
"Ups... Sorry nggak sengaja," tukas Airin dengan nada yang sangat menyebalkan.
"Non...." Seru pak Ari, akan tetapi Dira mengangkat satu tangannya, lalu menengok ke arah pak Ari yang sangat terlihat kalau pak Ari khawatir dengannya.
"Aku nggak apa-apa, pak," jawab Dira meyakinkan pak Ari.
Pak Ari pun tidak jadi mendekati Dira.
Rasanya Dira ingin sekali menjambak rambut Airin dan juga mencabik-cabik tubuh si ulet bulu itu, tapi dira mencoba menahan amarahnya. Dira tahu, Airin sengaja melakukannya demi membalas perbuatannya waktu itu.
Jika Airin menyiram dirinya, maka ia harus bisa membalasnya dengan cantik.
"Enak ya di siram," cibir Airin. "Gara-gara kamu, aku nggak bisa mendapatkan Darren. Satu lagi pembalasanku."
Airin mengangkat satu tangannya dan bersiap menampar pipi Dira. Sebelum tangan Airin mendarat mulus ke pipinya. Dira menangis seraya menggelengkan kepalanya dan hal itu membuat Airin merasa berhasil membalas perbuatan Dira.
semua pengunjung yang berada di food court, menatap Dira dan Airin.
"Tega kamu!" Hardik Dira dengan air mata yang semakin deras mengucur ke pipinya.
"Apa salahku sama kamu! Sampai hati kamu mau merebut suamiku!" Sentak Dira seraya menyeka air matanya.
"Memangnya kenapa kalau aku mau merebut suami kamu," balas Airin dengan tatapan sinis.
__ADS_1
"Memang kenapa kamu bilang! apa kamu nggak punya perasaan sama sekali. Sungguh kamu wanita yang tak tahu malu," ucap Dira.
Salah satu pengunjung mendekati Dira dan Airin. Pengunjung tersebut merasa iba dengan Dira, apalagi Dira tengah hamil.
"Kenapa, mbak?" Tanya orang itu.
"Dia... Dia mau merebut suami aku, Bu. Padahal kita ini adalah teman yang sangat baik, bahkan kedekatan aku dan dia seperti saudara, Bu... tapi apa? Dia begitu tega merayu suami aku dan dia mengharapkan menjadi istri dari suami aku, Bu...." Ucap Dira dengan suaranya semakin melemah dan tidak lupa dengan tangisannya yang terdengar sangat menyayat hati.
Ibu itu semakin iba melihat Dira yang menangis pilu, seakan-akan hidupnya penuh dengan penderitaan.
"Sudah mbak jangan nangis lagi," ucap ibu tersebut lembut.
"Eh, jangan ngada-ngada kamu, sejak kapan kita berteman," tuding Airin emosi dan temannya Airin mengangguk membenarkan perkataan Airin.
"Lihat Bu... Bahkan dia tidak mengakui aku ini temannya... Hiks... Hiks...." Dira benar-benar mendramatisir tangisannya agar menarik perhatian pengunjung di sekitarnya.
"Dasar pelakor!" Geram ibu tersebut.
"Apa kamu nggak lihat kalau temanmu ini tengah berbadan dua! Teman macam apa kemu ini! Tega-teganya kamu mau merebut suami temanmu sendiri," sentak ibu itu dengan tatapan kesal. Padahal wanita itu cantik, tapi dia mau merebut laki orang, bahkan temannya sendiri. Pikir ibu itu
"Mungkin wanita itu sudah nggak laku lagi kali, Bu. Makanya dia tega merebut suami temannya sendiri" sahut pengunjung yang lain.
"Huh... Dasar wanita tidak punya harga diri," cibir yang lainnya.
__ADS_1
"Dasar ulet bulu, jadi pelakor kok bangga," timpal ibu-ibu yang lain.
Cibiran demi cibiran terus terdengar. Airin semakin kesal di buatnya. Niat hati mau membalas Dira dan mempermalukan Dira justru kini malah berbalik kepadanya. Sedangkan suara pengunjung terus mencibir dan menghinanya dengan perkataan yang tak pantas.
"Awas kamu!" Bengis Airin seraya menuding telunjuknya ke arah Dira.
Dengan rasa yang sangat kesal dan emosi, Airin meninggalkan dira.
"Ayo, Vi. Kita pergi dari sini," ajak Airin.
"huuuuh...." Sorakan semua orang, mengiringi kepergian Airin dan temannya.
Dira tersenyum samar melihat Airin pergi. Ia berhasil mempermalukannya.
Dira di lawan. Ucapannya dalam hati.
"Terima kasih, Bu. Sudah membela saya," ucap Dira.
"Iya, mbak. Semoga suami mbak tidak tergoda sama perempuan tadi," jawab si ibu.
"Iya, kalau gitu saya permisi dulu, Bu." Ibu itu mengangguk. Dira dan pak Ari meninggalkan food court, dengan senyum kemenangan yang tersungging di bibirnya.
________***______
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....