Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Perubahan Dira


__ADS_3

Anin duduk di pinggir jalan, lalu merogoh surat dari Mateo. Anin menghela nafasnya sebelum membuka suratnya, setelah itu Anin membuka amplop dan mengeluarkan isinya. Di buka kertas yang terlipat rapi dan memulai membacanya.


Teruntuk Anin.


Anin maaf, aku tidak sempat berpamitan sama kamu kalau aku harus kembali ke Jakarta.


Maaf, karena aku belum sempat membawa ibu kamu berobat. Aku cuma berharap semoga ibu kamu selalu baik-baik saja.


Anin....


Aku janji suatu saat nanti aku bakal kembali menemui kamu dan mengajak ibu kamu berobat.


Anin... tunggu aku kembali.


Dari Mateo.


Anin tersenyum setelah membaca kalimat terakhir, kalau dirinya harus menunggu Mateo kembali menemuinya tapi di sisi lain dirinya tidak bisa melihatnya lagi.


Tuan, aku akan terus menunggu kedatangan kamu. Anin berucap lirih di dalam hatinya, yang kini sudah terukir nama Mateo di lubuk hatinya. Ada sejuta harapan jika dirinya bisa bertemu kembali dengan Mateo.

__ADS_1


Di dekapannya surat dari Mateo, berharap Mateo segera kembali menemui dirinya dan juga berharap semoga Mateo membalas perasaan yang di rasakannya.


Anin menatap langit yang cerah, mencoba menghadirkan sosok Mateo di atas sana yang tengah tersenyum menatapnya. Anin tersenyum dan ingin menggapainya tapi itu semua hanya bayangan semu.


***


Waktu terus bergulir begitu saja berganti bulan ke bulan, hubungan Dira dan Darren semakin mesra, dan Keduanya kerap menghabiskan waktunya di atas ranjang, entah itu berolahraga ranjang ataupun bercerita keseharian mereka setiap harinya. Darren juga membeli sepeda motor atas saran Dira, agar Darren tidak berjalan kaki lagi saat akan berangkat dan pulang kerja.


Begitupun dengan Anin yang selalu menanti kedatangan Mateo. Jika Anin Melawati tempat yang pernah di singgahinya bersama Mateo, Anin selalu teringat Mateo. Sejuta kerinduan di dalam lubuk hatinya yang semakin menggunung.


Dira terbangun dari tidurnya dan melirik ke samping di mana biasanya Darren tidur. Dira mendesah karena sampai saat ini Darren belum juga pulang. Dira bangun dari atas ranjang dan berjalan ke meja rias, dimana handphonenya yang sedang di charger. Dira menyalakan handphonenya dan melihat jam di handphone dan juga memeriksa pesan yang masuk. Tidak ada pesan dari Darren, cuma ada pesan dari grup WA teman sekolahnya.


Dira memilih keluar dari kamar dan duduk di depan televisi yang beralas karpet. Di nyalakan televisinya, mencari acara yang menarik dan Dira memilih acara pencarian bakat dangdut. Hampir satu jam Dira duduk di depan televisi dan Dira melirik jam di dinding yang menujukan pukul sepuluh malam lebih.


"Kenapa belum pulang juga sih," resah Dira.


Dira mengambil handphonenya dan menelpon Darren tapi sampai beberapa kali di telpon, Darren tak kunjung mengangkat telponnya. Dira kembali menelponnya tapi kini handphonenya Darren tidak aktif, Dira langsung di sergap rasa cemas karena kini Dira tidak bisa menghubungi Darren apalagi sekarang turun hujan membuat Dira semakin khawatir takut kalau Darren kehujanan saat pulang dan akan berakibat Darren sakit dan juga tubuhnya akan menggigil bila terkena hujan.


Darren memang sudah memberi tahu, kalau dirinya hari ini lembur. Meski khawatir Dira terus menunggu Darren pulang, hingga tak terasa Dira tertidur di depan televisi.

__ADS_1


Tepat pukul setengah dua belas malam, Darren pulang. Darren membuka kunci pintu rumah dan langsung di suguhkan dimana Dira tertidur di atas karpet dengan televisi menyala. Darren tersenyum, kemudian memasukkan motornya dalam keadaan mati agar tidak menggangu Dira yang tengah tertidur pulas. Darren langsung memilih membersihkan diri dan setelah itu Darren masuk ke kamar mengambil bantal dan selimut, membawanya dimana Dira tidur. Darren langsung tidur di samping Dira dan memeluk Dira dari samping.


"Maaf, aku pulang terlambat," lirih Darren dan mencium kening Dira.


Dira terbangun karena merasa ada lengan yang melingkar di atas perutnya. Dira melirik Darren yang kini tengah menonton bola.


"Kapan pulangnya?" bisik Dira.


Darren menengok dan tersenyum. "Jam setengah dua belas," jawab Darren.


Dira langsung memeluk Darren, hatinya lega karena Darren pulang dalam keadaan baik-baik saja. Dira semakin mempererat pelukannya dan kini malah menenggelamkan wajahnya di ketiak Darren dan hal itu membuat Dira merasa nyaman menenggelamkan wajahnya. Menurut Dira, akhir-akhir ini ketiak Darren wangi nggak peduli Darren belum mandi dan bau keringat. Dira juga ingin selalu menempel ke Darren, bahkan saat Darren lagi mandi sekalipun, Dira ingin terus menempel ke darren. Saat tidur pun Dira ingin darren terus memeluknya dan jangan menghadap ke arah lain, kalau darren tidak menurutinya Dira akan merengek nangis dan berujung Dira ngambek sembari menangis.


Dira juga tidak mau kalau dirinya di cuekin oleh Darren. Pernah sekali darren mendiamkan Dira karena terlalu lelah bekerja dan hal itu membuat Dira menangis karena merasa Darren berubah.


"Kenapa sih? akhir-akhir ini kamu selalu menenggelamkan wajah kamu ke ketek aku?" tanya Darren yang merasa heran dengan tingkah Dira.


"Aku juga nggak tahu, tapi yang jelas ketek kamu wangi."


Dira langsung mencium ketiak Darren dan mencium wangi ketiak Darren, setelah itu Dira meminta darren tidur menghadapnya dan di wanti-wanti jangan menghadap ke arah lain. Darren hanya menurut saja, meski bingung dengan perubahan Dira yang semakin manja terhadapnya. Apapun yang selalu di mintanya harus di turuti jika tidak Dira akan menangis.

__ADS_1


__ADS_2