
Setelah berbulan-bulan lamanya, mengejar restu dari Mang Ujang. Kini Regan bernafas lega, karena keinginannya menikahi sang pujaan hati akan terlaksana. Regan dan keluarganya sudah berada di kampung halaman Seril.
Regan turun dari mobil dengan pakaian pengantinnya. Terlihat sekali kalau Regan gugup. Regan berjalan ke tenda, tempat acara pernikahannya dengan Seril. Dengan langkah tegap dan gagah, Regan langsung di arahkan ke kursi dimana bapak penghulu sudah duduk di sana.
Berkali-kali Regan menarik nafasnya dan hembuskan perlahan, demi menetralisir rasa gugupnya.
Acara ijab qobul pun segera di mulai setelah pak ustadz membacakan ayat suci Al-Quran. Mang Ujang sudah mengulurkan tangannya dan di sambut gugup oleh Regan. Kedua tangan Regan berasa dingin dan berkeringat, apalagi melihat Mang Ujang sudah bersiap-siap menikahkan dirinya dengan putri satu-satunya.
Dengan lantang dan dengan satu tarikan nafas, Regan mengijab qobul kan sang pujaan hatinya di depan keluarga dan para tamu yang hadir. Regan bernafas lega setelah para saksi menyerukan kata sah.
Seril datang di bimbing oleh Dira, melangkah dengan perlahan ke arah Regan yang kini berdiri dan menyambut sang istri tercinta. Keduanya saling lempar senyum bahagia, setelah perjuangannya selama ini, kini berakhir dengan manis.
"Mereka serasi ya," bisik Dira kepada Darren yang tengah menggendong baby Rendi. Dira sudah duduk kembali di samping Darren.
"Serasian kita, yang. Apalagi kita sudah punya buntut," jawab Darren.
"Iya-iya, kita yang paling serasi," timpal Dira sembari mengelus gatal perutnya, yang kini sudah berusia delapan bulan.
***
Acara pernikahan Regan dan Seril telah usai. Dira mengajak mertuanya mampir ke rumah lamanya, rumah yang penuh dengan kenangan bersama Darren.
Sebelumnya, Dira meminta kepada Sandi untuk membersihkan rumahnya.
Dira membuka pintu rumahnya lebar.
"Ayo, masuk mi, Pi." Ucap Dira mempersilahkan mertuanya masuk ke dalam rumah.
Kedua mertuanya mengedarkan pandangannya, mengamati rumah peninggalan orang tua Dira. Rumah yang tidak besar dan sederhana, tapi bisa membuat nyaman.
"Yang, bisa bersihkan kasurnya. Aku mau menidurkan Rendi di kamar," cetus Darren.
"Iya...." Dira segera membersihkan kasurnya dan setelah itu merebahkan tubuh putra kecilnya di kasur.
Dira dan Darren keluar kamar dan menemui Mami dan Papi di ruang tamu.
"Mami sama Papi mau minum nggak?" Tawar Dira.
"Nggak usah, Ra. Mami mau istirahat saja, temenin cucu ganteng Mami," ucap Mami Yuli, lalu Mami Yuli masuk ke kamar dimana cucunya tidur.
"Papi, mau istirahat juga," ujar Dira lagi.
"Papi mau istirahat disini saja."
__ADS_1
Melihat mertuanya pada istirahat, Dira dan Darren memilih duduk di teras, tidak lupa Dira sudah membuat secangkir kopi hitam buat Darren. Keduanya menikmati suasana siang itu, dengan semilirnya angin.
"Aku mau kencing dulu," ucap Darren, lalu bangun dan melangkah masuk ke dalam rumah menuju kamar mandi.
Setelah Darren masuk, tiba-tiba sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Dira sedikit terperanjat, melihat siapa gerangan yang ada di atas motornya. Lelaki itu tersenyum manis kepadanya, Dira terpaksa membalas senyuman lelaki itu, dengan senyum palsu.
"Ra...." Sapa lelaki itu, yang tak lain adalah sang mantan kekasih, Andi.
Dira hanya mengangguk kecil.
"Sudah lama sekali kita tak jumpa, dan sekarang kamu tengah hamil lagi," sambung Andi lagi.
Dira hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Andi. Tidak lama Darren sudah kembali lagi dari kamar mandi. Darren menatap Andi berang.
"Ngapain kamu kesini?" Ucap Darren dengan nada ketus.
"Kebetulan lewat," jawab Andi, lalu Andi pamit, karena tatapan Darren tidak bersahabat.
"Masih saja terlihat suka sama kamu, Ra," kesal Darren cemburu.
"Sudah hiraukan saja." Dira mengelus dada Darren, menenangkan hati Darren yang cemburu.
Menjelang sore, Mami Yuli dan Tuan Bagaskara balik lagi ke Jakarta, karena Oma Ros tidak ikut ke pernikahan Regan.
"Ya, Mi...." Jawab Dira.
Mami Yuli menyerahkan Rendi ke Dira, setelah itu Mami Yuli dan Tuan Bagaskara naik ke mobil yang di supirin oleh Pak Ari. Dira dan Darren melambaikan tangannya, mengiringi kepulangan Mami Yuli dan Tuan Bagaskara.
"Ayo masuk," ajak Darren sembari merangkul pundak Dira.
Sekitar jam lima sore, ketiga sahabatnya Darren pada datang berkunjung ke rumah. Arga mendengus sebal, sebab sahabatnya yang lain sudah memiliki pasangan termasuk Very yang belum lama ini memiliki kekasih.
"Kenapa cemberut?" Tanya Darren sembari melemparkan bekas batang rokok ke arah Arga.
"Gue, sebel. Diantara yang lain, cuman gue doang yang nggak punya pasangan," keluh Arga yang langsung mendapatkan sindiran dari Very.
"Makanya, jadi cowok tuh. Jangan plin-plan, sudah jelas ada yang suka sama elo. Eh ... Elo tolak mentah-mentah tuh cewek."
"Bukan gue plin-plan, o'on! Tapi gue harus tahu dulu, seperti apa kelakuan tuh cewek!" Ucap Arga nggak mau kalah.
"Ya sudah. Sekarang jangan mengeluh dong. Kan elo sendiri yang nolak," lanjut Very berucap.
"Au ah! Mending gue main saja sama ponakan gue yang ganteng."
__ADS_1
Arga langsung mendekati Rendi yang tengah bermain di lantai bersama Dira dan Anin.
Saat sedang asik bercakap-cakap, terdengar suara langkah kaki dari luar dan mengetuk pintu. Dira bangun dan segera membukakan pintu. Betapa terkejutnya Dira, saat tau siapa orang yang bertandang ke rumahnya.
Dira melirik Darren yang juga tengah menatapnya.
"Siapa?" Tanya Darren tanpa suara.
Dira hanya memberi kode berupa lirikan. Darren yang penasaran, mendekati Dira dan Darren juga terkejut melihat seorang wanita seksi tengah tersenyum manis kepadanya.
"Hai, sudah lama tidak berjumpa," ujar Brendalina.
Darren tersenyum kaku, "Iya, memang lama kita tidak berjumpa," jawab Darren.
"Ada apa, mba datang kesini?" Tanya Dira.
"Aku kesini mau bertemu dengan akang Darren. Kan kami lama tak jumpa, pasti kang Darren kangen sama aku. Yakan...." Ucap brendalina kepada Darren.
"Nggak! Aku nggak pernah kangen sama kamu," cetus Darren mendelik sebal kepada Brendalina.
Tiba-tiba terlintas di kepala Darren, lalu Darren tersenyum misterius.
"Kamu tunggu disini," perintah Darren kepada Brendalina.
"Oke....." Sahut Brendalina.
Darren masuk dan menyentuh pundak Arga.
"Gue punya temen cewek disini. Cantik dan beeh... Seksi," kata Darren seraya mengangkat satu jempolnya ke atas.
"Oh ya... Kalau gitu kenalin ke gue," jawab Arga dengan antusias.
"Ayo, ikut aku."
Arga bangun dan mengikuti langkah Darren keluar rumah. Tiba di luar Arga bertemu dengan Brendalina, Arga tersenyum sopan kepada Brendalina.
"Mana ceweknya," bisik Arga.
"Nih... orangnya," tunjuk Darren kepada Brendalina.
"Apa...?!"
Arga membulatkan matanya, saat yang di kenalkan oleh Darren adalah seorang tante-tante centil.
__ADS_1
๐บ๐บ๐บ๐บ