
Dira menggeliat, merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk akibat percintaannya bersama Darren. Dira membuka matanya, kemudian menengok ke arah Darren yang masih tidur telungkup. Dira tersenyum menatap wajah damai Darren, Dira kembali terngiang-ngiang kejadian semalam. Dimana dirinya menghabiskan malam yang panjang bertabur ******* dan erangan. Wajah Dira merona, mengingat dirinya begitu menikmati percintaannya bersama Darren.
Dira duduk dan satu kakinya turun ke lantai. Dira menggigit bibir bawahnya, merasakan rasa perih di bagian sensitifnya saat bergerak. Satu kakinya lagi di turunkan dengan sangat pelan. Dira bangun dari duduknya, seketika rasa perih Dira rasakan di bagian pangkal pahanya.
"Iiisshh...." Dira berdesis meringis perih saat melangkah dan hal itu membuat Darren terbangun dari tidurnya.
"Ra...."
Dira menengok menatap muka bantal Darren. " Maaf, jika suaraku membangunkan kamu," ucap Dira tak enak hati.
"Iya ngga papa, apa itunya masih sakit?" tanya Darren dan Dira mengangguk pelan.
"Kenapa nggak membangunkan aku?"
" Aku nggak tega bangunin kamu. Aku masih sanggup jalan sendiri ke kamar mandi."
"Kamu yakin?"
"Iya," jawab Dira cepat, kemudian Dira melangkah lagi sembari memejamkan matanya menahan rasa perih.
Darren menggeleng dan segera turun dari ranjang. Di angkatnya tubuh Dira dan kembali di bawa ke atas ranjang.
"Darren!" pekik Dira.
"Aku mau melihatnya. Sekarang buka pahanya kamu," pinta Darren.
Dira menggeleng cepat, dan malah semakin merapatkan kedua pahanya seraya menutupi area pribadinya. Darren mendengus melihat Dira yang yang tak menuruti perintahnya.
"Ra... buka! Aku cuma mau meriksa saja." Tegas Darren.
"Tapi...."
"Ra, cepat!!"
Dengan ragu Dira melebarkan kedua pahanya seraya menggigit bibirnya. Ada rasa malu ketika memperlihatkan area pribadinya.
__ADS_1
Darren tersenyum melihat wajah Dira memerah dan membuang mukanya.
"Nggak usah malu-malu, Ra. Lagian aku sudah melihatnya dengan sangat jelas," cetus Darren.
"Apaan sih!!" dengus Dira.
Darren memeriksa area terlarang Dira. Darren meringis melihat area pangkal paha Dira sedikit membengkak dan memerah akibat ulahnya yang semalam terus mengajaknya menuju kenikmatan yang hakiki.
"Ternyata sedikit bengkak, Ra," ucap Darren merasa tak enak hati menatap Dira yang juga sedang menatapnya.
"O ya...."
"Iya, nanti aku cari salep buat itunya kamu," sambung Darren. " Kamu mau ke kamar mandi?"
"Iya...." jawab Dira.
Darren bangun kemudian membopong tubuh Dira dan membawanya ke kamar mandi. Di turunkannya tubuh Dira, setelah itu Darren memutarkan kran air dan mengatur suhu air shower menjadi hangat.
"Sini, biar aku yang memandikan kamu."
"Tenang saja, Ra. Aku cuma memandikan kamu, jadi kamu tenang saja," pungkas Darren meyakinkan Dira.
"Tapi...."
" Stop! jangan bicara lagi."
Darren langsung membasahi tubuh Dira dan juga dirinya. Darren juga menyabuni seluruh tubuh Dira. Ternyata apa yang dirinya lakukan terhadap Dira, membuat dirinya kembali berha srat dan ingin menyentuh kembali tubuh Dira. Akan tetapi Darren berusaha menahannya.
Selesai memandikan Dira, dan juga dirinya. Darren langsung mengeringkan tubuh Dira menggunakan handuk. Saat mengeringkan bagian depan tubuh Dira, apalagi melihat gunung kembar Dira, membuat Darren tidak bisa menahannya lagi.
"Ra... aku...."
Darren tak meneruskan ucapannya, karena dirinya benar-benar sudah tidak sanggup lagi menahan hasratnya.
Di magutnya bibir Dira penuh cinta, dan menggiring tubuh Dira ke dinding kamar mandi.
__ADS_1
"Maaf Ra, aku menginginkan kamu lagi," ucap Darren yang sudah berkabut gai rah menatap kedua bola mata Dira.
"Tapi, Ren...."
"Aku janji akan pelan-pelan saat menyentuhmu," ucapnya memelas.
Dira menatap bola mata Darren yang memelas juga memang sudah berkabut gai rah.
"Baiklah...." jawab Dira lirih.
Darren tersenyum, kemudian mengecup bibir ranum Dira. Di angkat tubuh Dira dan membawanya keluar menuju ranjang untuk mengulangi percintaannya yang akan bertambah memabukkan juga semakin menyesatkan keduanya dalam gelombang kenikmatan yang semakin bergelora.
Darren terus merayu tubuh Dira lewat sentuhan juga gerakan pinggulnya, sehingga Dira terus mengerang merdu saat dirinya terus bergerak dan memperdalam burung kisutnya menabrak dinding rahim Dira.
Walau masih perih tapi Dira juga tidak bisa memungkiri ketika Darren terus memanjakan tubuhnya, terutama area pribadinya yang kini sedang di tarik ulurkan oleh Darren.
Dira mendesah nikmat, di saat pele pasannya datang menghampirinya. Dira mendekap tubuh Darren dengan tubuh bergetar akibat Pele pasan yang sempurna.
Darren bergerak lagi, mengajak Dira menuju puncak yang lebih indah lagi. Puncak dimana dirinya dan juga Dira yang akan berada di titik tertinggi percintaan yang sesungguhnya.
"Ra... aaahh...."
"Aarrggh...."
Dira dan Darren sama-sama mengerang di puncak tertingginya dan saling memeluk satu sama lain saat sama-sama melepaskan benih cintanya.
Kedua nafas mereka masih memburu dan tersengal-sengal, peluh keduanya melebur menjadi satu dan membiarkan sisa Pele pasan menghilang dengan sendirinya.
Darren bangkit dari atas tubuh Dira dan merebahkan diri di samping Dira.
"Kita istirahat dulu, setelah itu kita pulang."
Dira mengangguk karena rasa lelah kini dirinya rasakan, begitupun juga Darren. Di tariknya tubuh Dira agar masuk dalam dekapannya, setelah itu Darren langsung memejamkan matanya dan mencoba meraih alam mimpi, begitu juga Dira.
_______***_______
__ADS_1
Terima kasih sudah masih setia membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like ๐, agar othor semangat up nya.