
Waktupun terus bergulir, dan kini kehamilan Dira sudah memasuki usia tiga puluh tujuh minggu lebih. Dimana saat-saat mendebarkan menantikan kelahiran sang buah hati.
Oma Ros pun juga sudah bisa menggerakkan tangan dan kakinya, bahkan Oma Ros sudah sedikit lancar dalam berbicara, meski belum begitu jelas. Hanya tinggal belajar berjalan saja yang Oma Ros belum bisa, meski begitu Oma Ros tidak pernah putus dalam terapinya, karena beliau ingin bisa menggendong cicitnya nanti bila sudah lahir.
Bagaimana dengan Very, Arga dan Regan? Jelas... semenjak mendapatkan hukuman dari Dira, mereka pelan-pelan meninggalkan kebiasaannya yang sering mengonsumsi alkohol dan juga tidak lagi pergi ke club malam. Begitupun juga dengan Regan yang sudah tidak lagi main celup-celupan sama wanita penghibur.
Saat ini Dira dan Darren tengah berada di apartemen Mateo. Anin dan Mateo mengundang Dira dan Darren untuk makan malam bersama. Selesai makan malam, Mateo langsung mengajak Darren untuk duduk di balkon apartemennya di temani secangkir kopi hitam. Sedangkan Dira dan Anin sedang menonton televisi sembari memakan cemilan.
"Sebentar lagi anak elo lahir. Bagaimana perasaan elo, Ren?" Tanya Mateo sembari menyalakan sebatang rokok.
Darren tersenyum kemudian menyeruput kopinya. "Jelas sangat bahagia dan juga mendebarkan. Apalagi sekarang-sekarang ini Dira sering mengalami perutnya sering kencang, atau kata dokter kontraksi palsu."
Mateo hanya manggut-manggut mendengarkannya.
"Rasanya... Sudah tidak sabar lagi menantikan anak gue lahir ke dunia ini." Darren menatap kedua tangannya, seolah sedang membayangkan anaknya sudah berada di pangkuannya.
Mateo menepuk pundak Darren, dan Mateo juga ikut tersenyum melihat temannya itu bahagia karena sebentar lagi memiliki seorang malaikat kecil.
"Apa... Anin sudah ada tanda-tanda hamil?" Tanya Darren.
"Belum... karena tiga hari yang lalu, istri gue baru selesai haidnya," terang Mateo.
"Gue doain, semoga secepatnya Anin hamil," ucap Darren.
__ADS_1
"Amien...."
"O iya, apa elo nggak ada niatan untuk ngajak Anin berobat untuk menyembuhkan Anin agar Anin bisa bicara," imbuh Darren.
"Ada niatan. Bahkan gue sudah pernah ngajak istri gue ke dokter, tapi ya... gitu. Istri gue menolaknya dan katanya takut mengecewakan gue. Sudah berobat tapi kenyataannya tidak bisa di sembuhkan. Begitu kata istri gue," terang Mateo sembari mematikan putung rokoknya.
"Begitu ya. Tapi apa salahnya kalau di coba dan siapa tahu istri elo bisa bicara. Asal kita tetap berusaha dan yakin serta optimis," tukas Darren.
"Nanti gue coba berbicara lagi dengan istri gue."
"Gue sih berharap istri elo bisa di sembuhkan, soalnya gue keinget perkataan Dira waktu itu. Tentang Clarissa yang menghina dan merendahkan Anin karena Anin tidak bisa bicara," ujar Darren.
"Iya, gue juga tahu itu. Gue juga sangat marahlah kalau istri gue di hina dan di rendahkan oleh orang lain," pungkas Mateo.
Mateo pun mengangguk. "Kalau perlu berobatnya ke luar negeri," lanjut Darren. "Kopi gue sudah habis. Masuk yuk...." Ajak Darren.
"Ayo...."
Darren dan Mateo pun masuk ke dalam dan menghampiri kedua wanita itu yang tengah asik menonton sinetron di salah satu drama ikan terbang.
"Jahat banget sih suaminya!" Kesal Dira saat menonton suara hati seorang istri yang teraniaya oleh suami dan mertuanya.
"Kenapa sih marah-marah," seloroh Darren mengelus rambut sang istri, lalu duduk di samping Dira.
__ADS_1
"Gimana nggak kesel, kalau jadi suaminya itu begitu jahat sama istrinya," cibir Dira terhadap sinetron yang di tontonnya.
Darren kemudian melihat jam di pergelangan tangannya.
"Sudah malam. Pulang yuk...." Ajak Darren dan Dira pun mengangguk setuju.
Dira bangkit dari duduknya, dan tiba-tiba Dira merasa perutnya ada yang bunyi, tup. Sesuatu yang pecah dari dalam perutnya. Dira terdiam sesaat.
"Kenapa?" Tanya Darren heran.
Setelah itu Dira merasakan sesuatu yang merembes keluar dari bawah perutnya yaitu area inti pribadinya.
"Aku kok... Ngompol," ujar Dira sembari melihat kebawah kakinya yang keluar cairan bening sedikit kekuningan.
"Ngompol?"
Darren juga ikut melihat kebawah. Darren tertegun melihat cairan yang merembes keluar membasahi kaki sang istri.
_________***_______
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....
__ADS_1