Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
ketulusan Mateo


__ADS_3

Pagi-pagi sekali tuan Bagaskara sudah tiba di kamar rawat Oma Ros. Beliau sangat mencemaskan keadaan Oma Ros yang jatuh dari kamar mandi sampai-sampai tidak sadarkan diri.


Mami Yuli menyambut kedatangan suaminya itu. Tuan Bagaskara langsung mendekati Oma Ros yang tergolek tak berdaya di atas ranjang. Jujur tuan Bagaskara sangat menghawatirkan Ibunya, hanya Oma Ros satu-satunya orang tua yang tuan Bagaskara punya, setelah kehilangan ayahnya beberapa tahun lalu.


Darren dan Dira masih tertidur di atas sofa dengan kepala Dira di pangkuan Darren.


Tuan Bagaskara menyentuh tangan keriput ibunya itu, kemudian menggenggam dan mencium punggung tangan Oma Ros dengan lembut. Mami Yuli berdiri di samping tuan Bagaskara dan mengelus punggung kokoh tuan Bagaskara.


"Kata dokter, bagaimana keadaan ibu?" Tanya tuan Bagaskara tanpa mengalihkan pandangannya ke Oma Ros.


"Keadaan ibu stabil tapi kata dokter kemungkinan ibu akan terkena stroke, tapi itu juga belum jelas karena sampai sekarang ibu belum bangun," kata mami Yuli sendu sembari menatap nanar Oma Ros yang masih memejamkan matanya.


Tuan Bagaskara menghela nafas panjang. Dan berharap keadaan ibunya baik-baik saja juga tidak ada hal buruk dengan ibunya yang sangat di cintainya itu.


Tidak lama Oma Ros mengerjap-ngerjapkan matanya dan membuka matanya pelan seraya menyimpitkan matanya karena silau dari lampu yang masih menyala.


"Ibu...." Pekik tuan Bagaskara. Oma Ros hanya memandangi wajah puteranya itu dan sangat terlihat kalau tuan Bagaskara mencemaskan keadaan dirinya.


Di dalam benak Oma Ros ingin rasanya memeluk anaknya itu dan mengatakan kalau dirinya tidak bisa menggerakkan tubuh juga tidak bisa mengucapkan sepatah katapun. Kedua kelopak mata Oma Ros berembun dengan tatapan sendu sedan.


"Mi... Panggilkan dokter," perintah tuan Bagaskara dan mami Yuli mengangguk cepat. Mami Yuli memencet tombol di samping atas ranjang setelah itu menunggu kedatangan dokter dan suster.


"Bagian mana yang sakit, Bu?" Tanya tuan Bagaskara lembut.


Oma Ros membuka mulutnya dan ingin mengatakan kalau seluruh tubuhnya mati rasa.


"A a... a...," Suara Oma Ros yang serasa terkunci di tenggorokan.


"Permisi...," Sapa dokter.

__ADS_1


Dira terbangun karena mendengar suara orang masuk.


"Eh... Ada dokter?" Ujar Dira, kemudian membangunkan Darren.


Dokter dan suster mendekati ranjang Oma Ros. Tuan Bagaskara bangun dari duduknya dan menyingkir memberi ruang untuk dokter memeriksa keadaan Oma Ros dan juga suster mengecek cairan infus serta cek darah.


"Ibu bisa menggerakkan jari-jari ibu?" Perintah dokter dan Oma Ros mencoba menggerakkan jarinya yang sangat sulit di gerakan. Setelah itu dokter manggut-manggut melihat jari Oma Ros yang terlihat sangat sulit di gerakan.


Darren dan Dira mendekati ranjang Oma Ros tepat di kaki Oma Ros.


"Bagaimana keadaan ibu saya, dok?" Tanya tuan Bagaskara penuh rasa khawatir.


"Seperti yang saya sudah sampaikan kemarin kepada istri anda, kalau keadaan ibu anda terkena stroke," jelas dokter yang kembali memasukkan stetoskop ke saku jas putih.


"Apa masih bisa di obati, dok?" Tanya tuan Bagaskara lagi.


"Iya, dok," jawab tuan Bagaskara.


"Untuk pemeriksaan keseluruhan, keadaan ibu anda stabil cuman tensinya masih cukup tinggi," kata dokter lagi.


*


Di apartemen Mateo.


Saat ini Anin tengah memasak sarapan untuk suami tercinta. Mateo yang sudah fresh karena sudah mandi segera keluar kamar untuk menemui istrinya di dapur.


"Selamat pagi, sayang." Kecupan mesra mendarat di pipi Anin yang masih sibuk dengan masakannya. Anin tersenyum sebagai jawabannya.


Selesai memasak, Anin segera membawa hasil masakannya dan segera sarapan bersama Mateo.

__ADS_1


Mateo mengernyitkan dahinya melihat istrinya itu. Mateo menangkap kesenduan di mata Anin, meski Anin selalu menampakkan senyumannya tapi Mateo tahu kalau istrinya tengah ada masalah.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Mateo lembut seraya menyentuh tangan Anin.


Anin menggeleng dan tersenyum, senyuman getir.


"Katakan, apa yang mengganggu pikiran kamu. Berbagilah masalahmu denganku," ucap Mateo.


Anin memberi isyarat lewat gerak tangannya, yaitu ' Aku tidak apa-apa dan baik-baik saja.'


Selama tinggal dengan Mateo Anin di masukkan ke sekolah SLB untuk belajar bahasa isyarat agar mempermudah Anin berbicara dengan lawan bicaranya, tentunya dengan orang yang paham dengan bahasa isyarat termasuk Mateo yang ikut belajar bahasa isyarat.


"Jangan bohong. Aku tahu kamu sedang sedih dan masalah apa yang membuat kamu terlihat sedih?"


Anin diam dan menundukkan kepalanya. Anin memang tengah sedih karena perkataan Clarissa kemarin malam yang mengatakan kalau dirinya bukan wanita yang sesuai dengan kriteria Mateo. Hatinya dilema dan merasa tak pantas untuk menjadi pendamping hidup Mateo yang sempurna, sedangkan dirinya wanita bisu dan tak berpendidikan tinggi bahkan dari kalangan bawah.


"Sayang... Katakan apa yang membuat kamu sedih? Dan tolong terbukalah dengan suamimu," mohon Mateo.


Anin mendesah samar. Anin mulai menggerakkan tangannya.


'Aku merasa tak pantas buat kamu yang sempurna, sedangkan aku wanita yang tidak sempurna,' kata Anin lewat isyaratnya.


"Jadi itu yang membuat kamu sedih? Apa karena kata-kata Clarissa kemarin malam yang mengatakan kamu yang tak pantas buat aku karena kamu tidak bisa bicara," tebak Mateo dan Anin mengangguk samar.


Mateo berdiri mendekati Anin, lalu berlutut di depan Anin. Mateo memberi tatapan teduh dan menenangkan untuk istrinya. Mateo menggenggam tangan Anin seraya menatap netra Anin.


"Dengarkan aku baik-baik. Aku sayang kamu tulus, bukan karena kasihan. Aku mencintai kamu dengan segala kekurangan yang kamu miliki dan aku tidak memperdulikan itu semua. Meski kamu tidak bisa berbicara tapi aku merasa tidak kesepian, karena apa?" Jeda Mateo dan Anin menggeleng kecil. "Karena kamu sangat berharga bagiku, bahkan kamu wanita yang terbaik yang Tuhan kirim kepadaku."


Anin berkaca-kaca karena terharu dengan perkataan Mateo yang menyentuh relung hatinya. Anin memeluk Mateo, sekarang hatinya lega dan tak rendah diri lagi karena Mateo menerima dirinya tulus.

__ADS_1


__ADS_2