Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Kemarahan Siska


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Dira terbangun dan melirik Darren yang masih tertidur dengan posisi tidur terlentang. Dira bangun dan berpindah tidurnya ke atas tubuh Darren. Dira langsung memeluk Darren juga menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Darren seraya mencium wangi tubuh Darren.


Tangan Dira menelusup masuk melewati kerah kaos Darren dan mengelus dada bidang Darren. Bagi Dira, ini adalah kegiatan yang menyenangkan. Tidak peduli Darren kesal dengannya, tapi yang jelas Dira suka sekali melakukannya.


"Ra...." suara parau Darren khas bangun tidur.


Darren semakin heran dengan tingkah Dira yang selalu ingin menempel kepadanya, seperti sekarang yang sedang Dira lakukan terhadapnya.


"Hemm...." sahut Dira.


"Stop, jangan terus-menerus mengusap dada aku nanti ada yang bangun," ujar Darren sembari menghentikan gerakan tangan Dira.


Dira mengangkat kepalanya menatap Darren, tapi yang di tatap masih memejamkan matanya. Dira menarik tangannya, kemudian duduk di atas paha Darren. Tangan Dira bergerak membuka baju Darren dengan paksa.


"Ra!! apa-apaan sih!! tolong dong jangan seperti ini terus, aku masih sangat mengantuk. Aku masih sangat lelah, apalagi semalaman tangan aku kebas karena menjadi bantal kamu," ucap Darren dengan nada sedikit meninggi.


"Kamu, membentak aku!"


Dira langsung bangkit dan meninggalkan Darren. Dira berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan sangat kencang.


Brakkk....


Darren terlonjak kaget, saat pintu kamar di tutup dengan sangat kencang. Darren mengusap wajahnya, serta menghela nafasnya. Darren bergegas bangun dan melangkah menuju kamarnya, Darren menekan handle pintu, akan tetapi pintu kamarnya di kunci.


"Ra...." panggil Darren seraya mengetuk pintu kamar.


Dira tak menyahuti panggilan Darren. Justru kini Darren mendengar suara tangis Dira.


"Ra, tolong buka pintunya," mohon Darren yang terus mengetuk pintu kamar.


"Ra... oke, aku minta maaf. Maaf karena aku sudah membentak kamu, ayo sayang buka pintunya." Darren terus mengetuk pintu.


"Sayang, aku mohon buka pintunya...."


Lama Darren mengetuk pintu, tapi sampai saat ini pintunya tak kunjung di buka oleh Dira. Darren menghela nafas panjang, Dira benar-benar tidak membukakan pintunya. Darren juga sudah tidak mendengar suara tangisan Dira. Akhirnya, Darren memilih duduk dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Darren melipat kedua tangannya seraya memejamkan matanya, sambil menunggu Dira keluar kamar.


Dira keluar saat matahari sudah terbit. Dira melihat Darren tengah tertidur sambil duduk, ada rasa kasihan melihat Darren tidur seperti itu tapi Dira masih merasakan kekesalan terhadap Darren. Pada akhirnya Dira membiarkan Darren tetap tidur seperti itu dan berusaha tidak memperdulikannya.


Dira memilih melanjutkan niatnya yaitu mandi, selesai mandi Dira membuka lemarinya dan mengambil pakaiannya. Saat akan melepaskan handuknya, ada tangan kekar melingkar di perutnya. Darren memeluk Dira dari belakang dan mencium bahu polos Dira. Meski kesal, Dira tetap membiarkan Darren memeluknya karena Dira selalu berasa nyaman jika di dekat Darren.


"Maaf...." bisik Darren, lalu tangan Darren menyentuh dagu Dira dan memiringkan kepalanya Dira agar menatapnya.


Darren akan mencium bibir Dira, tapi Dira memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Hati Dira masih kesal karena Darren membentaknya, sedangkan Darren memejamkan matanya berusaha sabar menghadapi sikap Dira yang sedang marah.

__ADS_1


"Minggir, aku mau pakai baju," tukas Dira seraya melepaskan tangan Darren yang melingkar di pinggangnya.


"Aku nggak mau melepaskan pelukanku sebelum kamu memaafkan aku," ucap Darren yang semakin mengeratkan pelukannya.


Dira diam dan tidak menjawab perkataan Darren.


"Ra... mau kan kamu memaafkan aku," pinta Darren lembut.


"Aku masih kesal sama kamu, jadi lepaskan aku!"


"Ra...."


"Lepaskan aku!!" kesal Dira. "Ini sudah siang, aku mau masak."


Dengan terpaksa Darren melepaskan Dira dan melangkah keluar menuju kamar mandi.


***


Selesai sarapan, Darren langsung mengeluarkan motornya dari dalam rumah. Setelah itu Darren kembali masuk untuk berpamitan kepada Dira yang kini sedang mencuci piring bekas sarapan.


"Sayang, aku berangkat dulu ya."


" Iya...." jawab Dira sembari membilas piring.


Darren masih berdiri di samping Dira, menunggu Dira menyelesaikan pekerjaannya. Setelah itu Darren langsung memeluk Dira dan mencium kening dan bibirnya Dira.


"Sudah sana berangkat," ketus Dira sembari mendorong tubuh Darren yang masih memeluknya.


"Iya, aku berangkat dulu."


Setelah Darren berangkat kerja, Dira yang saat ini tengah menyapu halaman rumahnya dikejutkan dengan kedatangan Andi.


"Ra...!!" panggil Andi yang terlihat gelisah sembari menengok ke arah jalan.


Dira mengernyitkan dahinya, memandangi Andi yang mengenakan pakaian pengantin. Sebab yang Dira tahu, hari ini Andi akan melangsungkan pernikahannya dengan Siska.


"Ra, ayo ikut aku pergi dari kampung ini," ajak Andi yang kini menarik tangan Dira.


"Apaan sih, lepaskan!" ketus Dira yang berusaha melepaskan tangannya yang di tarik oleh Andi.


Andi tidak memperdulikan Dira yang memberontak dan terus menarik Dira masuk ke dalam mobilnya.


"Andi...!!"

__ADS_1


Andi menengok, begitupun Dira. Ibu Andi menatap tajam kepada Dira.


" Bu Nur...." ucap Dira.


"Ibu...." gumam Andi.


Tidak lama, Siska juga datang dengan wajah sembab di temani oleh saudara perempuan Andi. Siska langsung mencak-mencak kepada Dira.


"Aw...." jerit Dira karena Siska kini menjambak rambutnya.


"Lepaskan Dira, Sis!!" pinta Andi sambil berusaha melepaskan tangan Siska yang menjambak rambut Dira.


"Dasar pelakor! wanita tak tahu diri, wanita murahan!! bisa-bisanya wanita seperti kamu menggoda calon suami aku!!" tuding Siska yang masih menjambak rambut Dira.


"Aw... lepaskan aku...." teriak Dira.


"Siska lepaskan Dira!" lantang Andi yang terus berusaha melerai Siska agar berhenti menjambak rambut Dira.


"Lepaskan aku, Ndi. Gara-gara wanita sialan ini kamu kabur dari pernikahan kita," ucap Siska penuh kemarahan.


"Ibu, kak. Tolong bantu aku menghentikan pertengkaran ini," pinta Andi.


"Biarkan saja Siska menyiksa perempuan murahan itu," sahut ibunya Andi.


"Ini semua juga gara-gara kamu yang main kabur aja," timpal kakaknya Andi.


Sandi yang akan berangkat dinas, seketika menghentikan laju motornya saat melihat Dira tengah di aniaya. Andi segera menghampiri Dira dan menolong Dira dari Siska yang semakin menyiksa Dira, begitupun Dira yang kini membalas apa yang dilakukan Siska.


Dira dan Siska kini saling menjambak juga saling mencakar dan tak ada yang mau mengalah. Andi berusaha melerai pertikaian antara Siska dan Dira.


"Berhenti!! Kalau tidak berhenti, saya laporkan ke pak RT," ancam Sandi, yang kini berhasil menghentikan Dira dan Siska. Keduanya saling melepaskan tangannya dari rambut lawan, setelah itu Siska langsung mendorong tubuh Dira dengan sangat kencang dan Dira langsung terjatuh dengan posisi terduduk.


"Aw...." ringis Dira.


"Ra...." teriak Andi dan Sandi.


Sandi langsung mendekati Dira yang kini tengah kesakitan menahan perutnya.


"Aw... perutku sakit...." ringis Dira memegangi perutnya yang semakin sakit.


Sandi berdiri dan menatap tajam ke arah Andi, Siska juga kepada ibu dan kakak Andi. Sandi sangat marah dan langsung menghajar Andi dengan satu pukulan di wajah Andi.


"Andi...." jerit Siska dan Bu Nur.

__ADS_1


"Pergi kalian dari sini! kalau tidak saya adukan kalian semua ke Pak RT."


"Aahh... San. Perutku sakit sekali," rintih Dira dan Andi langsung membantu Dira bangun dari duduknya di atas tanah. Seketika darah segar mengalir ke kaki Dira dan membuat semua yang ada di sana langsung di landa khawatir melihat darah mengalir di kaki Dira.


__ADS_2