
Dira semakin lengket terhadap Darren, bahkan Dira enggan ditinggalkan oleh Darren walau sebentar. Seharian ini Darren tidak di bolehkah mengenakan pakaian oleh Dira dengan alasan dirinya lebih senang mengelus kulit tubuh Darren seraya menenggelamkan wajahnya ke ketiak Darren.
Darren hanya pasrah saja atas apa yang diinginkan oleh Dira, meski apa yang di lakukan oleh Dira mengundang hasratnya naik.
"Ren...."
"Apa, sayang," jawab Darren lembut.
Saat ini keduanya tengah tiduran di depan televisi, beralas karpet merah.
"Kangen...." ungkap Dira yang kini malah beringsut naik ke tubuh Darren dan memeluknya seraya mencium dada bidang Darren.
Darren mengernyitkan dahinya mendengar perkataan Dira barusan.
"Kok, bisa kangen? bahkan semenjak pulang dari rumah sakit kamu selalu nempel terus sama aku," ucap Darren yang bingung dengan Dira.
Dira mengangkat kepalanya menatap wajah Darren, yang entah kenapa selalu membuatnya betah berlama-lama memandang wajah rupawan Darren.
"Aku nggak tahu, tapi itu yang aku rasakan," ucap Dira yang menempelkan dagunya ke dada Darren seraya menatap wajah Darren.
"Apa mungkin ini bawaan baby?" ungkap Darren.
"Mungkin...." sahut Dira.
Darren hanya tersenyum seraya memejamkan matanya, sedangkan Dira masih menatap wajah Darren yang tengah tersenyum manis. Dira beringsutkan badannya, lalu mencium bibir Darren, yang entah kenapa menggoda Dira untuk segera menciumnya.
Dira terus mencium bibir Darren seraya mengelus kulit tubuh Darren. Dira begitu agresif menciumi Darren, bahkan Darren cukup kewalahan mengimbangi ciuman Dira.
Tok tok tok
"Ren...!!"
Tok tok tok
"Ren, buka pintunya!" teriak orang itu.
Dira menghentikan ciumannya dan mendengus kesal karena kegiatannya di ganggu.
__ADS_1
"Aku buka pintu dulu, kayaknya aku kenal suara itu."
Darren bangun dan berjalan ke arah pintu dan membuka kuncinya.
Tok tok tok
"Ren...."
Darren membuka pintunya dan langsung melayangkan tatapan tajam terhadap orang yang menggedor pintu rumahnya. Sedangkan orang yang terus-menerus menggedor pintu, hanya cengengesan.
"Maaf, ganggu. Lagian lama bener buka pintunya," ucap Mateo.
"Ayo masuk," ajak Mateo kepada Anin dan ibunya Anin tanpa meminta izin kepada pemilik rumahnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Darren, karena melihat wajah Anin dan ibunya Anin penuh luka.
Mateo menghela nafasnya dan menarik Darren untuk duduk di depan teras, setelah itu Mateo menceritakan semuanya kepada Darren soal Anin.
Darren yang mendengarnya sangatlah marah dengan perbuatan ayah tirinya Anin yang begitu jahat.
"Untung elo tepat waktu menyelamatkan Anin, kalau tidak... hidup Anin pasti sudah hancur," ujar Darren seraya menepuk pundak Mateo.
"Bantu apa?"
"Rencananya gue mau nikahi Anin dan elo bisa bantu gue menikah dengan Anin besok."
"Besok ya? Tentu gue akan membantu elo," jawab Darren.
"Thanks, Ren." Mateo tersenyum senang.
"Sama-sama," balas Darren yang kini ikut tersenyum senang.
***
Hari yang di nantikan pun tiba, dimana Mateo akan menikahi Anin. Atas bantuan Darren dan juga uang, urusan soal pernikahan Mateo bisa di laksanakan hari ini juga. Bagi Mateo tidak masalah mengeluarkan uang yang banyak, asalkan secepatnya menikahi wanita yang di cintainya itu dan membawanya ke Jakarta.
Mateo kini sudah duduk di depan penghulu, dan sudah sangat siap menikahi Anin. Mateo dan bapak penghulu saling berjabat tangan, bertanda ijab qobul akan segera dilaksanakan.
__ADS_1
"Bismillahirrahmanirrahim," gumam Mateo yang kini merasa gugup. Berkali-kali Mateo menarik nafasnya dan membuangnya perlahan.
Setelah pak penghulu menyelesaikan kalimat ijab qobul kini giliran Mateo.
"Saya terima nikahnya Anin Anjarwati binti Bapak Shodik dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana para saksi, sah!!"
"Sah...."
"Alhamdulillah," ucap pak penghulu.
Mateo tersenyum lega, hilang sudah rasa gugup dan berganti dengan senyum bahagia. Di dalam hatinya, dirinya berjanji akan selalu menjaga Anin dan membuat Anin terus tersenyum bahagia.
Mateo segera memasangkan cincin kawinnya ke jari manis Anin, begitupun sebaliknya. Bapak penghulu menyerahkan buku nikahnya kepada kedua mempelai.
"Selamat ya, bro. Akhirnya sekarang elo sudah sah jadi lakinya si Anin. Gue doain, semoga rumah tangga elo sakinah mawadah warahmah," ucap Darren.
"Aamiin...." jawab Mateo, yang kini langsung memeluk Darren.
"Terima kasih, bro. Berkat bantuan elo, gue bisa cepat nikahin Anin." bisik Mateo
"Sama-sama," balas Darren dan keduanya melerai pelukannya dan saling tersenyum.
"Selamat ya Anin," ucap Dira sambil memeluk Anin dan hanya di balas dengan anggukan kepala seraya tersenyum manis.
"O ya... gue mau kasih tau sama elo, kalau Dira sekarang tengah hamil anak gue," cetus Darren sembari menarik turunkan alisnya.
"Beneran?!" ucap Mateo tak percaya.
"Iyalah...." jawab Darren.
"Wah... selamat ya bro. Gue nggak nyangka, bentar lagi elo bakal jadi bapak," ucap Mateo sembari meninju lengan otot Darren.
Kini semuanya meninggalkan kantor KUA. Darren dan Mateo saling berpelukan, karena hari itu juga Mateo langsung membawa Anin ke Jakarta.
"Hati-hati di jalan, bro," ucap Darren yang berdiri di samping mobil Mateo.
__ADS_1
Mateo hanya menjawab dengan mengacungkan jempolnya dan kini mobil yang di kendarai Mateo meninggalkan Darren dan Dira juga beberapa warga yang ikut menyaksikan pernikahan Mateo dan Anin.
"Ayo, kita pulang," ajak Darren kepada Dira.