
Dira tersenyum kikuk menatap mami Yuli yang menatapnya sembari memicingkan matanya. Sungguh membuat perasaan Dira semakin tak menentu ketika mami Yuli begitu lekat menatapnya. Mami Yuli memandangi Dira dari atas sampai bawah, seolah sedang menilainya. Apa pantas atau tidak untuk menjadi pendamping hidup putranya.
Mami Yuli melangkah mendekati Dira, yang terlihat gugup di mata mami Yuli. Mami Yuli menggeleng melihat kegugupan Dira. Tanpa diduga oleh Dira, mami Yuli langsung memeluk Dira seraya mengelus punggung Dira.
Dira tertegun dan terdiam dengan perlakuan mami Yuli yang memeluknya secara tiba-tiba.
"Selamat datang di rumah kami," ucap mami Yuli yang kini melerai pelukannya. Kedua tangan mami Yuli berada di pipi Dira dan menatapnya dengan senyum tersungging di bibirnya.
Dira sudah ketar-ketir takut kalau kehadirannya tidak di terima, tapi ternyata apa yang dirinya pikiran tidaklah terjadi.
"I-ii-ya nyonya..."jawab Dira terbata-bata.
"Loh! kok manggilnya nyonya sih. Jangan panggil nyonya, dong! kamu kan menantu mami." Mami Yuli berkata lembut, " Panggilnya harus mami, paham."
"I-ii-ya... paham. Maaf ma-mi," ucap Dira dengan mata berembun, karena terharu karena mami Yuli menerimanya sebagai menantunya. Dira membalas senyuman mami Yuli yang tersungging di bibirnya.
Tuan Bagaskara mendekati Dira, beliau juga melakukan hal yang sama yaitu memeluk Dira dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Maafkan kami, saat kalian menikah mami dan papi tidak hadir. Mungkin kamu sudah tahu kenapa alasan papi mengirim Darren ke sana," kata tuan Bagaskara sembari memegangi kedua pundak Dira.
Dira mengangguk sebagai jawabannya.
"Papi salut sama kamu, nak. Kamu berhasil menaklukkan lelaki sombong itu." Tunjuk tuan Bagaskara ke arah Darren seraya mendelikkan matanya menatap Darren.
Darren memutarkan bola matanya, mendengar ucapan Papinya itu. Sedangkan dirinya hanya tersenyum melihatnya.
"O iya, satu lagi berita yang akan membuat mami dan papi senang," ucap Darren seraya merangkul pundak Dira.
"Memang apaan?" tanya mami Yuli penasaran.
"Sebenarnya... istriku ini tengah mengandung cucu mami dan papi," ungkap Darren yang tangannya langsung mengacak pelan rambut Dira.
"Apa! hamil?!" ucap mami Yuli terkejut dan mami Yuli dan Tuan Bagaskara saling pandang, setelah itu mami Yuli menatap Dira dengan mata berkaca-kaca.
"Alhamdulillah," ucap mami Yuli yang langsung memeluk Dira dengan perasaan yang teramat sangat bahagia mendengar kalau menantunya tengah hamil.
__ADS_1
"Mami, sangat bahagia mendengarnya," ucap mami Yuli.
Mami Yuli mencium kening Dira, setelah itu mami Yuli mengelus perut rata Dira dengan penuh kasih sayang. Tuan Bagaskara juga memeluk Dira dan juga mencium kening Dira.
"Terima kasih, nak. Kamu sudah mewujudkan impian papi dan mami yang menginginkan seorang cucu," ucap tuan Bagaskara lembut.
"Iya, Pi...." timpal Dira tak kalah bahagianya karena Dira sangat terharu dengan perlakuan kedua mertuanya yang begitu baik.
"Mi, kita harus merayakan kehamilan menantu kita. Sekalian kita mengadakan syukuran buat pernikahan mereka," imbuh tuan Bagaskara yang tak kalah senangnya dengan mami Yuli.
"Iya Pi. Papi benar, kita segera merayakan kehamilan menantu kita ini."
"Darren, lebih baik sekarang kamu ajak Dira istirahat. Mami nggak mau kalau menantu kesayangan mami ini kecapean," lanjut mami Yuli.
"Iya, mi. Ayo Ra, kita istirahat dulu kalau tidak aku bakal kena semprot mami jika kamu sampai kelelahan," ucap Darren.
"Kami ke kamar dulu mi, Pi," ucap Darren yang langsung menarik tangan Dira untuk segera beristirahat.
__ADS_1
Mami Yuli dan Tuan Bagaskara menatap punggung anak dan menantunya itu dengan perasaan yang sangat bahagia, apalagi tentang kehamilan Dira. Sungguh membuat mami Yuli dan Tuan Bagaskara di rundung kebahagiaan yang tak terkira.
"Mami pikir, Darren tidak akan menerima pernikahannya, karena selama ini Darren tidak mau terikat dengan perempuan. Tapi kini, harapan mami terwujud, bahkan melebihi yang mami harapkan yaitu memiliki cucu," ucap mami Yuli dengan mata berkaca-kaca. Tuan Bagaskara tersenyum sembari mengusap punggung mami Yuli.