
Darren diam mematung saat melihat cairan itu keluar cukup deras membasahi kakinya Dira. Anin yang sejak tadi di dekat Dira, mulai panik, lalu Anin berlari ke kamarnya mengambil jaketnya.
"Aduh duh... Perutku kok sakit," ringis Dira seraya memegangi perutnya.
Dira mencengkram tangan Darren, saat rasa mules itu semakin melilit. Dira merintih kesakitan.
"Kenapa, Ra?" Tanya Mateo yang baru tiba dari dapur.
"Perutku sakiiiit...." Ringis Dira.
"Apa?" Mateo ikut panik, karena melihat Dira kesakitan.
Anin langsung menepuk bahu Darren, dan menarik lengan Darren. Darren tersadar dari diamnya karena saking terkejutnya melihat Dira mengeluarkan cairan dari jalan lahirnya.
"Ren! Ayo kita harus cepat-cepat bawa Dira ke rumah sakit!" Ucap Mateo seraya membukakan pintunya.
" Ayo, sayang...." ucap Darren.
Darren dan Anin memapah Dira yang sudah tidak lagi meringis sakit.
"Apa masih sakit perutnya?" Tanya Darren.
Dira menggelengkan kepalanya. Perjalanan menuju lobby apartemen Mateo terasa lebih lama, apalagi Dira mulai merasakan kembali rasa mulesnya.
Di dalam lift, Dira memeluk Darren saat rasa mules itu datang menyerangnya. Dira merintih sakit, tangan Dira semakin kuat mencengkram pinggang Darren. Anin mengelus punggung Dira lembut. Sangat terlihat jelas wajah-wajah panik mereka, cemas dan juga khawatir menjadi satu. Rasanya nano-nano yang di rasakan Darren, Anin dan Mateo.
"Lama banget sih...." Gerutu Mateo melihat angka terasa lambat bergerak.
Akhirnya lift sudah berhenti di lantai dasar. Mereka berempat keluar dari lift seraya memapah Dira. Mateo meraba-raba saku celananya mencari kunci mobilnya.
"Sial...! Kunci mobil gue ketinggalan lagi!" Kesal Mateo, saat keadaan darurat seperti ini kunci mobilnya ketinggalan di apartemennya dan mana mungkin dirinya balik lagi ke atas.
"Ren, kunci mobil elo mana?" Tanya Mateo.
__ADS_1
"Ini...." Darren segera menyerahkan kunci mobilnya dari saku celananya.
"Kalian tunggu di sini. Gue ambil mobilnya dulu." Darren mengangguk dan Mateo pun berlari ke arah mobil Darren. Tak susah baginya mencari mobil Darren dari puluhan mobil yang berjejer di lobby apartemennya, karena biasanya mobil Darren selalu terparkir dekat dengan mobilnya sendiri.
Mateo pun membawa mobil Darren dan menjemput Dira di tempat tadi. Darren membukakan pintu mobilnya dan ikut duduk di samping Dira, begitupun juga Anin ikut duduk di samping Dira.
"Ayo jalan!" perintah Darren.
Mateo langsung tancap gas membawa mobilnya menuju rumah sakit.
Baru setengah perjalanan menuju rumah sakit, Dira mulai merintih tak tertahan.
"Aku sudah nggak tahan lagi," ringis Dira dengan keringat bercucuran dari dahinya, bahkan cengkraman tangan Dira semakin kuat mencengkram tangan Darren.
"Lebih cepat lagi bawa mobilnya!" Desak Darren panik.
"Iya... Tapi ini sudah cepat, Ren!" Mateo juga ikut panik dan melirik Dira yang merintih kesakitan.
"Aku sudah nggak kuat...." Ucap Dira, karena sang buah hati sudah mendorong keluar.
"Sayang... Sabar ya...." Ucap Darren dengan mata berkaca-kaca. Sungguh dirinya tak tega melihat sang istri kesakitan. Darren terus mengelus perut Dira.
"Aku sudah tidak bisa menahan lagi... Mulesku semakin tak tertahan," keluh Dira dan kini Dira malah mengeden.
"Sayang...." Darren semakin panik, cemas dan khawatir.
Anin memindahkan kedua kaki Dira naik ke jok mobil. Anin membuka jaketnya menutupi paha Dira. Wajah Anin sama paniknya tapi dalam keadaan darurat seperti ini, Anin berusaha tetap tenang.
Anin membuka celana segitiga Dira yang kini sudah bercampur dengan darah. Anin memberi kode berupa anggukan kepala kepada Dira.
"Anin... Aaahhh...." Jerit Dira mengeden kuat.
Mateo menepikan mobilnya, saat melihat Dira akan segera melahirkan. Mateo tidak mampu melihat Dira melahirkan dan memilih berhenti daripada tetap melanjutkan membawa mobilnya yang akan membahayakan keselamatan semuanya.
__ADS_1
"Maaf... Aku nggak sanggup melihatnya," ucap Mateo dan segera turun dari mobil.
Dira terus mendorong perutnya dan semakin kuat Dira mengeden, mendorong bayinya keluar.
Darren yang panik dan cemas meneteskan air matanya, melihat Dira berjuang melahirkan malaikat kecilnya. Di dalam lubuk hatinya, Darren terus berdoa.
Dira menarik dalam-dalam nafasnya, kemudian Dira kembali mengeden kuat.
"Aaarrggh...."
"Sayang... Kamu pasti bisa," ucap Darren dan Dira mengangguk kecil sembari mengeden.
Anin yang membantu Dira melahirkan tetap berusaha setenang mungkin. Tenggorokan Anin tercekat saat melihat kepala sang bayi sudah terlihat. Anin menutup mata dan berdoa.
Ya Allah tolong lancarkan persalinan Dira dan selamatkan keduanya.
Anin menghembuskan nafasnya perlahan kemudian Anin meminta Dira terus mendorong lebih kuat lagi. Tangan Anin sudah memegang kepala sang bayi dan siap membantu Dira.
Dira terus dan terus mendorong perutnya lebih dalam lagi. Hingga terdengar suara lengkingan dari tangisan sang buah hatinya.
Oek... Oek.... Oek....
"Alhamdulillah...." Ucap Darren lega mendengar suara tangis malaikat kecilnya. Darren mencium pucuk kepala Dira dalam di sertai dengan Isak tangis Darren.
"Terima kasih sayang... Kamu hebat sayang...." Lirih Darren.
Anin yang melihat bayi Dira di tangannya tertegun sejenak sambil berkaca-kaca.
"Ba... ba-yi...," ucap Anin tanpa sadar Anin mengeluarkan suaranya.
Dira dan Darren langsung menatap Anin mendengar Anin bicara.
_________***________
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....