
Mateo dan ibunya Anin sudah tiba di dekat warung pak Rasta, dan benar saja pak Supri ada di sana. Mateo langsung membuka seatbeltnya.
"Ibu tunggu disini."
Ibunya Anin mengangguk, dan Mateo segera turun dari mobil. Dengan langkah lebar, Mateo menghampiri pak Supri yang tengah meminum kopi sendirian. Terlihat jelas kalau pak Supri sangat bahagia karena semua hutangnya lunas.
Mateo langsung menepuk pundak pak Supri, dan pak Supri pun menengok. Saat itulah Mateo langsung meninju muka pak Supri.
Bugh
Pak Supri langsung terjatuh. Mateo menarik kerah baju pak Supri dengan kemarahan yang membara.
"Katakan, dimana rumah orang yang sudah membawa Anin," ucap Mateo dengan tatapan nyalang.
"Memangnya kamu siapa, ha!!" hardik pak Supri.
"Anda tidak perlu tahu siapa saya. Sekarang katakan dimana orang itu membawa Anin pergi," desak Mateo yang semakin mencengkram kuat kerah baju pak Supri.
"Aku nggak tahu si Anin di bawa kemana, lagian sekarang si Anin sudah bukan menjadi urusanku lagi."
"Kurang ajar!" kesal Mateo.
Bugh Bugh
Mateo terus memukul wajah pak Supri. Pak Supri pun tak tinggal diam, ia juga menyerang balik Mateo dan perkelahian itu pun tak bisa terelakkan. Keduanya saling beradu tinju, menendang.
"Berhenti!!" teriak pemilik warung, tapi teriakan bapak warung tidak di dengar oleh Mateo dan pak Supri.
Bapak warung langsung menarik lengan Mateo, berusaha melerai perkelahian antar keduanya.
"Lepaskan saya, pak! Saya harus harus menghajar orang itu!!" berang Mateo menatap pak Supri.
"Jika kalian punya masalah, bisa di bicarakan dengan baik-baik. Bukan dengan cara berkelahi seperti ini," ujar bapak warung dengan suara tinggi.
Mateo menghela nafasnya, mengatur emosinya yang membara.
"Katakan, dimana orang yang membawa Anin pergi!" Desak Mateo.
"Memangnya kamu siapanya Anin?" ucap pak Supri tak kalah lantangnya.
__ADS_1
"Saya pacarnya Anin. Sekarang katakan dimana orang itu membawa Anin," ulang Mateo berusaha sabar menghadapi pak Supri.
"Saya tidak akan memberitahu kamu!"
Mateo kembali menerjang pak Supri, kali ini Mateo benar-benar sudah geram dan tak akan mengampuni pak Supri.
Berkali-kali Mateo melayangkan kepalannya ke wajah juga perut pak Supri. Sedangkan bapak warung berteriak meminta tolong kepada orang-orang yang berada tidak jauh dari warungnya.
"Pak-pak!! tolong hentikan perkelahian mereka," pinta Bapak warung tak sabaran.
Mateo dan pak Supri langsung di pisahkan oleh warga.
"Lepaskan saya!!" hardik Mateo yang begitu emosi.
"Kenapa kamu menghajar pak Supri?" tanya salah satu warga yang membantu memisahkan Mateo dan pak Supri.
"Lelaki bajingan itu... tega menjadikan anaknya sebagai pelunas hutangnya dan bahkan anaknya hanya di jadikan pemuas lelaki yang dia hutangi," geram Mateo berucap, bahkan kedua matanya memancarkan gurat kemarahan yang membara.
"Apa benar Supri?" tanya salah satu warga yang menahan lengan Mateo.
"Kalau iya memangnya kenapa?" jawab pak Supri lantang.
Sungguh Mateo sudah tidak sabar lagi menahan kemarahannya kepada pak Supri yang tidak mau memberitahukan keberadaan Anin. Mateo takut kalau Anin sampai kenapa-napa, apalagi sampai di lecehkan.
"Cepat katakan Supri. Siapa orang yang kamu hutangi?" tanya si bapak yang menahan lengan Mateo.
"Pak Tanto!!" jawabnya kesal.
"Saya tahu dimana rumahnya pak Tanto," cetus orang yang memegangi pak Supri.
"Ayo, ikut bapak. Bapak akan tunjukkan rumahnya."
"Iya pak, tapi tunggu dulu." Tahan Mateo kepada bapak itu yang akan melangkah. " Tolong, bawa orang itu ke kantor polisi karena sudah berani menjadikan anaknya sebagai pelunas hutangnya juga sudah berani menyiksa istrinya," pinta Mateo kepada bapak-bapak.
"Oke, akan kami urus," jawab salah satu warga yang sebenarnya sudah geram dengan perlakuan kasar pak Supri terhadap anak dan istrinya.
"Terima kasih, pak. Saya percayakan urusan ini sama bapak," ucap Mateo.
Kini Mateo segera meninggalkan warung tersebut.
__ADS_1
***
Mateo sudah tiba di rumah pak Tanto. Mateo langsung menerobos masuk ke dalam rumah pak Tanto setelah melumpuhkan dua orang penjaga rumah pak Tanto. Bagi Mateo sangatlah mudah menghajar tikus kecil seperti penjaga pak Tanto.
"Anin...!!" teriak Mateo yang sembari memeriksa setiap kamar, tapi Anin tidak ada di sana.
Mateo naik ke lantai dua dan berharap Anin ada di sana dalam keadaan baik-baik saja.
Brakkk
Mateo membuka pintu kasar. Kedua mata Mateo membulat melihat apa yang sedang terjadi di atas kasur.
Anin sedang berada di bawah Kungkungan pak Tanto dalam keadaan tak berbusana. Bahkan pak Tanto sudah mengarahkan pedang pusakanya kepada area terlarangnya Anin dan siap menembus area terlarang Anin.
Tanpa ba bi bu, Mateo langsung menarik tubuh pak Tanto dan menghajarnya tanpa ampun.
Bugh Bugh Bugh
Mateo terus menghajarnya dan tak membiarkan lelaki brengsek itu mendapat cela melawannya.
Mateo terus dan terus menghajarnya, sampai lelaki brengsek itu jatuh terkapar di lantai dan tak berdaya lagi untuk bangkit.
"Anin...."
Anin menangis tersedu-sedu. Hati Mateo sangat teriris melihat keadaan Anin yang babak belur. Anin mengeratkan selimut yang kini menutupi seluruh tubuhnya dengan berderai air mata. Anin merasa tubuhnya kotor karena sudah di cumbui oleh lelaki brengsek itu.
"Anin...." lirih Mateo yang kini mendekati Anin. Mateo langsung memeluk Anin dan sungguh hatinya teriris. Anin menangis tersedu-sedu, tubuhnya bergetar hebat karena dirinya sudah di lecehkan oleh lelaki bajingan itu.
"Maaf... aku lama datang untuk menyelamatkan kamu, tapi syukurlah kamu belum di nodai oleh lelaki bajingan itu."
Mateo melerai pelukannya dan bangkit untuk mengambil pakaian Anin di lantai.
"Sekarang pakai bajunya, setelah itu kita pergi dari sini. Aku akan menunggumu di luar," ucap Mateo lembut.
Mateo langsung meninggalkan Anin di kamar dan tak lupa menyeret lelaki brengsek itu keluar kamar.
Setelah mengenakan pakaiannya, Anin segera keluar kamar.
"Ayo, kita pergi dari sini."
__ADS_1
Anin mengangguk sebagai jawabannya, dan melangkah meninggalkan tempat tersebut.