Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Kebahagiaan yang sebenarnya


__ADS_3

"Hey! Mau sampai kapan kalian berciuman," tegur Darren seraya menepuk bokong bayinya yang masih merengek dalam gendongannya.


Mateo menghentikan ciumannya, lalu mengusap bibir Anin yang basah akibat ulahnya.


"Ra! Bekap mulut suamimu itu. Kaya dia nggak pernah melakukannya saja," sindir Mateo sembari melirik sinis Darren.


"Abaikan saja," jawab Dira dan Darren mencebikan bibirnya.


"Sana kalian pergi dari sini dan rayakan kesembuhan Anin di hotel, siapa tahu setelah Anin sembuh Anin cepat hamil," usir Darren seraya memberi saran.


Mateo yang mendapatkan saran dari Darren langsung menatap Anin dengan tatapan menyeringai. Anin yang di tatap oleh sang suami langsung memalingkan wajahnya.


"Baiklah kalau begitu. Baby ganteng tunggu anak om cetak dulu ya, siapa tahu anak om perempuan dan kamu bisa di jodohkan dengan anak om," tukas Mateo mencolek pipi bayinya Dira.


"Nggak! Enak saja main jodoh-jodohan." Tolak Darren tegas.


Mateo, Anin dan Dira tertawa bersama.


"Ayo kita rayakan kesembuhan kamu," ucap Mateo. "Kita rayakan di atas ranjang," bisik Mateo.


Anin langsung melototi Mateo seraya mencubit pinggang Mateo. Bukannya kesakitan, Mateo malah tersenyum lebar menatap wajah cantik sang istri yang merona.


"Ra, aku pulang dulu ya. Selamat atas kelahiran baby boy dan doakan semoga kami bisa secepatnya menyusul memiliki bayi kaya kalian," ucap Mateo lalu pandangannya berpindah ke wajah bayinya Dira yang berada di gendongan Darren.


"Boy, om pulang dulu ya," sambung Mateo lalu mencium pipi bayinya Dira.


"Iya, semoga harapan kang Teo dan Anin terkabulkan," jawab Dira.


Anin dan Mateo akhirnya pergi meninggalkan kamar rawat Dira.

__ADS_1


Setelah kepergian Mateo dan Anin. Darren memindahkan bayinya ke dalam boks bayi. Tidak lama, Mami Yuli dan Tuan Bagaskara datang seraya membawa perlengkapan bayi dan meletakkannya begitu saja di sofa.


"Mana cucuku," seru mami Yuli tak sabaran untuk melihat cucunya itu.


"Lagi tidur tuh," tunjuk Darren ke boks bayi.


Mami Yuli segera mendekati cucunya itu. Kedua bola mata mami Yuli berbinar bahagia melihat cucunya yang tengah menggeliat dalam tidurnya.


"Cucuku...."


Mami Yuli mengangkat sang cucu lalu menciumi pipinya yang masih kemerahan. Tuan Bagaskara juga menatap cucunya yang tampan.


"Uuh... Cucu grandmy lucu sekali," kata mami Yuli.


"Ini cucuku yang ganteng kaya papi," puji tuan Bagaskara seraya mengelus pipinya.


"Pi, tolong fotoin mami sama cucu mami," pinta mami Yuli.


"Gantian mi... Papi juga mau gendong cucu papi," ujarnya.


"Nanti. Mami belum puas menggendongnya," tolak mami Yuli.


Dira tersenyum melihat mertuanya itu yang sama-sama ingin menggendong bayinya. Dira menyenderkan kepalanya ke bahu Darren dan menggenggam tangannya.


"Istirahatlah, kamu pasti lelah," suruh Darren.


Dira menggeleng. "Aku nggak mau tidur, nanti kalau bayi kita minta susu gimana?" Cetus Dira menolak.


"Nanti aku bangunin, jika bayi kita nangis minta Mimi susu. Lagian sekarang ada mami dan papi yang jagain jagoan kita."

__ADS_1


"Baiklah...." Dira pun menuruti ucapan Darren dan mengistirahatkan tubuhnya.


***


Di tempat lain, tepatnya di sebuah hotel yang tidak jauh dari rumah sakit. Mateo benar-benar mengikuti saran dari Darren untuk merayakan kesembuhan Anin dengan bermesraan di atas ranjang yang sepertinya akan menjadi malam yang panjang setelah malam pertamanya.


Mateo yang sudah tak sabaran langsung menarik Anin masuk ke dalam kamar hotel lalu menyerang bibir sang istri. Ciuman panjang di sertai gai rah yang menggebu.


Mateo langsung menggiring Anin ke ranjang dan merebahkan tubuh sang istri. Mateo terus mencumbu tubuh sang istri yang kini sudah tak mengenakan pakaiannya dan celananya yang belum di tanggalkan dari tubuh Anin.


"Aah...." Era ang Anin lembut.


Dan untuk pertama kalinya Mateo mendengar suara leng uhan lembut sang istri.


Mateo terus merayu tubuh sang istri dengan sentuhan-sentuhan mesra. Kemudian Mateo membuka semua penutup tubuhnya dan juga penutup terakhir Anin.


Dengan segera Mateo menyatukan tubuhnya dengan sang istri. Malam ini keduanya merayakan kesembuhan Anin dengan bergumul mesra di atas ranjang.


Mateo terus memanjakan Anin dengan merayu sang pemilik tubuh agar mendapatkan kenikmatan dalam bercinta. Keduanya terus meraih satu titik di mana puncak yang sesungguhnya, puncak tertinggi dalam percintaannya yang sedang di raih bersama.


Keduanya tersesat dalam gelombang kenikmatan, dan Mateo terus menubruk dinding rahim Anin dan memperdalam ikan buntalnya untuk mengeluarkan racun cintanya.


"Sayang...." Le nguh Mateo yang sudah berada di puncak kenikmatannya, begitupun juga dengan Anin yang sama-sama merasakan kenikmatan dalam bercinta.


Mateo memeluk Anin dan Anin mencium bahu polos Mateo bercampur peluh. Keduanya sama-sama berharap, semoga kali ini benih-benih cintanya tumbuh subur di rahim Anin.


_______***________


Jangan bosan meninggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


Salam sayang 😘😘


To be continued....


__ADS_2