
Seminggu sudah Oma Ros di rawat di rumah sakit, dan hari ini Oma Ros sudah di izinkan pulang. Dira menunggu kedatangan Oma Ros dan mertuanya di rumah, sedangkan Darren menjemput mami Yuli dan Oma Ros di rumah sakit.
Sekitar pukul tiga sore, Oma Ros dan mami Yuli tiba di rumah. Dira segera menyongsong kedatangannya. Darren segera mengeluarkan kursi roda dari bagasi mobil, lalu mengangkat tubuh Oma Ros untuk di duduki ke kursi roda.
"Biar Dira saja yang mendorong kursi rodanya," ujar Dira.
"Baiklah...." jawab mami Yuli.
Mami Yuli membiarkan Dira yang mendorongnya dan melangkah masuk ke dalam rumah. Dira mendorong kursi roda dan membawanya ke kamar Oma Ros. Darren mengikuti dari belakang dan memindahkan tubuh Oma Ros ke tempat tidur dengan hati-hati.
"Oma, istirahatlah dulu. Dira mau ke dapur dulu untuk menyiapkan makanan untuk Oma," kata Dira lembut. Oma Ros menganggukkan kepalanya pelan.
Oma Ros terus menatap Dira, sampai menghilangkan dari pandangannya. Setelah itu baru Oma Ros memejamkan matanya.
*
*
*
Pada malam harinya, saat semua penghuni rumah akan makan malam. Dira lebih mementingkan Oma Ros terlebih dahulu. Dira membawa makanan ke kamar Oma Ros dan duduk di tepi ranjang.
"Oma, makan dulu ya...." Ujar Dira, tapi sebelum menyuapi Oma Ros, Dira membenarkan bantal agar Oma Ros nyaman.
"Sekarang Oma makan." Dira menyuapi Oma Ros dengan telaten bahkan Dira begitu sabar menyuapi Oma Ros, karena setiap makanan yang masuk ke mulut pasti nasinya selalu berantakan dan berjatuhan.
Selama Dira menyuapi Oma Ros. Tatapan Oma Ros tak pernah lepas dari wajah Dira yang saat ini tengah menyuapinya.
'Aku pikir dia bakal senang kalau aku jatuh sakit, tapi ternyata dia sangat perhatian denganku, bahkan dia sangat tulus mengurusi aku. Padahal selama ini aku sudah sangat jahat terhadapnya.
Dira, cucu mantuku. Maaf... sudah salah menilai kamu. Mungkin ini hukuman buat aku yang sudah sering menyakiti hati kamu.
Dira... maafkan Oma yang selama ini memandang kamu rendah, hanya karena kamu bukan dari kalangan terpandang atau orang kaya. Maaf....Oma sudah sering mengatai kamu dan menghina kamu.
Mungkin kalau Oma tidak jatuh sakit, pasti Oma akan terus-menerus merendahkan kamu.
Andai tubuh ini bisa di gerakan, Oma ingin langsung memeluk kamu dan meminta maaf.
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca, Oma terus menatap Dira yang kini sudah hampir selesai menyuapinya. Selesai menyuapi Oma Ros, Dira membantu mengangkat kepala Oma Ros untuk minum dan juga membantu meminum obat ke mulut Oma Ros.
"R... a...." Oma Ros ingin sekali mengucapkan rasa terima kasihnya karena Dira sudah bersedia mengurusinya, tapi untuk mengucap satu kata saja sangat sulit.
"Oma mau bicara sesuatu?" Tanya Dira karena melihat mulut Oma Ros bergerak dan ingin mengucapkan sesuatu.
Samar-samar kepala Oma Ros mengangguk.
Dira mengelus kulit punggung tangan Oma Ros yang sudah keriput.
" Jangan di paksain untuk berbicara. Lebih baik Oma istirahat saja dulu." Akan tetapi Oma Ros terus berusaha ingin mengucapkannya, juga Oma Ros berusaha menggerakkan jari-jarinya.
"T...."
"Oma, mau bicara apa?"
Cuma mau bilang terima kasih, Ra....
"Ra...." Panggil mami Yuli dari ambang pintu.
"Iya, mi...." Sahut Dira.
"Sudah."
"Sekarang kamu yang makan. Darren dari tadi menunggu kamu makan," tukas mami Yuli.
"Iya, mi." Angguk Dira yang langsung meraih piring kotor dan membawanya ke luar.
*
*
Darren yang melihat Dira membawa piring kotor segera mengambil alih piring dari tangan Dira.
"Ayo kamu makan dulu, Ra," suruh Darren dan Dira pun mengangguk.
Dira duduk dan mengisi piringnya dengan nasi.
__ADS_1
"Sini, biar aku ambilkan sayurnya." Darren merebut sendok dan mengisi piring Dira dengan sayur dan lauknya.
"Terima kasih," ucap Dira tersenyum.
"Mau aku suapin?" Tawar Darren.
"Nggak usah." Seraya menggelengkan kepalanya.
Selesai makan, Darren dan Dira langsung beristirahat. Apalagi Dira yang tengah hamil harus banyak istirahat.
"Ra, terima kasih ya... Sudah mau mengurusi Oma. Padahal selama ini Oma sering banget bersikap jahat sama kamu, tapi kamu justru mau mengurus Oma yang sakit," ujar Darren sembari mengelus perut Dira.
"Iya, sama-sama. Lagi pula itu sudah menjadi kewajibanku sebagai cucu mengurus Oma yang lagi sakit."
"Mudah-mudahan Oma cepat sembuh ya, seperti sediakala. Jujur aku nggak tega melihat Oma seperti itu."
"Kita berdoa saja, semoga Oma cepat lekas sembuh. Kata dokter Oma pasti bisa sembuh asal rutin terapinya," imbuh Dira.
"Iya, kamu benar."
"Aku juga berharap, dengan kejadian ini Oma bisa membuka hatinya menerima kamu dan tidak membenci kamu lagi setelah apa yang sudah kamu lakukan terhadap Oma." Lanjut Darren.
"Aamiin...."
"Ra...."
" Hmm... Apa?"
"Dari tadi anakku bergerak terus, dan kayaknya anakku minta di tengok deh," cetus Darren.
Dira mencubit tangan Darren dan mendelikkan matanya.
"Itu mah inginnya kamu, bukan anaknya," sungut Dira.
Darren nyengir kuda, dan tanpa membuang waktu Darren langsung membungkam mulut Dira dengan bibirnya sebelum mempersatukan tubuhnya ke Dira.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....