
Semenjak Dira bertemu dengan Oma Ros, hidup Dira berasa di teror oleh omongan Oma Ros yang selalu mengharapkannya meninggalkan Darren. Berkali-kali juga Dira menolaknya, baginya Darren adalah separuh hidupnya sekarang dan Dira berusaha tidak memperdulikan semua perkataan sinis Oma Ros yang selalu memojokkan dirinya dengan perkataan-perkataan yang sangat menyakitkan hati. Bahkan Oma Ros pernah berkata. Setelah kamu melahirkan, kamu harus segera pergi meninggalkan cucuku. Kalau bisa bawa sekalian anakmu itu. Karena bagaimanapun derajat kamu tak sepadan dengan Darren.
Untungnya mami Yuli selalu membelanya dan menyabarkan hati Dira. Mami Yuli begitu sangat menyayangi Dira, membuat Dira merasa sangat beruntung memiliki mertua sebaik dan sehangat mami Yuli.
Seperti sekarang ini mami Yuli membelikan gaun cantik untuk pergi ke acara ulang tahun perusahaan tuan Bagaskara dan kehamilan Dira sudah memasuki usia lima bulan.
Dira sudah mengenakan gaun pemberian dari mami Yuli dan sekarang Dira tengah di make over oleh make-up artis yang lemah gemulai.
Darren sudah menunggu di ruang keluarga sembari memainkan ponselnya. Berkali-kali Darren melirik jam karena sudah cukup lama Dira belum selesai juga di make-up.
"Sudah selesai, saaayyy," seloroh Puspa yang menyerupai seorang wanita, padahal aslinya laki-laki.
Dira tersenyum puas melihat hasil make up Puspa. Dira mengamati dirinya di cermin dan menatap wajahnya.
"Eike yakin tuan Darren bakalan terpesona dengan kecantikan nona Dira," tambah Puspa.
"O iya...." kata Dira menengok Puspa yang sedang membereskan alat make up nya.
"He'em... Percaya sama Eike," ucapnya lagi.
Dira berdiri dan mengambil heels yang tingginya hanya lima cent dan Dira segera mengenakannya. Setelah itu Dira menyambar tas kecil.
"Terima kasih ya, aku keluar dulu. Pasti Darren sudah menungguku di luar," pamit Dira kepada Puspa yang belum selesai membereskan alat make-up nya.
"Iya nona," jawabnya cepat sembari meleparkan senyuman.
Dira segera melangkah keluar dan menemui Darren yang sudah lama menunggunya.
"A, aku sudah selesai," seloroh Dira yang sudah berdiri di belakang sofa. Darren menengok dan terpukau melihat Dira yang begitu sangat cantik di tambah lagi dengan perutnya yang membuncit. Darren berdecak kagum melihat istrinya.
__ADS_1
Darren segera bangun dan mendekati Dira. Pandangan Darren begitu lekat memandangi kecantikan istrinya.
"Bagaimana kalau kita nggak usah pergi. Kita habiskan saja malam ini di kamar saja," celetuk Darren.
Dira mencubit lengan Darren. Hampir satu setengah jam dirinya duduk menghadap ke cermin dan di make over oleh make-up artis, masa harus menghabiskan waktunya hanya di kamar, begitu pikiran Dira.
"Enak saja. Ayo kita berangkat saja," cetus Dira yang langsung mengapit lengan Darren.
"Jalannya jangan lurus, Ra. Kita belok saja ke kamar," ujar Darren yang ingin menghabiskan waktu dengan Dira di kamar saja. Selain itu Darren tidak ingin ada orang yang melihat kecantikan istrinya.
Dira mendelik menatap Darren dan terus berjalan keluar rumah.
***
Suasana pesta sudah ramai. Darren dan Dira sudah berada di acara ulang tahun perusahaan tuan Bagaskara. Dira dan Darren sudah duduk bersama mami Yuli dan Tuan Bagaskara juga tidak ketinggalan Oma Ros.
Oma Ros menatap sengit Dira, apalagi Dira terus menempelin Darren. Dira tetap bersikap cuek dan tidak pedulikan tatapan tajam Oma Ros terhadapnya.
Tuan Bagaskara sudah berdiri di panggung dan menyapa seluruh tamu yang hadir. Tuan Bagaskara berpidato mengenai perkembangan perusahaan yang di kelolanya selama ini.
Rizky kembali datang dan meminta Darren ikut bergabung dengan tuan Bagaskara di panggung.
"Aku samperin papi dulu," ucap Darren kepada Dira.
"Iya," jawab Dira cepat sembari menganggukkan kepalanya.
Darren sudah berdiri di samping Papinya dengan senyum menawannya.
"Perusahaan yang selama ini saya bangun dengan susah payah akan saya serahkan kepada anak saya. Darren."
__ADS_1
Tuan Bagaskara langsung menepuk pundak Darren dengan melempar senyumnya dan semua para tamu memberi tepuk tangan yang gemuruh.
"Papi serahkan tanggung jawab perusahaan ini kepada kamu, semoga di tangan kamu perusahaan kita semakin berkembang pesat. Sekarang papi mempercayai kamu mengelola perusahaan kita,"ungkap Tuan Bagaskara.
"Terima kasih, Pi. Semoga Darren bisa mengemban amanah papi mengelola perusahaan kita. Do'akan Darren agar Darren bisa membawa perusahaan yang selama ini papi bangun bisa semakin besar," balas Darren dengan rasa haru.
Darren dan tuan Bagaskara saling berpelukan.
"Ayo, kita juga ke sana," ajak mami Yuli kepada Dira agar naik ke punggung menemani ayah dan anak itu.
Oma Ros juga mengikuti langkah menantunya naik ke panggung. Tiba di panggung Darren langsung menggenggam tangan Dira dengan senyum manisnya.
"Ibu, boleh berbicara. Ada hal penting yang harus ibu sampaikan kepada semua tamu yang hadir," cetus Oma Ros kepada anaknya, tuan Bagaskara.
"Ibu mau bicara apa?" tanya tuan Bagaskara.
"Ada. Pokoknya ini penting," sambung Oma Ros.
"Silahkan...."
Oma Ros sudah memegang mic dan menatap seluruh tamu yang hadir.
"Ehem... Selamat malam semuanya. Perkenalkan saya ibu dari Bagaskara, saya berdiri di sini mau menyampaikan sesuatu hal yang sangat penting. Selain acara ulang tahun perusahaan anak saya juga akan mengumumkan berita bahagia." Oma Ros menjedanya dan meminta seseorang yang sudah di nanti oleh Oma Ros agar ikut bergabung di atas panggung.
"Darren sini, nak," pinta Oma Ros.
Darren mendekati Oma Ros tanpa melepaskan genggaman istrinya. Oma Ros mendelik melihat Darren tidak melepaskan tautan tangannya terhadap Dira.
Dira sudah bisa menebak kemana arah pengumuman Oma Ros. Hati Dira sudah bergemuruh dan menyesakkan dadanya.
__ADS_1
"Berita bahagianya adalah cucu saya, Darren akan segera bertunangan dengan Airin. Perempuan yang cantik, berpendidikan dan dari keluarga yang terpandang."