
Dira terbangun merasakan perutnya bergejolak dan membuat Dira ingin sekali memuntahkannya. Dira segera turun dari brankar, tidak lupa Dira membawa botol infusnya ke kamar mandi seraya menutup mulutnya.
Tiba di kamar mandi, Dira membungkukkan badannya dan langsung memuntahkan isi perutnya.
Hoek Hoek Hoek
Dira terus memuntahkan semua isi perutnya, dan hal itu membuat Dira semakin pusing juga rasa mual terus Dira rasakan. Keringat dingin kini mengucur di dahinya. Dira yang terus muntah-muntah membuat Dira lemas serta kepalanya semakin pusing.
Dira terduduk lemas di depan closet dengan kepalanya di tundukkan di pinggiran closet duduk. Dira memejamkan matanya seraya mengatur nafasnya, berharap rasa pusing, mual serta lemas menghilangkan begitu saja.
Darren menggeliat dengan matanya yang masih terpejam. Darren meraba kasur yang di tiduri Dira dan ternyata kosong, membuatnya mengerutkan keningnya karena Dira tidak ada di sampingnya.
Darren membuka matanya meski sangat lengket untuk membuka kedua matanya. Darren menyipitkan matanya, menyesuaikan sinar lampu yang menyala. Darren langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan tidak menemukan Dira.
"Dira mana?" lirih Darren seraya menguap lebar. "Apa mungkin di kamar mandi ya...."
Darren turun dan berjalan menuju kamar mandi.
"Ra...." teriak Darren memanggil Dira.
"Hhmm...." sahut Dira.
Darren sudah berdiri di depan pintu kamar mandi dan langsung membukanya lebar. Darren terkejut melihat Dira terduduk lemas di depan closet dengan keningnya di tempelkan di pinggiran closet.
"Ra...!" Darren langsung mendekati Dira dan berjongkok di samping Dira.
"Kenapa kamu duduk di sini?" panik Darren takut kalau Dira terpeleset di kamar mandi.
"Apa kamu terpeleset?" Suara Darren terdengar cemas bercampur panik.
Darren langsung mengangkat tubuh Dira dan membawa cepat ke tempat tidur. Dengan pelan-pelan Darren meletakkan Dira di atas kasur.
"Tunggu disini, aku akan panggilkan suster," kata Darren yang takut Dira sampai kenapa-napa.
Dira langsung mencekal tangan Darren seraya menggelengkan kepalanya.
"Aku nggak butuh suster atau dokter, tapi yang aku butuhkan kamu."
"Iya, tapi kamu harus di periksa dulu. Aku takut kamu kenapa-napa karena kamu tadi terpeleset di kamar mandi," pungkas Darren masih dengan rasa cemas.
"Aku nggak kepeleset," ucap Dira dengan tatapan sayu memandang Darren.
"Kamu yakin nggak terpeleset? terus kenapa tadi duduk di lantai kamar mandi?"
__ADS_1
"Tadi itu, aku muntah-muntah dan kepala aku sangat pusing, makanya aku duduk di lantai kamar mandi."
"Syukurlah, aku pikir kamu terpeleset di kamar mandi. Aku takut kamu sampai kenapa-napa," timpal Darren seraya membawa Dira ke dalam pelukannya.
Dira langsung merasa nyaman berada dalam pelukan Darren. Dira langsung memejamkan matanya, meresapi setiap sentuhan Darren juga mampu menghilangkan rasa pusingnya sedikit berkurang, apalagi bau ketiak Darren yang berhasil merilekskan Dira.
"Ren...."
"Apa...."
"Boleh aku minta sesuatu."
"Minta apa, asalkan jangan yang aneh-aneh," ucap Darren masih dengan memeluk Dira.
Dira mendongakkan kepalanya menatap Darren.
"Minta apa?" tanya ulang, dan Darren menundukkan kepalanya menatap Dira.
"Cium," pinta Dira dengan nada manja.
"Aku pikir minta apaan. Dengan senang hati mengabulkan permintaan bumilku yang semakin cantik ini," ujar Darren dengan senyuman.
Dira langsung mengalungkan tangannya ke sekeliling leher Darren dan menyambut ciuman Darren yang begitu di inginkannya.
***
Dira sudah berada di ruangan dokter kandungan, dan tengah berbaring di atas kasur dengan alat USG yang menempel di atas perutnya.
Dokter terus menggerakkan alat USG tersebut dan mengecek keseluruhannya.
"Bagaimana dok? apa kandungan istriku baik-baik saja?" tanya Darren sedikit cemas.
"Alhamdulillah, kondisi janinnya sehat dan baik-baik saja. Walaupun begitu istrinya harus banyak istirahat mengingat istri anda mengalami pendarahan dan jangan mengerjakan yang terlalu berat-berat dulu."
"Iya dok, kalau boleh tau kandungan istri saya sudah berapa bulan?"
"Sudah masuk tujuh minggu," jawab dokter.
Dira dan Darren tersenyum bahagia, Darren langsung meraih telapak tangan Dira dan menggenggamnya penuh kelembutan.
Selesai di periksa, Dira turun dari kasur di bantu Darren.
"Hati-hati, Ra. Jalannya pelan-pelan saja," titah Darren.
__ADS_1
Iya...."
Darren dan Dira kini duduk di depan dokter yang kini sedang menulis resep obat.
"Ini resepnya dan jangan lupa vitaminnya harus di habiskan agar kandungannya kuat dan janinnya sehat, dan jangan lupa minum susu hamil" saran sang dokter.
"Iya, dok," jawab Dira.
"Kalau gitu, kami permisi dulu," pamit Darren.
"Iya, silahkan."
***
Di rumah Anin.
Anin yang saat ini tengah bersiap-siap berangkat ke pasar di kejutkan dengan gedoran pintu yang sangat kencang. Dengan langkah cepat Anin menuju pintu depan.
"Supri!! buka pintunya...!!"
Supri yang tengah sarapan terkejut mendengar suara teriakan yang tak asing baginya. Supri langsung dilanda cemas dan panik mendengar teriakkan orang tersebut.
"Siapa pak?" tanya ibunya Anin.
"Diam kamu!" bentak Supri.
Anin membuka pintunya yang langsung di dorong oleh lelaki paruh baya.
"Supri! keluar kamu!" teriak lelaki itu penuh kemarahan.
Supri pun memberanikan diri menemui lelaki itu. Kerah baju Supri langsung di tarik seraya melayangkan tatapan tajam.
"Bayar hutang-hutang kamu sekarang juga!" ucap lelaki itu penuh emosi.
"Maaf pak, saya belum punya duitnya," jawab pak Supri dengan suara terbata-bata.
"Halah... alasan saja kamu. Pokoknya hutang kamu harus lunas sekarang juga, titik!" ucap lelaki itu yang tidak peduli dengan alasan Supri
"Beri saya waktu untuk melunasi hutang saya, Pak." Nego pak Supri.
"Baik, saya kasih kamu waktu sampai besok kalau tidak...."
Lelaki itu mengedarkan pandangannya keseluruhan ruangan, hingga tiba pandangannya kini tertuju kepada Anin. Lelaki tersebut tersenyum menyeringai menatap Anin dan berjalan mendekati Anin.
__ADS_1