
Biasanya kalau akhir pekan akan di manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga atau dengan sahabat. Begitupun Darren yang ingin menghabiskan waktu akhir pekannya bersama sahabat.
Darren dan Dira sudah tiba di restoran milik Mateo, tempat janjian temu kangen dengan teman-temannya. Darren mengajak Dira naik ke rooftop, tempat biasanya hangout bareng teman-temannya. Tiba di rooftop, ternyata Mateo sudah berada di sana bersama Anin.
Dira tersenyum menatap Anin yang semakin hari semakin cantik. Anin segera menyongsong kedatangan Dira dan Darren.
"Hai, apa kabar. Sudah lama ya kita tidak ketemu," sapa Dira yang langsung cipika-cipiki. Anin hanya tersenyum saja sebagai jawabannya.
"Hai, bro...." sapa Mateo yang langsung bertos dengan Darren.
"Apa sudah ada kabar baik dari kalian," tanya Dira lagi.
"Belum, do'akan saja. Semoga secepatnya Anin hamil juga," jawab Mateo yang sembari merangkul pinggang Anin.
"Pasti kita do'akan. Asalkan jangan putus asa dan terus berusaha dan kalian juga masih terbilang pengantin baru," kata Darren menimpalinya.
Tidak lama dua temannya datang, mereka berdua adalah Regan dan Very. Keduanya langsung di sambut oleh Darren dan Mateo.
"Wih, enak nih kalian berdua sudah punya pasangan. Kira-kira kita kapan, Ver," tukas Regan yang langsung menghempaskan bokongnya di sofa panjang.
"Gue sih sudah punya pacar. Elo tuh yang jomblo akut yang hobinya celup sana celup sini," pungkas Very sembari mendorong bahu Regan.
"Gue bakal berhenti begituan, kalau gue sudah menemukan cewek yang sesuai kriteria gue," lanjut Regan seraya menyugar rambutnya.
"Kasian bener yang bakal jadi pasangan elo itu. Dapatnya barang bekas!" Ledek Very lagi.
"Sialan elo," gerutu Regan.
Darren, Mateo dan Very tertawa bersama.
"Hai, bro...." Sapa Arga yang baru tiba bersama Clarissa.
Semua mata tertuju kepada Arga yang ternyata datang bersama Clarissa, sang mantan pacar Mateo. Mateo, Darren, Very dan Regan tak menyangka kalau Arga bakalan datang bersama Clarissa.
__ADS_1
"Sorry telat," cetus Arga membuat semuanya tersadar. Mateo langsung membuang muka dan enggan bersitatap dengan Clarissa.
"Nggak apa-apa kan kalau gue datang sama Clarissa," ujar Arga. Very dan Regan hanya menganggukkan kepalanya.
"Hai semuanya, apa kabar," sapa Clarissa yang langsung bbersalaman dengan semuanya tak terkecuali Mateo.
"Baik...." Jawab Regan.
Mateo mendengus saat Clarissa mengulurkan tangannya untuk bersalaman, dengan terpaksa Mateo membalas uluran tangannya untuk bersalaman dengan Clarissa. Clarissa tersenyum manis saat bersalaman dengan Mateo.
"Kenapa Arga datang sama Clarissa," bisik Very kepada Regan dan Regan hanya menjawab dengan mengedikan bahunya.
"Elo pacaran sama Clarissa?" Tanya Very yang sangat penasaran soal hubungannya Arga dan Clarissa.
"Nggak, tadi pas lagi beli rokok di minimarket ketemu sama Clarissa dan dia ingin ikut kesini saat gue bilang mau ketemuan sama kalian," jawab Arga.
"Oh...." Very manggut-manggut mendengar jawaban Arga.
Setelah semuanya kumpul, Mateo memerintahkan bawahannya untuk segera membawa pesanan semua teman-temannya.
"Perempuan yang di samping Teo itu siapa?" Bisik Clarissa kepada Arga yang duduk di sampingnya.
"Dia itu istrinya Teo," jawab Arga sama berbisiknya.
Istri? sejak kapan Teo menikah? kok aku nggak tahu kalau Teo sudah menikah. Ucapnya di dalam hati Clarissa.
Clarissa terus menatap lekat Anin. Hatinya tak terima kalau Mateo sudah memiliki pengganti dirinya, apalagi Clarissa melihat kalau Mateo memperlakukan Anin dengan sangat istimewa. Clarissa terus memperhatikan gerak-gerik Mateo sampai makanannya datang.
Kenapa wanita ini terus memperhatikan kang Teo. Batin Dira.
"Ra, kamu mau ini nggak?" Ucap Darren menujukan menu seafood.
"Hah... Kenapa?" Gelagap Dira sembari menengok ke Darren.
__ADS_1
"Kamu mau ini nggak?" Ulang Darren sembari menunjukkan menu seafood yang sudah tersaji di hadapan semuanya.
"Nggak, aku maunya ikan bakar," balas Dira.
"A kenapa wanita itu terus memperhatikan kang Teo," bisik Dira sembari melirik Clarissa.
"Dia mantannya Teo," jawab Darren yang sama berbisiknya.
"Oh... Pantes."
"Pantes kenapa?" tanya Darren.
"Pantes dari tadi ngeliatin kang Teo terus," jawab Dira.
Selesai makan, Darren dan teman-temannya berpindah duduknya menjauh dari para wanita. Regan mengeluarkan sebungkus rokok dan korek gas dari saku jaketnya dan meletakkan di atas meja, begitupun dengan yang lainnya kecuali Darren.
"Tumben elo nggak ngerokok?" Tanya Very sembari menghembuskan asap rokoknya.
Darren tersenyum mendapat pertanyaan itu. Ini bukan kali pertama Darren mendapatkan pertanyaan yang seperti ini.
" Gue udah berhenti ngerokok, setelah tahu bini gue hamil," jawab Darren.
"Elo serius sudah nggak ngerokok lagi?" Tanya Very memastikannya.
"Serius lah. Gue nggak mau kesehatan Dira dan calon anak gue terganggu karena asap rokok. Pokoknya kebiasaan gue yang dulu sudah gue tinggalin," lanjut Darren berkata.
" Bagus itu. Gue salut sama Dira karena berhasil menaklukkan elo yang kita-kita tau seperti apa kerasa kepalanya elo dan susahnya elo kalau di kasih tau yang benar," tukas Regan seraya menepuk punggung Darren.
Darren tersenyum sembari menatap Dira yang saat ini tengah menghabiskan dessert-nya.
_______***_______
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
__ADS_1
To be continued....