
"Tunggu, jangan pergi!" cegah Oma Ros.
Mami Yuli menghentikan langkahnya dan berbalik menatap wajah mertuanya itu. Oma Ros mendekati mami Yuli dan Dira.
"Jangan pulang dulu. Ibu masih ingin mengobrol sama kamu, Yuli," sambung Oma Ros dengan tatapan memohon.
Mami Yuli menghela nafasnya, di pandang ibu mertuanya itu. Meski sedikit kesal karena tidak menghargai Dira sebagai menantunya, akan tetapi mami Yuli tidak mau membuat hati ibunya itu sedih.
"Baiklah," ucap mami Yuli mengalah. "Tapi tolong jaga ucapan ibu tentang Dira, bagaimana pun Dira salah satu bagian dari keluarga kita," ujar mami Yuli.
"Ya...." jawab Oma Ros dengan nada terpaksa.
Akhirnya mami Yuli dan Dira menemani Oma Ros. Selama berada di rumah Oma Ros, Dira benar-benar di cuekin oleh Oma Ros. Untung saja mami Yuli selalu mengajaknya mengobrol sehingga Dira tidak begitu jenuh berada di rumah Oma Ros, apalagi Oma Ros sama sekali tidak mengajaknya bicara.
Jelang makan siang, Oma Ros mengajak mami Yuli makan siang bersama. Kini ketiganya sudah duduk di depan meja makan.
"Mami ke toilet dulu ya. Kamu makan duluan saja, Ra dan nggak usah sungkan," ujar mami Yuli yang sudah berdiri.
"Ya, mi...." seraya mengangguk kecil.
Setelah mami Yuli menghilangkan dari pandangannya Oma Ros. Oma Ros menatap Dira tajam dengan tatapan tak suka.
"Dengar ya, meski kamu di terima menjadi menantu dari anakku, jangan berharap kamu bisa menjadi keluarga besar kami, dan saya harap kamu harus meninggalkan Darren karena Darren sudah saya jodohkan dengan keluarga yang terpandang. Jadi saya minta secepatnya kamu tinggalkan Darren," ucap Oma Ros penuh penekanan.
Dira menghela nafasnya, sungguh perkataan Oma Ros sangat menyinggung perasaannya. Dira memberanikan menatap Oma Ros.
"Maaf Oma, saya tidak akan meninggalkan Darren dan saya tidak akan pergi dari sisi darren selama Darren masih setia bersama saya. Walaupun Oma yang memintanya, saya akan tetap berada di samping Darren," balas Dira tegas.
"Jangan sok dulu kamu!. Jika kamu tidak mau meninggalkan Darren, saya sendiri yang akan menjauhkan kamu dari Darren."
Oma menghentikan pembicaraannya dengan Dira karena mami Yuli sudah keluar dari toilet. Oma Ros hanya menatap sinis kepada Dira, dan Dira berusaha bersikap biasa saja. Meski di dalam hatinya sangat geram dengan perkataan Oma Ros.
Selesai makan siang, mami Yuli dan Dira pamit pulang.
"Kami pulang dulu, Bu."
__ADS_1
"Iya, kamu harus sering-sering nengokin ibu. Ibu suka kesepian disini," tukas Oma Ros.
"Yuli dan mas Bagas sudah sering meminta ibu tinggal bersama dengan kami, agar ibu tidak kesepian tapi kan ibu suka menolaknya," jawab mami Yuli.
"Bukannya ibu nggak mau tinggal sama kalian. Di rumah ini banyak sekali kenangan bersama almarhum suami ibu."
"Iya Bu. Nanti Yuli akan sering-sering datang ke sini. Yuli pamit pulang dulu."
Oma Ros mengangguk, dan mami Yuli mencium punggung tangan Oma Ros. Dira juga mengikuti apa yang di lakukan mami Yuli kepada Oma Ros, tapi Oma Ros tidak mengulurkan tangannya dan membiarkan tangan Dira menggantung di udara.
"Bu, Dira mau salim," seloroh mami Yuli yang melihat Oma Ros tidak mengulurkan tangannya.
"Ck...."
Dengan terpaksa Oma Ros mengulurkan tangannya untuk di cium punggung tangannya oleh Dira.
"Yuli pulang dulu, Bu. Ayo, Ra...."
"Iya...."
***
"Ra...."
"Iya, mi."
"Habis dari sini, kita langsung ke kantor papi. Apa kamu setuju," ucap mami Yuli.
"Terserah mami. Dira ikut saja," balas Dira.
"Pak Ari, kita ke kantor suami saya," tepuk mami Yuli kepada supir pribadinya.
"Baik, Bu," seraya menganggukkan kepalanya.
Pak Ari segera menjalankan mobilnya menuju perusahaan tuan Bagaskara. Sekitar empat puluh menit mobil yang di kendarai oleh pak Ari tiba di perusahaan tuan Bagaskara.
__ADS_1
Mami Yuli dan Dira turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam kantor yang langsung di sapa oleh beberapa karyawan yang berpapasan dengannya.
Dira sangat takjub melihat seluruh bangunan perusahaan mertuanya itu. Akan tetapi di dalam hati Dira mencibir beberapa karyawan wanita yang mengenakan rok mini dan juga ketat sehingga menonjolkan lekuk tubuhnya, dan Dira hanya berharap, semoga Darren tidak tergoda dengan cewek-cewek di kantor.
Mami Yuli dan Dira masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai teratas. Tiba di lantai teratas, mami Yuli dan Dira langsung keluar dari dalam lift.
Saat akan menuju ke ruang tuan Bagaskara, mami Yuli dan Dira bertemu dengan asisten pribadi tuan Bagaskara yang bernama Rizky.
"Selamat siang, nyonya," sapa Rizky sedikit membungkukkan badannya.
"Siang juga. O iya Rizky, tolong antarkan menantu saya ke ruangan anak saya, Darren," titah mami Yuli.
"Baik Nyonya. Mari nona, saya antarkan ke ruangan tuan Darren."
Dira mengangguk. " Mi, Dira ke ruangan Darren dulu."
"Iya, nak."
Dira segera mengikuti langkah Rizky menuju ruangan Darren.
"Ini ruangan tuan Darren," tunjuk Rizky.
Dira menatap pintu ruangan Darren yang bertuliskan 'Ruangan COO'.
" Silahkan, nona langsung masuk saja," ucap Rizky
"Iya, terima kasih," jawab Dira seraya tersenyum.
Rizky meninggalkan Dira. Dira merapikan penampilannya sebelum masuk ke dalam ruangan Darren. Dira segera membuka pintunya dengan senyum manisnya.
"Aa Dar... ren...."
Dira membulatkan matanya dan senyum manis Dira lenyap begitu saja.
______***_____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....