Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Singgah ke kantor 2


__ADS_3

Darren tengah serius memeriksa berkas yang di bawa oleh sekretarisnya. Dengan teliti Darren memeriksanya, selesai memeriksa Darren menatap sekretarisnya yang bernama Amora. Wanita cantik dengan body golnya, siapapun yang meliriknya pasti bakal tertarik, tapi tidak dengan Darren. Baginya Dira lebih dari segalanya.


"Saya harus tanda tangan dimana?" tanya Darren tanpa melihat sekretarisnya yang berdiri tepat di samping Darren.


"Di sini, pak," tunjuk Amora.


Darren segera membubuhkan tanda tangannya, selesai menandatangani Darren menggeserkan berkas tersebut ke dekat Amora. Saat akan mengambil berkas yang sudah di tanda tangani oleh Darren, tanpa sengaja Amora menyenggol gelas yang berisi kopi dan tumpah ke celana Darren.


"Aduh... maaf pak! Saya nggak sengaja menyenggol kopi," ucap Amora dengan rasa bersalah.


Spontan Darren langsung berdiri dan membersihkan celananya yang terkena kopi, begitu juga dengan Amora yang langsung menarik selembar tisu di atas meja kerja Darren dan segera membersihkan celana Darren.


"Sudah-sudah, nggak apa-apa," kata Darren, tapi Amora tak mengindahkannya dan tetap membersihkan celana Darren.


"Sudah, stop, biar saya saja yang membersihkannya," tukas Darren, akan tetapi Amor tetap membersihkan celananya.


"Aa Dar... ren...."


Seketika Darren dan Amora menengok ke arah pintu.


"Dira...."


Darren tertegun melihat Dira datang ke kantor. Darren menelan Salivanya melihat Dira sudah menatapnya dengan tatapan horor.


"Sayang, aku... bisa jelaskan semuanya," kata Darren lembut sembari melangkah mendekati Dira. Ia harus menjelaskannya pikir Darren.


Dira mengangkat satu tangannya ke udara. Isyarat kalau Darren berhenti melangkah mendekatinya. Darren melihat kalau Dira sangatlah marah melihat kejadian dimana sekretarisnya tengah membersihkan celananya yang kena tumpahan kopi.


"Ra...."

__ADS_1


Dira mendekati Darren, tapi tatapannya Dira tertuju kepada Amora. Dira menghela nafas, sebelum dirinya angkat bicara.


"Ngapain kamu ngelap-ngelap celana suami saya," ketus Dira seraya mendelikkan matanya menatap Amora.


"Maaf, nona. Sepertinya nona sudah salah paham. Saya tidak sengaja menyenggol kopi pak Darren dan tumpah mengenai celananya pak Darren," jujur Amora menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Apa benar kejadiannya kayak gitu?" sengit Dira seraya memicingkan matanya menatap Amora, lalu berpindah menatap wajah Darren. Darren mengangguk cepat.


"Benar nona. Saya tidak berbohong dan maaf kalau saya sudah lancang membersihkan celana pak Darren," pungkas Amora dengan rasa tak enak hati karena sudah berani membersihkan celana bosnya, padahal bosnya sudah menyuruhnya berhenti.


Dira menghela nafasnya, ia berusaha percaya dan tak mau menambahkan beban pikiran yang akan berpengaruh terhadap kehamilannya. Sudah cukup permasalahan yang dihadapinya dari Oma Ros dan saat ini ia tak mau menambahkannya lagi. "Baiklah, kali ini saya percaya. Tapi... jika kamu berbohong, kamu akan tau akibatnya," ancam Dira seraya menudingkan telunjuknya kepada Amora.


"Sekarang kamu keluar dari sini," usir Dira.


Amora mengangguk dan segera keluar dari ruangan Darren sembari membawa berkas yang sudah di tanda tangani oleh Darren.


"Sayang...."


Darren mendekati Dira dan merengkuh tubuh mungil istrinya. Dira memukul dada bidang Darren dengan wajah merengut.


"Seneng kamu ya...." ketus Dira cemberut.


"Apanya yang seneng?" sergah Darren.


"Di lap cewek cantik!" lanjut Dira seraya mencebikan bibirnya dan melengoskan pandangannya.


"Biasa aja. Lagian Amora memang nggak sengaja," kata Darren yang langsung menarik tubuh Dira kedalam pelukannya.


"Tapi aku nggak suka kalau kamu di sentuh sama perempuan lain."

__ADS_1


Darren tersenyum mendengar gerutuan Dira yang tengah cemburu dan juga posesif terhadapnya. Ya... semenjak Dira hamil, Dira selalu menujukan sifat posesif dan Darren justru senang walau terkadang membuatnya tak nyaman.


"Iya, maaf. Kamu ke sini sama siapa? bukannya mami ngajak kamu ke rumah Oma," cecar Darren yang melerai pelukannya hanya untuk menatap wajah sang istri.


"Sama mami lah! sama siapa lagi. Mana aku tau kantor kamu."


"Terus...."


"Terus apanya?" Dira tanya balik.


"Ke rumah Oma?"


Dira diam sejenak sambil memainkan kancing kemeja Darren.


"Iya, aku sama mami ke rumah Oma," kata Dira dengan wajah berubah muram.


Darren menelisik wajah Dira yang langsung berubah muram dan Darren menebak-nebak apa yang di ucapkan Oma sehingga istrinya langsung menekuk wajahnya.


"Kenapa?"


Dira hanya menggeleng lemah. Hatinya masih tak terima dengan perkataan Oma Ros. Masih terngiang di telinganya soal dirinya harus meninggalkan Darren dan tak pantas menjadi istri Darren. Hatinya mencelos membayangkan harus berpisah dengan ayah dari calon buah hatinya.


"Jangan bohong. Apa Oma membuat kamu tersinggung?" tanya Darren lagi.


"Nggak kok," cepat-cepat Dira menjawab perkataan Darren seraya tersenyum kecut.


Dira kembali memeluk Darren, "Aku kangen kamu," ucap Dira mengalihkan topik pembicaraannya mengenai Oma Ros.


Darren tersenyum dan memeluk Dira erat. Dira berusaha menyingkirkan pikirannya tentang pembicaraannya dengan Oma Ros saat di meja makan. Dira tidak mau terprovokasi dan berusaha tenang menyikapinya, walau ia tau kedepannya akan ada jalan terjal di permasalahan rumah tangganya.

__ADS_1


__ADS_2