
Sebulan lebih sudah berlalu dan saat ini Dira tengah mematung menatap benda kecil yang tergeletak di meja westafel kamar mandinya. Tubuhnya seketika langsung lesu saat kedua bola matanya menangkap garis berwarna merah.
Dira menarik nafasnya, lalu Dira mengusap wajahnya. Berusaha menerima kenyataan ini. Dira keluar membawa benda kecil itu, dan turun ke bawah dimana Darren berada.
Dira langsung menggeletakkan benda kecil itu di meja makan, tepat di samping piring Darren. Dira menatap sebal wajah Darren, kerena apa yang di khawatirkannya kini menjadi kenyataan.
Darren menautkan kedua alisnya menatap benda Kecil itu dan menatapnya lekat. Darren mengambil benda kecil itu dan menatap Dira yang memandangnya dingin.
"Sayang, kamu...."
"Iya!! Aku hamil lagi," ketus Dira.
"Hamil? Kamu hamil lagi, Ra," tanya mami Yuli, meminta penjelasan.
Dira langsung memukul dada Darren kesal.
"Aku belum siap hamil lagi, tahu!!" ucap Dira terus memukul Darren. "Kamu nggak lihat apa, kalau baby Rendi masih sangat kecil !!" Kesal Dira, tapi Darren diam saja dan membiarkan Dira menumpahkan kekesalannya.
Dira menghentikan pukulannya dan mencebikan bibirnya kesal. Darren langsung memeluk Dira dan mengelus punggung Dira.
"Kamu nggak boleh menolaknya, lagian kehamilan itu adalah anugerah jadi kamu harus menerimanya," ucap Darren lembut.
"Tapi aku belum siap hamil lagi," rengek Dira.
"Iya... Tapi sekarang kenyataan kamu hamil lagi. Sudah jangan sedih, biarkan calon anak kita tumbuh sehat," ucap Darren.
"Iyalah! Mau gimana lagi. Masa iya aku gugurin," jawab Dira ketus.
"Jadi benar mami akan punya cucu lagi," tanya mami Yuli lagi dengan mata berbinar.
"Iya," jawab Dira menganggukkan kepalanya.
"Aahh...." Jerit bahagia mami Yuli. " Berarti Mami bakal punya cucu lagi dong," seru mami Yuli dan mami Yuli langsung meninggalkan meja makan dan berjalan cepat ke kamar Oma Ros.
Dira dan Darren saling pandang melihat tingkah mami Yuli yang langsung pergi menemui Oma Ros di kamarnya.
"Bu...." Teriak Mami Yuli memanggil Oma Ros.
Oma Ros yang baru selesai membersihkan badannya yang di bantu oleh suster Ana, terkejut dengan teriakan menantunya itu.
"A-ada a-apa ter-riak-teri-ak?"
"Dira Bu... Dira. Dira hamil lagi," kata mami Yuli dengan senyum bahagianya.
"A-apa! Dira ham-il lag-i?"
__ADS_1
"Iya, Bu. Bentar lagi Yuli bakal punya dua cucu," seru Mam Yuli yang begitu antusias.
Sedetik kemudian Oma Ros langsung menarik sudut bibirnya, Oma Ros tersenyum mendengar kabar kalau cucu mantunya itu hamil lagi.
"I-bu sen-ang denger-nya," ucap Oma Ros.
"Yuli juga, Bu."
**
Di tempat yang berbeda, Anin tengah muntah-muntah di westafel dapur.
Hoek Hoek Hoek
Mateo terus memijit tengkuk Anin, sampai Anin berhenti muntah. Wajah Anin terlihat sangat pucat lalu Anin memeluk suaminya itu.
"Sudah beberapa hari ini kamu muntah-muntah terus. Bagaimana kalau ke dokter saja," ucap Mateo yang begitu khawatir dengan keadaan Anin.
Anin mengadahkan pandangannya menatap wajah Mateo. Anin menarik tangan Mateo dan meletakkan tangan Mateo di perutnya.
Mateo mengernyitkan dahinya, bingung dengan maksud Anin.
"Sebelum ke dokter, aku mau memberi tahu kamu. Kalau di dalam perut ini ada kehidupan baru," ucap Anin.
"Aku sedang hamil," jelas Anin.
Mateo terdiam dan mencerna perkataan Anin yang mengejutkan.
"Sayang...." Anin melambaikan tangannya di depan wajah Mateo, karena Mateo diam saja. Sedetik berikutnya, Mateo langsung memeluk Anin dengan begitu erat. Setelah itu Mateo menciumi seluruh wajah Anin.
Kemudian Mateo berlutut, dan mencium perut Anin. Mateo mengusap-usap perut Anin dengan rasa bahagia yang membuncah.
"Terima kasih baby, sudah hadir di perut bunda. Ayah sayang kamu, my baby." Mateo kembali mencium perut Anin.
Mateo bangun dari lututnya dan mencium kening Anin.
"Aku bahagia kamu hamil, setelah berbulan-bulan menunggu akhirnya kamu hamil juga. Nanti siang kita harus ke dokter, memeriksakan kandungan kamu, sayang," tukas Mateo.
"Iya...."
"Sekarang, kamu istirahat dulu. Urusan masak serahkan kepadaku."
Anin pun mengangguk, menuruti perkataan sang suami. Selain itu juga, dirinya merasakan kepalanya pusing.
***
__ADS_1
Siang harinya, sesuai dengan rencananya. Mateo mengajak Anin pergi ke dokter kandungan. Anin dan Mateo menunggu terlebih dahulu dan saling bergenggam tangan. Saat sedang memperhatikan seorang anak kecil yang menciumi perut ibunya yang sudah besar, tiba-tiba pundaknya Mateo ada yang menimpukinya.
"Elo di sini juga," tanya Darren seraya duduk di sampingnya dan Dira cipika cipiki dengan Anin.
"Iya, Anin hamil," ucap Mateo dengan menampilkan wajah bahagianya.
"Wah, selamat ya. Akhirnya hamil juga," pungkas Darren ikut bahagia mendengar Anin juga hamil.
"Terus, kalian sendiri ngapain ada disini ." Tanya balik.
"Sama kayak elo."
"Maksudnya, Dira hamil lagi?" jawab Mateo dan tak menyangka kalau Dira hamil lagi.
" Yup, benar. Istriku ini tengah hamil lagi."
"Serius, Ren! berarti Dira dan Anin hamilnya barengan dong."
"Tapi ngomong-ngomong cepat banget Dira hamil lagi," cetus Mateo.
"Itu karena gue lelaki perkasa, makanya Dira cepat hamil," sombong Darren.
"Cih... dasar, tapi selamat ya Ra atas kehamilan yang kedua." Ucap Mateo.
"Iya, kang. Kang Teo juga selamat karena sebentar lagi akan jadi seorang bapak," tutur Dira.
Kedua pasangan itu saling lempar senyum dan juga saling berbahagia dengan kehamilannya. Ini adalah berita yang sangat menggembirakan bagi kedua pasangan itu. Walau awalnya Dira tidak menerima kehamilannya, tapi kini Dira harus bersyukur karena Tuhan mempercayainya lagi.
πΊπΊπΊ
TAMAT
___________***_________
Terima kasih kepada para readers yang mengikuti cerita novel ini dari awal. Maaf kalau alur ceritanya membosankan, tapi othor senang karena kalian masih sedia membaca novel ini.
***
Readers : Thor bagaimana dengan kisah Regan.
Othor : Tenang othor bakal kasih Bonchap, maka di tunggu saja.
Terima kasih....
Salam sayang ππ
__ADS_1