Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
cek kandungan


__ADS_3

Hari-hari pun telah berlalu, semenjak kejadian hari itu Airin tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Sikap Oma Ros terhadap Dira masih tidak berubah, Oma Ros masih terlihat sinis jika bertemu dengan Dira.


Mami Yuli dan Tuan Bagaskara sangat senang saat mendengar kalau Oma Ros membatalkan perjodohannya dengan Airin dan berharap Oma Ros menerima Dira menjadi bagian keluarga Bagaskara.


"Ibu membatalkan perjodohan ini karena Airin memang bukan wanita baik-baik, tapi bukan berarti ibu mulai menerima Dira jadi istri Darren. Sampai kapanpun ibu tidak akan Sudi menerima Dira menjadi cucu mantu ibu," jelas Oma Ros.


'Sepertinya aku harus lebih keras lagi meluluhkan hati ibu yang sekeras batu itu, agar mau menerima Dira sebagai cucu mantunya.'batin mami Yuli.


Salah satu rencana mami Yuli adalah mengajak Oma Ros untuk ikut mengecek kandungan Dira.


Keesokan harinya, mami Yuli menemui Oma Ros di kamarnya. Ada rasa ragu saat mami Yuli mulai berbicara soal keinginannya mengajak Oma Ros.


"Bu... besok Yuli mau menemani Dira cek kandungannya. Apa ibu mau ikut?" Tanyanya harap-harap cemas.


"Nggak! Ngapain ikut. Nggak penting!" Sergah Oma Ros.


"Bu, Yuli mohon. Apa salahnya ikut, demi calon cucuku, Bu," ucap mami Yuli memelas. "Yuli mohon... Ibu ikut ya... Kalau ibu tidak menuruti keinginanku, selamanya Yuli tidak mau datang ke rumah ibu." Ancam mami Yuli berucap.


"Baiklah... Ibu ikut," ucapnya terpaksa. Di dalam hati mami Yuli bersorak riang, karena berhasil mengajak Oma Ros ikut menemani Dira cek kandungannya.


***

__ADS_1


"A, aku pakai dress ini bagus nggak?" Menunjukkan dress tersebut kepada Darren, setelah itu Dira mengarahkan dress tersebut ke arah cermin seraya mematutkan ke tubuhnya.


"Pakai apapun tetap bagus. Asal nyaman dipakai sama kamu, sayang," timpal Darren sembari menyisir rambutnya yang sedikit basah.


Tanpa di pikir lagi, Dira langsung membuka handuknya yang sejak tadi membungkus tubuhnya.


"Wow... Seksi," ujar Darren melihat Dira bertelanjang, apalagi melihat perutnya yang semakin besar menambah kadar keseksian tubuh Dira.


Dira hanya mencebikan bibirnya, seraya mengenakan pakaian yang tadi di pilihnya. Setelah itu Dira duduk di depan meja rias dan bermake-up mempercantik diri.


Sambil menunggu Dira, Darren menyempatkan diri mengurus pekerjaannya lewat laptop.


"Sudah, ayo," kata Dira yang baru selesai make up dan menyisir rambut legamnya setelah itu mencatolkan tasnya di bahu.


Oma Ros mendengus melihat Dira. Kalau bukan karena ancaman mami Yuli, Oma Ros tidak mau ikut serta mengecek kandungan Dira di rumah sakit.


"Ayo-ayo, kita langsung berangkat saja ke rumah sakit," kata mami Yuli.


***


Tiba di rumah sakit, Dira langsung di suruh masuk dan tidak perlu mengantri sebab mami Yuli sudah mengurusnya lewat telpon.

__ADS_1


Setelah mendapat beberapa pertanyaan tentang kehamilannya, seperti keluhan yang biasa di alami ibu hamil. Dira langsung di suruh berbaring di kasur yang sudah di sediakan. Dress yang di kenakan langsung di singkap ke atas dada, dengan bagian kaki sampai paha di tutup selimut.


Alat USG sudah di tempelkan di atas perut Dira yang sebelumnya sudah di olesi gel. Yang pertama di lihat di layar monitor adalah posisi janin. Usia 5 bulan biasanya janin berada di posisi transverse lie. Letak kepala berada di samping kanan atau kanan perut, sedangkan posisi wajah menghadap ke bagian atas perut.


"Gimana, dok perkembangan calon cucu saya?" Tanya mami Yuli.


"Bagus... perkembangannya bagus dan sesuai dengan perkembangan usianya keadaan janinnya juga sehat," kata dokter, sambil menggeser posisi alat USG di permukaan perut Dira. Setelah itu dokter memperdengarkan suara detak jantungnya, dan sang dokter manggut-manggut mendengar suara detak jantungnya.


"Detak jantungnya bagus, sekarang kita cek berat badannya," kata dokter.


Mata mami Yuli berbinar bahagia melihat calon cucunya yang tengah bergerak aktif di layar monitor.


"Bobot janinnya... sekitar lima ratus gram dan tingginya dua puluh delapan centimeter, ya...." Lanjut dokter berucap.


Darren tersenyum mendengar perkataan dokter. Hatinya berbunga-bunga melihat calon anaknya di layar monitor, begitupun dengan Dira yang tak kalah bahagia mendengar keadaan calon anaknya sehat bahkan tak ada kekurangan satu apapun.


Oma Ros yang sejak tadi terdiam di samping mami Yuli, begitu lekat memandangi layar monitor yang menampilkan sang calon cicitnya yang tengah bergerak aktif. Hatinya menghangat tatkala melihat calon cicitnya itu. Ada rasa bahagia yang terselip di dasar hatinya. Samar-samar Oma Ros melengkungkan bibirnya dan di dalam hatinya menyelipkan untaian doa untuk calon cicitnya itu, tapi saat melihat Dira, Oma Ros mendengus melihat Dira tengah tersenyum penuh bahagia.


______***_____


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2