
Dira dan Darren tiba di meja makan dan menyapa mami Yuli dan Tuan Bagaskara.
"Mau sarapan sama apa?" tanya Dira.
"Eemm... roti selai aja deh."
Dira segera membuatkan apa yang diminta oleh Darren, setelah selesai Dira meletakkan roti selai di atas piring.
"Terima kasih, sayang."
"Sama-sama," balas Dira.
"Ra...." panggil mami Yuli.
"Ya, mi."
"Nanti kamu ikut mami ke rumah Oma."
"Oma?"
" Iya... pas kemarin kita ngadain syukuran, Oma nggak bisa datang karena Oma pergi ke Pemalang, nengok adiknya Oma yang sedang sakit," ucap mami Yuli.
"Ya, mi...."
Dira melanjutkan sarapannya. Darren melirik jam tangannya dan segera menghabiskan sarapannya.
"Aku berangkat dulu," seloroh Darren sembari minum, setelah itu langsung bangkit dari duduknya.
Dira ikut bangun dan membawa tas kerja Darren, tidak lupa Darren mencium tangan punggung Maminya.
"Aku berangkat dulu, mi," pamit Darren.
"Iya...."
Mami Yuli tersenyum senang, karena sekarang Darren sudah berubah yang biasanya kalau pergi langsung meninggalkannya begitu saja tanpa mencium tangannya, tapi kali ini Darren mencium tangannya. Membuat hati mami Yuli menghangat atas perubahan Darren.
"Mi, Dira antar Darren ke depan dulu," izin Dira.
"Iya, nak," jawab mami Yuli.
"Papi mau berangkat bareng atau sama mang Ujang," tanya Darren sebelum melangkah meninggalkan meja makan.
__ADS_1
"Papi sama mang Ujang," jawabnya seraya meletakkan cangkir yang berisi kopi.
Darren hanya mengangguk dan mengulurkan tangannya kepada Dira.
"Ayo, sayang," kata Darren.
Tiba di depan teras rumah, Dira mencium tangan Darren. Darren mencium kening Dira dan juga mengecup bibir ranum Dira.
"Aku berangkat dulu."
"Iya, ingat pesanku. Jangan ganjen dan tebar pesona, kalau kamu berani melakukannya kamu tau sendiri akibatnya," ucap Dira memberi peringatan.
"Iya, nyonya Dira!" seru Darren gemas.
"Aku berangkat kerja dulu. Do'akan aku, semoga urusan kerjaanku semuanya lancar," sambung Darren.
"Pasti," jawab Dira.
Darren segera melangkah menuju mobilnya yang sudah terparkir didepan halaman rumah. Darren membunyikan klakson mobil dan Dira melambaikan tangannya.
"Ra, papi berangkat dulu."
"Iya, Pi," jawab Dira yang langsung mencium tangan tuan Bagaskara.
Dira dan mami Yuli sudah tiba di rumah Oma Ros. Mami Yuli langsung mengajak Dira masuk ke dalam rumah.
"Bi Lila...." panggil mami Yuli.
"Iya, Bu."
"Ibu mana?"
"Nyonya besar ada di halaman belakang, Bu," jawab Bi Lila sembari menunjuk ke arah halaman belakang menggunakan ibu jarinya.
Mami Yuli mengangguk. " Buatkan kami minum," titah mami Yuli.
"Baik, Bu."
"Ra, ayo kita temui Oma." Mami Yuli mengajak Dira menuju halaman belakang rumah dimana Oma Ros berada.
Tiba di halaman belakang, Dira dan mami Yuli melihat Oma Ros tengah menyirami tanamannya yang tumbuh subur.
__ADS_1
"Ibu...." sapa Mami Yuli.
Oma Ros menengok dan tersenyum melihat menantunya datang menyambanginya.
"Kapan kamu datang, Yuli," tanya Oma Ros yang langsung menggeletakkan gembor di pinggir lantai dan mendekati mami Yuli dan Dira.
"Barusan," ucap mami Yuli yang langsung mencium tangan Oma Ros.
"Dia siapa?" tunjuk Oma Ros kepada Dira.
"Oh... dia. Dia itu Dira, istrinya Darren dan Dira ini keponakannya mang Ujang," jawab mami Yuli yang tersenyum menatap Dira.
"Keponakannya si Ujang?!" pekik Oma Ros.
"Iya...."
Oma Ros menatap Dira dari atas sampai bawah, setelah itu Oma Ros menggelengkan kepalanya. Kenapa harus keponakannya Ujang yang jadi istri cucu kesayangannya, pikir Oma Ros.
Oma Ros mendelik menatap Dira, yang dirasa tak pantas harus bersanding dengan cucunya yang tampan, berpendidikan dan juga dari kalangan yang berada.
Dira tersenyum menatap Oma Ros, tangan Dira terulur untuk mencium tangan punggung Oma Ros. Akan tetapi Oma Ros tidak memperdulikannya, malahan Oma Ros menatap tak suka kepada Dira.
"Kenapa Darren menikahi wanita miskin sih," ucap Oma Ros.
Jleb
Dira terhenyak mendengar perkataan Oma Ros, yang sangat menyakitkan hatinya.
"Bu...."
"Kamu juga, Yuli. Kenapa kamu membiarkan Darren menikahi wanita ini," sentak Oma Ros kepada mami Yuli.
"Bu, jangan seperti itu. Bagaimana pun Dira tetap menantuku dan Darren yang memilih Dira sebagai pendamping hidupnya. Yuli tidak mempermasalahkan status sosial Dira, yang terpenting Darren bahagia dengan pilihannya," ucap mami Yuli.
" Tetap saja ibu nggak terima kalau dia jadi menantu keluarga kita yang terhormat. Apalagi dia itu keponakannya si Ujang, supir dari anakku Bagaskara. Kasta kita sangat jauh sama dia!" sergah Oma Ros seraya menunjuk Dira dengan telunjuknya.
"Stop, Bu! Jika ibu terus menghina menantuku, lebih baik Yuli pulang saja. Ayo, Ra kita pulang saja," pungkas mami Yuli.
Dira hanya mengangguk kecil, hatinya sakit mendengar perkataan Oma Ros yang tak suka terhadapnya. Dira berusaha biasa saja meski didalam hati tak terima kalau harga dirinya di injak-injak.
_______***_____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....