
Area dewasa. Buat Dede emes dan jomblo untuk tidak membacanya.
_______**______
Pelan-pelan, si burung kisutnya Darren menerobos area terlarang Dira. Mencoba membelah jalanan yang masih sangat sempit dan sulit di lewati.
"Sakit... Ren...." ringis Dira menahan rasa sakit, padahal si burung kisutnya belum berhasil menerobosnya.
"Sama, aku juga sakit, Ra. Kamu tahan ya... aku mau mencobanya lagi."
Percobaan pertama gagal, Darren mencoba kembali menerobos masuk dan menekannya sedikit demi sedikit.
"Aahh... sa... kit...." rintih Dira.
Ternyata sangat sulit melewatinya, tapi Darren tak mau menyerah begitu saja dan berusaha menaklukkan jalanan yang benar-benar sangat sulit di terobos.
Si burung kisut, baru berhasil sedikit membuka palang pintu. Hanya setengah kepalanya si burung kisut yang sudah berhasil masuk.
Darren diam dan membiarkan si burung kisutnya berdiam diri di sana. Darren memilih mencium bibir Dira, mencoba merilekskan Dira agar tetap tenang selama proses pembelahan jalan yang sedang berlangsung.
Darren mencoba lagi, menekan pinggulnya. Ada rasa perih saat membuka akses jalan Dira, apalagi Dira yang semakin merintih merasakan rasa perih dan sakit saat si burung kisut itu pelan-pelan masuk membuka jalan untuknya.
"Ren... perih...." rengek Dira yang kini mengeluarkan air matanya.
"Maafin aku, tapi aku nggak mungkin mundur, Ra," Tegas Darren berucap.
"liiss...." Desis Dira, karena Darren menekan kembali pinggulnya.
Darren menegakkan tubuhnya, di angkat kedua kaki Dira dan merapatkan paha Dira ke pinggir perut Dira. Darren menekan kembali pinggulnya, berusaha memperdalam kepala si burung kisutnya dan berhasil masuk kepala si burung kisut.
Keluarlah cairan merah dari jalan yang sudah di lewati. Darren melanjutkan lagi aksinya, kali ini semakin menekan dan kuat menerobos masuk. Darren tak menghiraukan rintihan Dira, agar konsentrasinya membuka akses jalan untuk si burung kisut tak terganggu.
"Aahh... Darren sakit...." jerit Dira.
__ADS_1
"Maaf...." Hanya kata maaf yang keluar dari mulut Darren.
Darren terus memperdalam, menerobos masuk tanpa henti, walau sangat sulit sekali di lewatinya tapi Darren harus berhasil membukanya meski bercampur noda merah yang terus merembes keluar.
Susah payah Darren rasakan, tapi kini dirinya berhasil masuk lebih dari setengah perjalanan menuju hunian untuk si burung kisutnya, sedangkan Dira terus meringis menahan perih.
Darren mendiamkannya dulu, membiarkannya agar terbiasa dengan hadirnya si burung kisutnya yang sewaktu-waktu kembali memintanya.
Darren memilih memagut si kembar, sedangkan si kembar yang satu lagi di pilin benda kenyal nan kecil itu. Mencoba merayu tubuh Dira, agar melupakan sedikit rasa sakit yang dirinya berikan.
Tangan Dira menekan kepala Darren untuk memintanya lebih, serta di busungkannya dada Dira agar Darren semakin memperdalam memagut si kembar.
Setelah dirasa cukup, membuat Dira kembali rileks. Darren kembali menekan pinggulnya lebih dari tadi, dan semakin memperdalam menekannya.
"Aahh, darreeen...." rintih Dira.
Darren memejamkan matanya dan mengadahkan kepalanya, saat dirinya terus merobek selaput ke perwa nan Dira, yang akhirnya berhasil di robek dengan susah payah.
Darren mengecup kedua mata Dira yang basah, lalu di kecup kening Dira, kedua pipi, hidung dan tidak ketinggalan yaitu bibir Dira.
Pinggul Darren bergerak pelan dan lembut, agar Dira tidak begitu merasakan rasa sakit dan perih. Darren terus memagut bibir Dira sembari terus memompa Dira.
"Aahhrrgg...." erang Darren saat si burung kisutnya terjebak di dalam pusaran hangat hunian barunya.
Darren terus bergerak, menarik ulurkannya si burung kisutnya, agar rasa perih yang di rasakan oleh Dira berganti dengan rasa nikmat yang tiada terkira.
Kini Dira mulai merasakan rasa indahnya dalam ber cinta yang tadinya sakit dan perih berganti dengan rasa yang sangat sulit di jelaskan. Darren terus mengayuh pinggulnya dan mengajak Dira berpetualang indahnya berpeluh keringat.
Di rayunya hunian baru itu, dan membawanya terbang melayang ke puncak nirwana yang sangat memabukkan.
"Aahhrrgg... Darren...." desah Dira yang kini merasakan nikmatnya ber cinta.
Keduanya saling memejamkan matanya, menikmati rasa yang sangat indah. Tubuh Darren membungkuk untuk meraih si kembar yang ikut bergerak karena mendapatkan gonjangan.
__ADS_1
Darren memberi tanda merah di sekitar sisi si kembar, lalu di mainkannya benda kecil nan kenyal itu. Sedangkan tangan yang satu lagi memijit dan memi linnya.
Desa han dan erangan terus terlontar dari mulut Dira dan membuat Darren semakin bersemangat mengayun pinggulnya.
"Reenn... aku... mau kel...uuhh...."
Dira kembali mendapatkan Pele pasan. Darren berhenti bergerak, lalu memeluk Dira erat. Setelah itu Darren menggulingkan dirinya dan Dira tanpa melepaskan bagian bawahnya.
Kini Dira lah yang berada di atas tubuh Darren.
"Ra... coba duduk dan bergerak pelan."
Dira menurut, menggerakkan pinggulnya meski tak beraturan Dira menggerakkan pinggulnya. Tapi Dira berhasil membuat Darren semakin bergelinjang nikmat. Dira terus menarik turunkan pinggulnya di bantu oleh Darren, dan kini Dira kembali merasakan Pele pasan untuk kedua kalinya.
Darren duduk dan merebahkan tubuh Dira, kali ini dirinya lah yang akan mengajak Dira terbang kembali menuju puncaknya.
Darren terus dan terus menekan dan memperdalam pinggulnya, membuat Dira menjerit nikmat saat Darren terus menekan dan semakin dalam untuk menyentuh dinding rahim Dira.
"Ra...." erang Darren.
Darren terus bergerak cepat dan lebih cepat karena sebentar lagi puncak kenikmatannya datang.
Darren mengadahkan kepalanya, memejamkan matanya saat si burung kisutnya menabrak dinding rahim Dira dan bersiap melepaskan benih-benih cintanya.
"Dira... aarrggh...." erangan panjang Darren.
Darren benar-benar melepaskan benih cintanya di dalam sana dan berharap tumbuh subur di rahim Dira.
Darren ambruk di atas tubuh Dira, merasakan Pele pasan yang sempurna.
"Terima kasih Dira, wanita halalku. Istriku karena kamu sudah menjaga kehormatan kamu hanya untukku."
Di kecupnya kening Dira, kemudian memeluk Dira sembari merasakan sisa-sisa kenikmatan yang masih tertinggal.
__ADS_1