
Hari-hari Darren dan Dira semakin berwarna setelah kelahiran baby Rendi. Keduanya begitu menikmati peran barunya sebagai orang tua baru. Dira dan Darren selalu bergantian menjaga malaikat kecilnya. Begitu juga dengan Oma Ros yang semakin semangat untuk cepat sembuh dari sakitnya. Pelan-pelan Oma Ros mulai berlatih berjalan, agar nanti bisa menemani sang cicit jalan-jalan.
Hadirnya baby Rendi di tengah-tengah keluarga tuan Bagaskara, seperti sebuah sumber energi di dalam keluarga tuan Bagaskara. Semuanya sangat bahagia, apalagi sekarang baby Rendi sudah bisa merespon dengan senyuman jika sedang di ajak bicara.
Darren dan Dira sepakat tidak menggunakan jasa baby sitter, sebab mami Yuli selalu ada di saat di butuhkan. Seperti sekarang ini, Darren meminta mami Yuli untuk menjaga baby Rendi karena Darren mau membuat kejutan untuk Dira, dan usia baby Rendy kini sudah mau masuk dua bulan. Tentu saja mami Yuli setuju dan tidak keberatan dengan permintaan anaknya itu.
"Sayang, apa sudah selesai?" Tanya Darren yang sedang duduk di sofa sembari memangku laptopnya.
"Sudah. Memang kita mau bertemu siapa?" Dira tanya balik.
Darren menutup laptopnya dan menyimpannya di atas meja, lalu mendekati Dira yang sudah sangat cantik dengan gaun berwarna navy.
"Nanti kamu akan tahu sendiri," jawab Darren, lalu Darren merengkuh pinggang Dira dan mengajaknya keluar.
"Tapi pulangnya jangan malam-malam. Aku takut baby Rendi membutuhkanku," tukas Dira mengingatkan Darren.
"Iya...."
Sebelum pergi, Dira dan Darren berpamitan kepada mami Yuli dan Tuan Bagaskara.
"Mi, Pi kamu berdua jalan dulu," ucap Darren.
"Iya, semoga acaranya berjalan lancar," jawab tuan Bagaskara seraya mengedipkan matanya kepada Darren dan Darren pun hanya tersenyum menanggapi perkataan papinya itu.
Sedangkan Dira menggendong baby Rendi dan mencium pipinya yang gembul.
"Jangan rewel ya... Mama perginya cuman sebentar kok," ujar Dira, lalu menyerahkan kembali baby Rendi ke pangkuan mami Yuli.
"Mi... Dira nitip baby Rendi."
"Iya. Kamu tenang saja, baby Rendi aman bersama mami. Sudah sana kalian pergi, nanti keburu malam," tukas mami Yuli seraya memangku baby Rendi.
__ADS_1
Dira dan Darren pun mengangguk lalu keduanya melangkah keluar meninggalkan mami Yuli, Tuan Bagaskara dan juga malaikat kecilnya.
*
*
*
Darren dan Dira sudah tiba di sebuah restoran mewah yang sudah Darren pesan. Darren dan Dira melangkah masuk ke dalam restoran tersebut.
Pelayan yang sudah tahu kalau Darren sudah memesan tempat, langsung mengarahkannya ke tempat yang sudah di pesan Darren.
Sebuah taman kecil yang disulap menjadi sebuah pesta kecil nan mewah Darren persembahkan untuk sang istri tercinta.
"Tunggu dulu sayang," Darren menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" Tanya Dira bingung.
"Oh ya... Kok bisa restoran semewah ini ada tikus," jawab Dira tak percaya tapi Dira semakin menempelkan tubuhnya ke Darren, takut jika itu benar.
"Kamu nggak percaya sama aku."
"Terus gimana dong?" Bingung Dira.
"Hmm...." Darren menggaruk pelipisnya. "Bagaimana kalau mata kamu di tutup," tawar Darren, berharap Dira bisa di kelabui.
"Baiklah, tapi awas kalau kamu bohong dan ngerjain aku," ancam Dira.
"Iya...."
Darren menutup mata Dira menggunakan sapu tangannya, lalu Darren membawa Dira masuk ke tempat yang sudah di pesannya.
__ADS_1
"Apa kita sudah sampai?" tanya Dira, karena langkahnya berhenti.
"Sudah. Sekarang aku buka penutup matanya." Darren melangkah ke belakang tubuh Dira dan Darren meminta salah satu pelayan mendekatinya dan berbisik ke pelayan tersebut. pelayan itu menggantikan posisi Darren di belakang tubuh Dira. Penutup mata Dira di buka setelah mendapat instruksi dari Darren.
Dira membuka matanya, dan mengerjap-ngerjapkan matanya karena silau dengan pancaran cahaya lampu lighting tepat menyorot ke arahnya. Dira mengernyitkan dahinya melihat Darren tengah berdiri di panggung berbentuk lingkaran dengan background lampu hias dan juga bunga yang menghiasi pinggir panggung.
Darren tersenyum menatap wajah cantik sang istri sembari memegangi sebuket bunga cantik di tangannya.
"Sayang...." gumam Dira terkejut dengan suprise yang Darren suguhkan untuknya.
Dira melangkah mendekati Darren yang tengah berdiri gagah di sana. Suara gesekan biola mengiringi langkah kaki Dira. Kedua bola matanya berkaca-kaca dengan kejutan yang di persembahkan untuknya.
Darren mengulurkan tangannya menyambut kedatangan istri cantiknya itu untuk naik ke panggung. Dira menggelengkan pelan kepalanya, karena tak menyangka akan mendapatkan kejutan manis dari Darren.
"Happy anniversary pernikahan pertama kita," ucap Darren dan memberikan bunga tersebut kepada Dira, lalu Darren berlutut di hadapan Dira seraya mengeluarkan cincin berlian kepada Dira.
"Wahai wanita cantik yang sudah menemani hari-hariku dan juga sudah memberikan aku seorang bayi lucu. Terima kasih sudah bersedia menikah denganku, lelaki sombong dan juga angkuh, lelaki yang memiliki pendirian yang tak mau terikat dengan seorang wanita tapi kini lelaki itu bertekuk lutut sama gadis desa yang dulu sangat di bencinya." Darren tersenyum mengingat kejadian dulu, sedangkan Dira tidak bisa lagi menahan desakan air matanya.
"Sayang, kamu sudah banyak memberiku warna dalam hidupku dengan cintamu yang tak pudar walau terpaan orang ketiga selalu hadir di dalam rumah tangga kita. Terima kasih, kamu masih bersedia berada di sampingku. Berjalan bersamaku hingga maut memisahkan kita. Dira Auliyana, istriku. Aku sangat-sangat mencintai kamu." Darren menarik tangan Dira dan melingkarkan cincin berlian ke jari manis Dira, lalu Darren mencium punggung tangan Dira penuh cinta.
Dira menyeka air matanya, lalu Dira segera memeluk Darren dengan perasaan yang teramat membuncah akan cinta Darren berikan.
"Aku juga sangat mencintai kamu, suamiku," balas Dira.
_________***__________
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
Salam manis dari Darren dan Dira ππ
To be continued....
__ADS_1