
Jarak kumpul para lelaki memang lumayan jauh dari tempat duduk para wanita, karena jika terlalu dekat asap rokoknya masih bisa di hirup oleh ibu hamil dan Darren tidak mau kalau Dira terkena asap rokok yang bisa mengakibatkan gangguan kesehatan buat istrinya itu juga buat kandungannya.
"Ren... Ren!! Lihat Dira berantem sama Clarissa," seru Regan yang melihat Dira menarik rambut Clarissa dan terdengar suara jeritan Clarissa. Sedangkan Anin berusaha menarik bahu Dira, meski usahanya gagal karena Dira tetap mempertahankan cengkeraman rambut Clarissa.
Darren menengok dan tercengang melihat istrinya kini menyumpali mulut Clarissa dengan cumi goreng rica-rica. Darren bergegas bangkit dan berlari ke arah Dira.
"Ra...." Darren segera menangkap tubuh Dira dan menarik Dira.
"Aww...." Jerit Clarissa yang semakin keras. Sebab Dira semakin menarik rambut Clarissa, meski tubuh Dira sudah di tarik menjauhi Clarissa.
"Ra! Lepaskan...!! Pinta Darren sembari melepaskan cengkraman tangan Dira dari rambut Clarissa.
Dengan sangat berat hati Dira melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Clarissa. Hatinya masih sangat dongkol. Nafas Dira naik turun seraya menatap tajam wajah Clarissa.
"Ada apa ini? Kenapa kamu bertengkar dengan Clarissa?" Tanya Darren yang langsung menghadapkan wajah Dira ke hadapannya.
__ADS_1
"Cewek ini terus-menerus menghina Anin dan mengatai Anin dengan kata-kata gagu. Meski Anin memang tidak bisa bicara tapi jangan hina kekurangan anin. Dia juga terus-menerus merendahkan Anin dan di juga mau merebut kang Teo dari Anin." Dira berbicara dengan menggebu-gebu seraya mendelik menatap Clarissa yang kini tengah merapikan rambutnya yang acak-acakan.
"Dan dia juga nuduh Anin telah mengguna-guna kang Teo," lanjut Dira seraya menunjuk-nunjuk ke arah Clarissa. " Makanya aku kesal karena dia sudah menuding Anin yang nggak-nggak!"
"Clar!! sungguh aku nggak terima istriku di hina sama kamu. Asal kamu tahu kekurangan Anin adalah pelengkap kesempurnaan buat aku. Paham kamu!" Sentak Mateo menatap bengis wajah Clarissa. Sungguh Mateo tidak terima kalau istrinya di hina dan di fitnah oleh Clarissa.
"Tapi dia itu tidak pantas buat kamu, Teo." Sergah Clarissa.
"Siapa bilang Anin nggak pantas bersanding denganku. Justru yang tak pantas bersanding denganku adalah kamu." Tuding Mateo penuh emosi.
"Sekarang juga kamu pergi dari sini dan jangan pernah muncul lagi dari hadapanku. Jika kamu masih berani mengganggu kehidupan rumah tanggaku bersama Anin akan aku buat hidup kamu sengsara dan aku nggak main-main dengan perkataanku." Kecam Mateo.
"Penyesalan kamu nggak akan pernah berarti buat aku. Sekarang aku minta kamu pergi dari sini." Sembari mengangkat telunjuknya ke arah pintu keluar.
Clarissa menyeka air matanya dan meraih tasnya, setelah itu Clarissa pergi meninggalkan semuanya dengan perasaan hati yang nelangsa. Niat hati ingin memperbaiki hubungannya dengan Mateo tapi justru kini hatinya yang semakin nyeri ditambah dengan Mateo yang sudah menemukan cinta yang lain dari wanita yang tak sebanding dengan dirinya.
__ADS_1
Clarissa hanya bisa berandai-andai dengan penyesalannya. Andai saja kalau dirinya tidak tergoda dengan cinta yang di tawarkan oleh pria lain yang justru membuatnya terjerumus ke lembah penuh dosa. Padahal saat itu Mateo sangat menjaga kehormatannya dan sangat mempercayai dirinya dan juga Mateo adalah lelaki yang sangat setia. Sungguh Clarissa sangat menyesalinya.
"Sayang...." Seru Mateo yang langsung meraih kepala Anin dan mendekapnya. Di ciumnya pucuk kepala Anin dengan sayang.
"Sorry, gara-gara gue ngajak Clarissa ke sini malah membuat acara ini kacau," sesal Arga.
"Elo nggak salah, Ga. Yang salah itu Clarissa," jawab Mateo.
"Aku mau pulang! Mood ku sudah sudah rusak gara-gara wanita tadi," cetus Dira.
"Ya sudah, ayo kita pulang."
"Teo, Ga, Ver, Gan. Sorry gue pulang duluan." Pamit Darren yang langsung membimbing Dira meninggalkan semuanya.
______***_____
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....