Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Menjadi jaminan.


__ADS_3

"Kalau tidak anak gadis kamu itu yang akan menjadi jaminannya. Bagaimana?" tawar pak Tanto.


"Baiklah, jika Anin bisa di jadikan jaminan untuk hutangku. Apa semua hutang-hutangku akan lunas?" tanya Supri sembari melirik Anin.


"Asalkan anak kamu itu masih perawan. Maka aku anggap hutang kamu lunas dan anak kamu harus mau jadi pemuas naf suku dan juga harus tinggal bersamaku selamanya," ucap pak Tanto menatap Anin penuh dengan tatapan mesum.


"Baiklah, saya setuju. Jika Anin bisa membuat semua hutang-hutangku lunas, maka saya terima tawaran anda, pak," ucap pak Supri yang langsung menyetujuinya kalau Anin jadi budak bira hi pak Tanto.


"Saya tidak setuju!!" Tolak ibunya Anin.


"Saya tidak akan membiarkan anak saya jadi jaminan hutang bapak!" lanjut ibunya Anin menolak, kalau putrinya di jadikan jaminan hutang suaminya.


Ibu mana yang akan membiarkan anaknya hidup menderita, apalagi hanya di jadikan sebagai pemuas lelaki bejat itu. Jelas, seorang ibu pasti akan menolaknya mentah-mentah.


"Apa peduliku," sergah pak Supri. " Yang terpenting semua hutangku lunas."


"Silahkan, pak. Bawa anak tiri saya, yang terpenting saya sudah tidak punya hutang lagi sama anda, pak," lanjut pak Supri yang tidak peduli dengan nasib Anin.


Anin menggeleng cepat dengan air matanya yang meluncur bebas membasahi pipinya.


" Jangan bawa anak saya!" Cegah ibunya, yang kini langsung menghadang lelaki itu mendekati Anin.


Lelaki itu menyingkirkan ibunya Anin, hingga tersungkur ke lantai. Anin yang akan menolong ibunya, langsung di cegah oleh lelaki itu dan langsung menarik Anin keluar.


Anin memberontak dari cengkeraman pak Tanto yang kini tertawa senang. Anin terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman pak Tanto yang kini semakin menguatkan cengkramannya di lengan Anin.


"Jangan bawa anak saya...!!" teriak ibunya Anin, yang melihat anaknya di bawa oleh lelaki brengsek.


Ibunya Anin segera bangkit dan mengejar anaknya yang kini sudah masuk ke dalam mobil lelaki itu.


"Anin!!"

__ADS_1


Pak Supri langsung mencegahnya, dan tak akan membiarkan istrinya mengejar Anin yang kini sudah pergi meninggalkan rumahnya.


"Lepaskan saya, pak!" Jerit ibunya Anin yang terus berusaha melepaskan diri dari cengkeraman suaminya itu.


"Sudah, biarkan si Anin di bawa sama pak Tanto."


"Nggak, pak! ibu nggak akan membiarkan Anin di bawa sama lelaki brengsek itu!" tolak ibunya Anin yang kini terus berusaha lepas dari cengkeraman pak Supri.


"Lepaskan, biarkan saya mengejar Anin!" mohon ibunya Anin yang kini merasakan sesak di dadanya.


Pak Supri langsung menyeret istrinya ke dalam kamar dan mendorong tubuh istrinya secara kasar.


Bugh


Ibunya Anin langsung menubruk meja, dadanya terasa semakin sakit.


"Uhuk... uhuk...." Ibunya Anin langsung memegangi dadanya yang terasa sakit.Tapi ibunya Anin tidak menyerah, beliau bangkit dan segera melangkah keluar dari kamarnya, akan tetapi pak Supri tidak akan membiarkan istrinya mengejar Anin, meskipun Anin sudah di bawa pergi oleh pak Tanto.


"Berisik kamu!" geram pak Supri yang langsung menampar pipi istrinya kanan dan kiri, membuat kening Ibunya Anin terbentur meja makan langsung berdarah.


Pak Supri langsung meninggalkan istrinya begitu saja, sedangkan ibunya Anin hanya bisa terisak menangisi Anin yang kini sudah di bawa pergi oleh lelaki bajingan itu.


Ya Allah, hamba mohon tolong selamatkan anak hamba dari orang jahat. Hamba mohon ya Allah....


***


Mateo tiba di depan rumah Anin. Dengan wajah berbinar karena sebentar lagi akan segera bertemu dengan Anin yang selama ini dia rindukan.


Mateo segera turun dari mobilnya, dan melangkah cepat menuju teras rumah Anin. Pintu rumah Anin setengah terbuka.


"Assalamualaikum...."

__ADS_1


Hening, tidak ada yang menjawab salamnya. Sekali lagi Mateo mengucapkan salam dan tidak ada yang menyahuti salamnya, karena tidak ada yang menjawab salamnya, Mateo memilih masuk ke dalam rumah.


Saat sudah masuk ke dalam rumah Anin, Mateo menangkap suara Isak tangis seseorang dan membuat Mateo menjadi penasaran. Mateo melangkah ke ruang tengah dan mata Mateo membulat melihat ibunya Anin terkulai lemas di lantai seraya terisak tersedu-sedu.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi?!" gumam Mateo yang langsung mengangkat kepala ibunya Anin ke pangkuannya.


"Tolong... selamatkan Anin...." mohon ibunya Anin.


"Apa yang terjadi dengan Anin, Bu?"


"Anin di bawa sama seseorang, sebagai jaminan hutang suami ibu. Tolong nak, selamatkan anak ibu, kalau tidak Anin akan selamanya jadi budak pemuas lelaki itu," ucapnya penuh permohonan.


Rahang Mateo langsung mengeras mendengar Anin akan di jadikan budak pemuas lelaki bajingan.


"Ibu tau dimana rumah orang itu?"


Ibunya Anin menggeleng lemah seraya terus terisak menangisi Anin.


"Terus suami ibu kemana?"


"Dia pergi, tapi ibu nggak tau suami ibu pergi kemana."


"Tapi ibu tau kan, tempat biasanya suami ibu nongkrong." Ibunya Anin mengangguk pelan.


"Biasanya suami ibu sering nongkrongnya di warung kopi pak Rasta," jawab ibu Anin.


"Ibu bisa tunjukkan dimana warungnya? tapi ibu kuat kan?"


Ibu Anin mengangguk dan Mateo mengangkat tubuh ibunya Anin menuju mobilnya. Setelah Mateo dan ibunya Anin di dalam mobil, tanpa membuang waktu Mateo langsung tancap gas menuju warung yang sering di datangi oleh pak Supri.


Tunggu aku Anin, sebentar lagi aku akan membawamu pergi dari lelaki brengsek itu.

__ADS_1


__ADS_2