Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Tiba di Jakarta


__ADS_3

"Kapan berangkat ke Jakartanya?" tanya Darren.


"Harusnya besok, tapi itu tergantung tuan muda bisanya kapan?" kata mang Ujang, menyerahkan kembali kapan tuan mudanya bisa ikut berangkat ke Jakarta.


"Gitu ya. Kalau bisa sih jangan besok, soalnya aku disini sudah punya pekerjaan dan aku harus berbicara dulu sama bosku," ungkap Darren.


"Tuan disini kerja? maaf, kalau boleh tau tuan kerja apa?"


"Kerja jadi tukang montir," jawab Darren santai.


"Oh...." Mang Ujang tersenyum.


Mang Ujang senang karena sekarang tuan mudanya banyak sekali perubahan pada diri Darren. Tidak seperti Darren yang di kenalnya dulu, Darren yang sombong, arogan, tukang mabuk.


"Dira nya mana?" tanya mang Ujang, karena tidak melihat Dira seraya mengintip ke dalam rumah lewat jendela kaca.


"Dira lagi tidur. Apa mau aku bangunkan?" kata Darren yang akan berdiri dari duduknya.


"Nggak usah, biarkan saja. Kalau begitu mamang pulang dulu," pamitnya.


"Iya, mang."


***


Malam harinya, Darren membantu Dira di dapur. Tugas Dira hanya memasak sayur dan nasi selebihnya Darren yang mengerjakan pekerjaan rumah dan tidak membiarkan Dira kelelahan, apalagi membawa yang berat-berat.


Selesai memasak, Darren memindahkan sayur ke mangkok dan membawanya ke meja makan, sedangkan Dira menyiapkan piring dan gelas. Darren langsung mencuci peralatan masak, selesai mencuci peralatan masaknya, Darren dan Dira segera makan malam.


Walau menu makan malam sangat sederhana, tidak mengurangi rasa nikmat yang di rasakan oleh Darren, apalagi yang masak adalah sang istri tercinta. Sungguh nikmat mana lagi yang kau dustakan.


"Alhamdulillah, nikmatnya...." seloroh Darren seraya menyenderkan punggungnya.


"Memang ya, kalau masakan istri itu paling top markotop," puji Darren, sedangkan Dira hanya tersenyum menanggapi pujian dari Darren.


Dira langsung menumpukkan piring kotor dan gelas menjadi satu dan akan di bawa ke tempat cucian piring.


"Sini, biar aku saja." Darren langsung merebut piring kotor itu dan langsung dibawa ke tempat cucian piring. Darren langsung mencucinya.


Dira tersenyum, dirinya tak sangka kalau Darren benar-benar memperhatikannya dan tidak mau membuatnya kelelahan.

__ADS_1


"Terima kasih, Ayang," ucap Dira.


"Sama-sama, istriku."


Darren langsung mengajak Dira ke depan dan duduk lantai beralas karpet bergambar kartun Doraemon dan menyalakan televisinya. Dira langsung merebahkan tubuhnya dan kepala Dira berada di atas pangkuan Darren.


"Ra...."


"Hemm, kenapa?" sahut Dira yang tetap fokus ke layar televisi.


"Tadi mang Ujang kesini."


"Mamang pulang? kapan?" tanya Dira yang langsung mengalihkan pandangannya menatap Darren.


"Katanya sih tadi pagi dan mang Ujang pulang untuk menjemputku kembali ke Jakarta dan katanya papi sakit."


Dira diam, lalu pandangannya kembali mengarahkan ke televisi.


"Sayang, kenapa kamu diam?"


"Aku nggak kenapa-napa," jawab Dira.


"Bukan begitu, aku takut kalau orang tua kamu nggak suka sama aku. Secara kan aku orang yang nggak punya apa-apa, beda sama kamu yang notabenenya orang berada, bahkan bosnya pamanku sendiri."


"Kamu tenang saja. Aku yakin kalau orang tuaku nggak seperti itu, percaya deh sama aku," ucap Darren meyakinkan kecemasan Dira.


"Tidur yuk, sudah malam," ajak Darren.


***


Hari keberangkatan pun tiba, dimana sekarang Darren dan Dira akan berangkat ke Jakarta. Darren sudah mengundurkan diri dari bengkel, dan pak Riswan sebenarnya sangat keberatan kalau Darren berhenti bekerja di bengkelnya.


Darren dan Dira pamit kepada Bu Kokom dan juga uwa Salim dan uwa Inah, setelah itu mobil yang di kendarai oleh mang Ujang segera meninggalkan rumah mereka.


Kini mereka sudah tiba di Jakarta dan mobil yang dikendarai oleh mang Ujang sudah terparkir di halaman rumah orang tua Darren.


Darren dan Dira turun dari mobil. Dira tertegun melihat rumah mewah mertuanya itu, Dira menelan Salivanya karena gugup akan bertemu dengan orang tua Darren.


"Ayo, kita masuk," ajak Darren yang langsung merangkul Dira.

__ADS_1


"Jangan gugup, mertua kamu tidak galak sayang," lanjut Darren berucap seraya tersenyum simpul.


Darren dan Dira melangkah masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan orang tuanya di kamar, karena Tuan Bagaskara pagi tadi sudah keluar dari rumah sakit.


"Mi... Pi...." panggil Darren.


"Tuan muda!" Bi Tatik terkejut dengan kedatangan tuan mudanya yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


"Bi Tatik, apa kabar," ucap Darren.


"Kabar bibi baik tuan muda," jawab Bu Tatik.


"Mami sama papi, mana?"


"Ada di kamarnya, tuan."


"Oh...." kata Darren hanya ber oh.


Darren dan Dira melanjutkan langkahnya ke arah tangga dan saat itulah kedua orang tuanya turun.


"Mi... Papi...." panggil Darren dengan senyum mengembang.


"Darren!" pekik mami Yuli, terkejut melihat Darren sudah tiba di hadapannya.


Mami Yuli dan Tuan Bagaskara segera turun dan memeluk anaknya yang sangat di rindukannya.


"Mami, apa kabar?" tanya Darren sembari memeluknya.


"Baik, nak," sahut mami Yuli dan tersenyum menatap Darren.


"Pi, gimana keadaan Papi?"


"Seperti yang kamu lihat, Papimu ini semakin tua," jawab Tuan Bagaskara.


"Ren, dia siapa?" tunjuk mami Yuli kepada Dira, dengan tatapan menyelidik. Bahkan tatapan itu membuat Dira semakin gugup dan kedua tangannya saling mere mas, takut kalau mertuanya itu tidak menerima kehadirannya sebagai istri dari Darren.


"Perkenalkan, dia Dira, istriku."


"Dia istrimu!!"

__ADS_1


__ADS_2