jangan bawa yang itu, Ra. Tas itu berat, mending bawa tas kamu aja."
"Baiklah...."
Setelah itu Dira, Darren dan tuan Bagaskara keluar dari kamar rawat tersebut. Sepanjang perjalanan pulang, tuan Bagaskara terus saja menggendong sang cucu yang kini tertidur lelap.
*
*
*
Dira, Darren, tuan Bagaskara dan si kecil sudah tiba di rumah. Kedatangan mereka sudah di nanti oleh seluruh penghuni rumah.
"Pi, sini biar Dira saja yang gendong," pinta Dira.
"Jangan. Biar papi saja yang gendong cucu papi. Nanti kalau sudah masuk ke dalam rumah pasti cucu papi langsung di ambil oleh mamimu," tolak tuan Bagaskara.
Dira pun mengangguk membiarkan bayinya tetap di gendong oleh papi Bagaskara. Darren turun terlebih dulu, lalu membukakan pintu mobilnya.
Dira segera turun dari mobil dan berpegangan kepada Darren saat turun. Begitupun juga dengan tuan Bagaskara yang juga turun dari pintu sebelah.
Mami Yuli dan Oma Ros sudah menunggu kedatangan anak dan cucunya di depan pintu. Mami Yuli dan Oma Ros tersenyum sumringah ketika melihat cucunya itu.
"Sini, berikan cucu kesayangan mami," pinta mami Yuli seraya mengulurkan kedua tangannya kepada suaminya.
Dengan terpaksa tuan Bagaskara memberikan sang cucu kepada istrinya itu. Mami Yuli tersenyum begitu cucunya sudah berada di gendongannya.
"Lihat, Bu. Cicitnya ibu ganteng kan?" Mami Yuli memperlihatkan bayi mungil itu.
"I-ii-yah...." Jawab Oma Ros sembari tersenyum.
Oma Ros kemudian mengangkat tangannya untuk mengelus pipi cicitnya dan tidak lupa menghadiahi kecupan sayang di pipinya.
"Ayo masuk," ajak tuan Bagaskara, seraya mendorong kursi roda Oma Ros.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Saat sudah berada di dalam, Dira terperangah melihat ruang keluarga di sulap menjadi sebuah pesta yang sudah di hiasi dengan rumbai-rumbai dan balon. Di dinding tertulis 'Selamat datang untuk baby.'
"Uuh... Aku terharu," pungkas Dira seraya menangkubkan kedua tangannya di pipinya.
"Masih ada lagi kejutan untuk kamu nak," kata mami Yuli.
"Oh ya... Apa?"
"Semuanya, silahkan keluar," seru mami Yuli.
Dira semakin terkejut begitu melihat kedatangan keluarganya dari kampung halamannya. Seluruh keluarga Dira berkumpul, bahkan nek Iroh pun ada di sana. Mata Dira berkaca-kaca melihat keluarganya ada disini.
"Uwa... Bibi... Nek Iroh...." Ucap Dira lalu Dira segera memeluk semuanya dengan air mata terus menetes membasahi pipinya.
"Bagaimana kabar nek Iroh," tanya Dira setelah melerai pelukannya.
"Seperti yang kamu lihat, aku semakin tua. O iya, selamat ya sekarang kamu sudah menjadi ibu. Tugas kamu sekarang bertambah banyak, yaitu merawat dan mendidik anak-anak kamu. Semoga anak kamu menjadi anak yang Sholeh, menjadi anak yang membanggakan orang tua, pintar dan juga selalu taat dengan ajaran agamanya dan juga selalu sehat," ucap nek Iroh.
"Aamiin, terima kasih doanya."
Lalu Dira kembali mendekati uwa Inah dan Bu Kokom.
"Kapan uwa dan bibi datang?"
"Semalam," jawab uwa Inah, kemudian pandangan uwa Inah dan Bu Kokom teralihkan kepada mami Yuli yang sedang menggendong cucunya.
"Tentu saja boleh. Menggendong juga boleh, masa iya saya larang," tukas mami Yuli. Sedangkan uwa Salim dan mang Ujang mengobrol dengan tuan Bagaskara.
Dira lalu pergi ke dapur, untuk mengambil minum. Lagi-lagi Dira terkejut dengan hadirnya Seril di dapur.
"Seril...!"
"Teh," jawab Seril yang tengah membantu bik Tatik dan mba Siti memasak.
"Kamu juga ikut," lanjut Dira bertanya.
"Iya...." Sembari menganggukkan kepalanya. Dira kemudian memeluk Seril.
"Sayang, ayo ke depan. Seril kamu juga ikut ke depan," suruh Darren, lalu Darren merangkul pundak Dira.
"iya, kang," jawab Seril.
Darren dan Dira sudah kembali bergabung dengan keluarganya. Dira lalu mengambil bayinya yang di gendong oleh Bu Kokom.
"Mohon perhatiannya. Terima kasih untuk semua keluargaku yang sudah hadir di sini. Aku disini mau mengasih tahu nama anak kami. Aku dan Dira sepakat memberi nama anak kami yang di beri nama Rendi Athaya Alviansyah. Rendi itu adalah nama singkatan kami berdua, sedangkan Athaya artinya hadiah atau anugerah dan Alviansyah itu adalah nama belakangku," terang Darren lalu Darren mencium pipi baby Rendi.
"Hai, baby Rendi," bisik Darren.
__ADS_1
Baby Rendi pun tersenyum, seolah tahu kalau sekarang sudah punya nama.
"Anakku senyum," ujar Darren. Setelah itu Dira meletakkan baby Rendi di stroller.
"Permisi...." Teriak Regan. "Mana nih, keponakan gue," tanyanya kepada Darren.
"Tuh, lagi di kerumunin sama para neneknya," tunjuk Darren.
Regan kemudian mendekati baby Rendi yang kini tengah menggeliat dan membuka matanya, seolah sedang menyapa semuanya.
"Maaf ya tante-tante cantik. Boleh saya melihatnya?"
"Silahkan," uwa Inah menyingkir memberi ruang untuk Regan melihat baby Rendi yang sedang mengerjapkan matanya.
"Halo keponakan om. Nih, om bawa hadiah untuk kamu boy." Regan menujukan kotak hadiahnya, setelah itu Regan mencium pipi baby Rendi.
Tidak lama Very, Arga dan Mateo beserta Anin juga datang. Mereka semua berkumpul menjadi satu.
*
*
Saat ini baby Rendi tengah mengedot air susunya menggunakan botol susu yang sudah Dira mompa sebelum pulang ke rumah. Dira yang sedang menggendong bayinya di temani Seril seraya mengelus pipi baby Rendi.
"Baby Rendi lucu sekali...." gemas Seril.
Tidak jauh dari Dira duduk, Darren tengah berkumpul dengan teman-temannya di luar ruangan.
"Ren, kenalin gue sama cewek itu," tunjuk Regan kepada Seril.
"Jangan bilang kalau elo... Suka sama Seril." Darren pun memicingkan matanya melihat Regan yang terus memperhatikan Seril.
"Gue cuma mau kenalan doang. Dia itu cewek yang manis," elak Regan.
"Halah, bilang aja elo suka kan," sungut Very seraya mendorong bahu Regan.
"Sukalah! Orang dia cewek manis," lanjut Regan.
"Jangan di kenalin, Ren. Nanti yang ada cuma di permainkan saja. Kasihan kan sama tuh cewek, mana masih polos lagi," timpal Arga.
Regan mendengus mendengar perkataan teman-temannya itu. Tapi Regan terus saja melihat Seril yang manis di matanya.
______***_______
Terima kasih masih setia membaca novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ.
To be continued....
__ADS_1