Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Berkeliling pasar


__ADS_3

Mateo mengajak Anin berbelanja barang yang di butuhkannya. Mateo terus berkeliling pasar mencari beberapa potong pakaian, hingga tiba di depan toko pakaian wanita. Mateo menarik tangan Anin dan mengajak Anin masuk ke toko tersebut. Mateo memilih beberapa potong pakaian, setelah itu Mateo segera membayarnya.


"Kamu lapar tidak?" tanya Mateo kepada Anin dan di jawab dengan anggukan kepala.


"Kamu tau warung makan yang enak di pasar ini?" tanya Mateo lagi dan Anin pun mengangguk.


"Kalau begitu tunjukkan dimana tempatnya."


Anin mengangguk dan segera mengajak Mateo ke warung nasi yang tempatnya tidaklah jauh dari toko pakaian wanita tadi.


Tiba di warung nasi, Mateo segera mengajak Anin dan memilih makanan yang sudah tersedia di etalase.


"Kamu mau makan apa?"


Anin menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nggak mau makan?" tanya Mateo.


Anin merogoh buku kecil dan pensil dari saku celananya dan menulis sesuatu, setelah itu Anin memberikan kepada Mateo.


Mateo membaca apa yang di tulis oleh Anin. "Saya tidak sanggup membayar jika saya makan di warung seperti ini." Mateo membaca tulisan Anin.


Mateo menatap Anin yang kini tengah menatapnya dengan tatapan polos. Mateo tersenyum simpul dan menarik Anin untuk duduk dan Mateo segera memesan dua porsi makanan kepada pemilik warung.


Dua piring makanan sudah tersaji di depan Mateo, segera Mateo berikan satu piring ke hadapan Anin.


"Makanlah, saya tau kamu pasti lapar dan saya yang akan membayarnya," tutur Mateo lembut.


Anin berkaca-kaca karena jarang sekali ada orang yang berwelas kasih terhadapnya, apa lagi orang seperti Mateo. Lelaki yang berparas rupawan dan juga baik hati.


Anin mengangguk sembari menyusut air mata yang akan jatuh ke pipinya menggunakan lengan bajunya. Mateo tersenyum menatap Anin yang begitu lahap dengan makanannya.


"Jika kamu mau tambah, tinggal tunjuk saja," ujar Mateo dan di jawab anggukan kepala Anin.


Mateo dan Anin segera menghabiskan makanannya.

__ADS_1


"Bu, tolong bungkus satu dengan lauknya ayam goreng dan sayur... ini apa Bu namanya?" tunjuk Mateo ke salah satu sayur yang tersaji di etalase.


"Ini namanya sayur lodeh, ini kangkung, ini kacang panjang dan ini orek tempe."


"Emm... sayur... kacang panjang dan orek tempe, jangan lupa tambahin ayam gorengnya, Bu."


"Iya, kang," jawab si ibu pemilik warung.


"Ada lagi kang?" tanya si pemilik warung.


"Sudah itu saja."


Si ibu pemilik warung segera membungkus pesanan Mateo, setelah itu memberikannya kepada Mateo. Mateo segera membayarnya, lalu Mateo dan Anin pergi meninggalkan warung tersebut.


Di tengah perjalanan menuju lapak nek Iroh Mateo memberikan tiga kantong plastik hitam kepada Anin dan satu kantong plastik berisi nasi bungkus.


"Ini... ambillah" kata Mateo dan di terima oleh Anin.


"Dan ini, sebagai bayaran kamu karena kamu sudah menemani saya berkeliling pasar." Mateo mengulurkan empat lembar uang pecahan seratus ribu dan dua pecahan lima puluh ribu kepada Anin.


Anin tertegun melihat uang lima ratus ribu yang masih berada di tangan Mateo, Anin ragu untuk mengambil uang tersebut. Anin menatap wajah Mateo.


Anin mengambil satu lembar uang lima puluh ribuan. Mateo mengernyitkan dahinya karena Anin hanya mengambil uang lima puluh ribu saja.


"Kenapa nggak di ambil semua."


Anin menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" tanya Mateo.


Anin menulis di buku dan menyerahkan kepada Mateo. "Saya tidak pantas mendapatkan uang sebanyak itu, lagi pula saya hanya menemani tuan berkeliling pasar dan juga saya tidak bawa barang belanjaan tuan." Mateo membaca tulisan Anin.


Mateo menghela nafasnya, kemudian Mateo menyerahkan kembali bukunya dan Mateo menarik tangan Anin. Di serahkan uang tersebut ke telapak tangan Anin tapi Anin menggelengkan kepalanya cepat.


"Sudah ambil saja, kamu pantas mendapatkan uang ini," ucap Mateo tulus.


Anin berucap kata Terima kasih tanpa suara dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya, sama-sama. Saya pergi. Jaga dirimu baik-baik, besok saya akan datang lagi kesini dan saya harap kamu mau menemani saya lagi," ujar Mateo yang di jawab anggukan kepala Anin.


Mateo pergi meninggalkan Anin dengan mengulum senyumnya. Sedangkan Anin berucap syukur atas rizki yang di dapatkannya hari ini.


***


Sore harinya Darren pulang dengan tergesa-gesa. Darren tiba di rumah dan langsung masuk mencari dira di dalam rumah.


"Ra...." teriak Darren mencari Dira.


"Iya... aku di belakang rumah," sahut Dira.


Darren langsung menemui Dira di belakang rumah yang ternyata tengah mengangkat jemuran yang sudah kering. Darren langsung memeluk Dira dari belakang dan mencium kepala Dira.


"Aku kangen...." seloroh Darren yang mengeratkan pelukannya seraya mencium pipi Dira


" Kamu nggak di apa-apain kan sama si semprul Teo," sambung Darren.


"Nggaklah, emangnya kang Teo penjahat apa?" jawab Dira masih mengangkat jemurannya.


"Siapa tau si semprul ngapain hati kamu, aku kan takut hati kamu berpaling dari aku."


"Hati aku masih ada nama kamu. Awas aku mau masuk ke rumah dan lebih baik kamu mandi dulu," ujar Dira.


"Nggak mau, aku masih kangen sama kamu. Sini menghadap ke aku."


Darren langsung memutarkan tubuh Dira dan menghadap ke arahnya. Dira mengadahkan pandangannya menatap netra Darren.


"Apa?" tanya Dira.


"Cium," pinta Darren manja.


"Nanti saja di kamar, kalau di lihat kang Teo aku malu," tukas Dira.


"Aku nggak peduli."

__ADS_1


Darren langsung mencium bibir Dira lembut yang di balas oleh Dira, keduanya saling memagut dan saling membelit lidah. Mateo datang dan ingin bertanya dimana letak gula ke Dira, Mateo langsung menggelengkan kepalanya melihat Darren dan Dira tengah berciuman.


"Benar-benar kalian ini, berciuman dimana saja, dan nggak tau tempat," gerutu Mateo yang langsung kembali masuk ke dalam rumah.


__ADS_2