
Seminggu sudah berlalu, keseharian Dira semenjak hamil selalu menemani Darren bekerja. Dira tidak peduli bila harus menunggu Darren seharian di bengkel, asal dirinya bisa selalu dekat dengan sang suami. Dira benar-benar tidak mau jauh dari Darren.
Seperti sekarang ini, Dira begitu setia menemani Darren bekerja meski matanya tidak bisa di ajak kompromi alias mengantuk. Darren yang melihat Dira terkantuk-kantuk menghentikan pekerjaannya, Darren segera mencuci tangannya setelah itu mendekati Dira dan duduk di samping Dira.
"Ra, aku antar kamu pulang ya," kata Darren yang tak tega melihat Dira menahan ngantuk.
Dira menggeleng cepat, justru kini Dira menyenderkan kepalanya ke bahu Darren.
Darren menghela nafas, sangat sulit membujuk Dira yang keras kepala.
"Tapi aku nggak tega melihat kamu mengantuk, seharusnya kamu di rumah dan istirahat."
"Aku nggak peduli," jawab Dira cuek.
" Kamu jangan kayak gitu dong, sayang. Apa kamu lupa pesan dokter kalau kamu harus banyak istirahat dan juga tidak boleh kelelahan," lanjut Darren berucap seraya mengelus pipi Dira.
"Tapi aku hanya mau kamu. Aku nggak mau jauh sama kamu," rengek Dira.
"Iya... aku ngerti, kalau kamu selalu ingin berada di dekatku. Tapi masalahnya aku ini harus kerja, sedangkan kamu harus banyak istirahat dan aku nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa."
"Tapi...."
"Sayang, aku mohon... demi baby kita," bujuk Darren lembut.
Dira mencebikan bibirnya, dan melengoskan pandangannya kesal.
"Gini deh, aku coba bilang ke pak Riswan, kalau jam kerja aku minta di kurangin. Bagaimana?" tawar Darren.
__ADS_1
"Iya deh...." jawab Dira dengan wajah cemberut.
"Gitu dong, itu baru istrinya kang Darren," canda Darren seraya memencet hidung Dira.
"Ish...." desis Dira sembari menyingkirkan tangan Darren dari hidungnya.
"Sekarang aku antar kamu pulang ya."
"Aku mau pulang, asal kamu jangan balik ke bengkel lagi," tawar Dira.
"Tapi, Ra...."
"Ya sudah, kalau gitu aku nggak mau pulang," Rajuk Dira.
"Ya sudah kalau begitu. Aku bilang dulu ke pak Riswan."
***
Tiba di rumah, Darren langsung meminta Dira segera istirahat. Lama Darren menemani Dira sampai tertidur pulas.
"Akhirnya tidur juga, bumilku sayang." gumam Darren sembari menarik pelan, bahkan sangat pelan menarik tangannya dari kepala Dira, agar sang istri tidak terbangun.
Darren segera bangun dan keluar kamar seraya mengenakan pakaiannya. Darren duduk di luar rumah dan menyalakan sebatang rokok sembari menikmati suasana di luar rumah.
Saat sedang menikmati sebatang rokoknya, tiba-tiba seseorang datang menghampirinya.
"Permisi, tuan muda," sapa mang Ujang.
__ADS_1
Darren terkejut melihat mang Ujang ada di sini.
"Mang Ujang!" kaget Darren.
Mang Ujang hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Kapan mang Ujang pulang?" tanya Darren yang masih terkejut dengan kedatangannya.
"Tadi pagi, tuan," jawab mang Ujang.
"Duduk-duduk," kata Darren menujukan kursi di sebelahnya.
"Terima kasih, tuan." Mang Ujang pun segera duduk.
"Gimana kabar tuan. Apa tuan betah tinggal di sini?"
Darren mengangguk pelan, " Baik, bahkan sangat baik dan juga aku betah tinggal disini bersama Dira. O iya, gimana kabar mami dan papi?" tanya Darren.
" Kabar nyonya baik. Tapi...."
"Tapi apa?" tanya Darren penasaran.
Mang Ujang diam sesaat, sebelum menceritakan kabar orang tua Darren. Terutama Papinya Darren, yaitu tuan Bagaskara.
"Sebenarnya, tuan besar sedang sakit. Kemarin tuan besar masuk rumah sakit, kata dokter sih tuan besar kelelahan karena tuan besar terlalu memforsir diri dalam bekerja." ungkap mang Ujang.
"Selain itu, kedatangan mamang ke sini selain bersilaturahmi juga mau mengatakan kalau tuan muda di mintai kembali ke Jakarta."
__ADS_1