
Mateo tiba di rumah dan mendengus melihat kemesraan Darren dan Dira, apa lagi Darren terus memeluk Dira dari samping seraya mencium tengkuk Dira. Mateo menggerutu di dalam hatinya apa lagi melihat leher Dira yang berhias warna merah keunguan.
"Berapa ronde? sampai jam segini baru pulang!" cibir Mateo dan mendelik menatap Darren, yang di tatap tetap santai dengan cibiran dari Mateo.
"Berapa ronde, Ra. Aku lupa tidak menghitungnya, saking nikmatnya bercinta," balas Darren santai sembari merangkul pundak Dira dan langsung di hadiahi pukulan dari Dira.
"Cih... nyesel gue nanya kayak gitu," sungut Mateo.
Darren tersenyum lebar, dan memandang Mateo yang kesal terhadapnya.
"Ra... ke kamar yuk. Kita ulangi lagi kejadian saat kita berada di hotel, biar yang jomblo semakin meronta-ronta," cetus Darren tersenyum menyeringai, Dira langsung memolototi nya.
"Sialan elu!!" sentak Mateo seraya menendang tulang betis Darren.
Darren hanya tersenyum menanggapinya.
"Dari mana elo, anak perjaka main mulu," cetus Darren.
Mateo mendelik menatap Darren. Ingin rasanya Mateo mematahkan tangannya Darren.
"Terserah gue mau pergi ke mana. Kalian juga! kenapa baru pulang?!" kesal Mateo.
"Kenapa memangnya? elo kangen sama gue," sahut Darren santai.
"Najis! ngapain juga gue kangen sama elo," ketus Mateo, sedangkan Darren hanya terkekeh kecil mendengarnya.
Drrtt Drrtt Drrtt
Dering handphone Mateo berbunyi nyaring. Dirogohnya handphone di saku kemejanya.
"Office...." gumam Mateo.
Mateo segera mengangkat telponnya. Kedua alisnya mengkerut saat menerima telepon dari karyawannya.
"Oke, saya langsung berangkat ke Jakarta," ujar Mateo dan menutup telponnya.
"Kenapa bro?" tanya Darren.
Mateo menghela nafas dan menatap lekat sahabatnya itu. "Gue harus balik ke Jakarta. Ada masalah di kantor dan gue yang harus turun tangan," ucapnya lesu.
__ADS_1
"Kapan?"
"Sekarang. Gue siap-siap dulu," ucap Mateo seraya melangkah masuk ke kamarnya.
Sebenarnya Mateo sangat berat meninggalkan kampung ini, dirinya sudah betah tinggal di kampung. Apalagi sekarang ada yang telah menarik perhatiannya, gadis yang istimewa, lugu, sederhana, dan juga pekerja keras, siapa lagi kalau bukan Anin si gadis bisu.
Mateo sudah siap untuk pergi meninggalkan desa ini. Dengan langkah berat Mateo berjalan keluar di iringi sepasang suami-istri yang mengikutinya dari belakang.
"Ren, gue pergi dulu. Thanks sudah izinin gue tinggal disini, kapan-kapan gue bakal balik lagi ke sini," ujar Mateo seraya memeluk Darren.
"Iya, hati-hati di jalan bro," balas Darren dan Mateo hanya mengangguk kecil.
"Ra, gue pamit. Tolong jagain temen gue ini, terkadang dia suka godain cewek-cewek seksi."
"Jangan dengerin, Ra," sergah Darren seraya mendorong bahu Mateo dan Mateo terkekeh kecil.
"Gue juga mau nitip ini, tolong kasih ke Anin."
Mateo menyerahkan sepucuk surat kepada Dira. " Iya, pasti aku serahin surat ini ke Anin."
Setelah itu, Mateo melangkah menuju mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Dira dan Darren melambaikan tangannya dan terus berdiri di depan rumah sampai mobil Mateo menghilangkan dari pandangannya.
"Darren...!!" jerit Dira.
***
Pagipun menyapa, suara ayam berkokok nyaring. kedua insan yang di mabuk cinta, kini tengah berolahraga di atas ranjang dan tidak peduli di luar sana matahari sudah menyapa alam semesta dan mulai memancarkan sinarnya.
Erangan dan desa han, juga suara decitan ranjang saling bersahutan di kamar berukuran tiga kali tiga meter. Semenjak mengesahkan Dira menjadi wanita dewasa, Darren terus menginginkan Dira menghangatkan tubuhnya.
Erangan panjang Darren menandakan selesainya percintaan panas di pagi hari. Selesai berolahraga di atas ranjang, Darren segera bangun dan mandi bersama dengan Dira.
"Ra, kita sarapan bubur ayam saja," seloroh Darren yang sedang menyisir rambutnya.
" Iya...." sahut Dira sembari mengeringkan rambut basahnya.
"Kamu makin cantik, wahai mantan perawan."
"Oh, berarti kemarin-kemarin aku nggak cantik dong!" sungut Dira.
__ADS_1
"Cantik, kamu mah selalu cantik. Apalagi kalau kamu nggak pakai baju, bukan cantik lagi tapi makin seksi. Bikin aku ingin terus menghangatkan rahim kamu," ucap Darren yang kini tangannya sudah mulai bergerilya ke dada Dira dan mere masnya.
"Kenapa sekarang otak kamu jadi makin mesum sih," cibir Dira sembari memukul tangan Darren yang kini menelusup masuk ke balik baju Dira.
"Kamu yang sudah menodai kesucian otakku," lanjut Darren tersenyum, sedangkan Dira hanya memutarkan bola matanya. " Dan kamu juga sudah merenggut keperjakaanku, jadi jangan salahkan aku jika sekarang di otakku selalu omes sama kamu. Seperti tanganku ini pengennya menguyel-uyel dada kamu, itu juga gara-gara kamu."
"Kalau sudah begini, jangan salahkan aku kalau aku bakal terus menerkam kamu setiap sa... hmmpp...."
Dira langsung membungkam mulut Darren dengan ciuman, dan hal itu membuat Darren tersenyum di dalam hatinya. Dira melerai ciumannya dan menarik tisu di atas meja rias lalu mengelap bibir Darren yang terkena lipstiknya. Dira terpaksa membungkam mulut Darren dengan ciuman, jika tidak Darren bakal terus nyerocos dan akan berhenti bila Dira membungkamnya hanya dengan ciuman.
Dira mengambil tasnya yang tercantol di pintu kamar dan melangkah keluar. Darren tersenyum lebar karena mendapatkan ciuman dari Dira, Darren bergegas mengikuti langkah Dira yang sudah keluar dari kamarnya.
Kini Dira dan Darren tengah duduk di depan penjual bubur ayam, saat sedang menunggu bubur ayam siap di sajikan, Dira melihat Anin yang sedang berjalan dan sepertinya akan berangkat ke pasar.
"Anin...!!" teriak Dira sembari melambaikan tangannya. " Sini." Dira melambai meminta Anin agar menghampirinya.
Anin mengangguk, dan langsung menghampiri Dira.
"Apa," Sahut Anin tanpa suara. Dira menepuk kursi plastik di sampingnya, meminta Anin agar duduk. Dira membuka tasnya dan mengambil surat dari Mateo lalu di berikan kepada Anin.
Anin menerima surat itu sembari mengernyitkan dahinya menatap surat tersebut.
"Kemarin kang Teo pulang ke Jakarta, dan kang Teo menitipkan surat ini untuk kamu."
Anin diam, ada rasa sedih mendengar Mateo sudah kembali ke Jakarta. Anin menatap lekat surat dari Mateo, dan tanpa terasa matanya berembun. Buru-buru Anin mengelap matanya sebelum air matanya jatuh ke pipinya.
Anin menghela nafasnya, lalu Anin mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Dira.
"Kamu sudah sarapan belum? Kalau belum kita sarapan bersama," tawar Dira dan di jawab dengan gelengan kepala.
"Yakin... nggak mau ikut sarapan?" tanya Dira yang kini menerima semangkuk bubur ayam.
Anin mengangguk seraya tersenyum simpul, lalu Anin bangkit dari duduknya.
"Mau ke pasar." Gerak bibir Anin dan Dira mengerti apa yang di katakannya walau lewat gerakan bibirnya saja tanpa suara.
"Iya, hati-hati di jalan."
Anin mengangguk dan segera pergi meninggalkan Dira dan Darren, dengan perasaan sedih.
__ADS_1