Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya, keluarga tuan Bagaskara mengadakan syukuran atas kehamilan Dira juga syukuran atas pernikahan Darren dan Dira. Semua tamu yang hadir hanya kerabat dekat dari tuan Bagaskara dan mami Yuli.


Tuan Bagaskara dan mami Yuli sangat bahagia karena harapannya terwujud memiliki seorang menantu, apalagi menantunya tengah hamil.


"Apa kamu sudah siap, Ra?" tanya Darren yang saat ini tengah mengenakan jasnya.


"Sudah," jawab Dira.


"Ayo, kita keluar. Pasti semua orang sudah menunggu kita di bawah," ucap Darren seraya menggenggam tangan Dira. Darren mengernyitkan dahinya karena telapak tangan Dira ternyata sangat dingin.


"Kok, dingin tangan kamu, Ra?"


"Jujur, aku... gugup," ungkap Dira menatap Darren.


Darren tersenyum kemudian Darren langsung menarik Dira masuk ke dalam pelukannya.


"Nggak usah gugup, semuanya akan baik-baik saja," ujar Darren seraya mencium puncak kepala Dira.


"Iya...."


"Sebelum kita keluar, kamu tarik nafas lalu buang pelan-pelan," kata Darren. Dira segera melakukan apa yang di katakan oleh Darren.


Darren dan Dira langsung keluar, dan menemui orang tuanya yang sejak tadi tidak sabar menunggu kedatangan anak dan menantunya itu.


Mami Yuli tersenyum begitu melihat kedatangan Darren dan Dira yang kini sudah tiba di tempat acara. Tuan Bagaskara memukul kecil gelas seraya mengangkat gelas tersebut di udara.


Ting Ting Ting.

__ADS_1


Semua mata tertuju kepada tuan Bagaskara. Tuan Bagaskara meminta Darren dan Dira berdiri di sampingnya.


"Selamat malam semuanya. Terima kasih kepada semuanya, karena sudah menyempatkan waktunya untuk hadir di acara ini. Saya berdiri di sini, hanya untuk memperkenalkan seseorang yang sangat spesial karena harapan saya dan istri saya terwujud memiliki seorang menantu dan juga kehamilan menantu saya," ucap tuan Bagaskara dengan senyum terus tersungging di bibirnya.


"Sini, Ra," pinta tuan Bagaskara kepada Dira, agar Dira berdiri di sampingnya dan Dira pun menurut.


"Dan ini dia menantu saya. Namanya Dira Auliyana, istrinya Darren anak saya." Tuan Bagaskara memperkenalkan Dira kepada semua yang hadir di sana. Semuanya langsung bertepuk tangan, sedangkan Dira hanya tersenyum.


*


Saat ini Dira tengah di perkenalkan kepada teman-teman sosialita mami Yuli. Mami Yuli begitu senang saat menceritakan tentang kehamilan Dira. Dira terharu dengan perlakuan kedua mertuanya yang begitu berbesar hati menerima dirinya yang hanya perempuan biasa saja.


"Selamat ya, jeng. Sebentar lagi akan punya cucu," ucap salah satu teman mami Yuli.


"Iya, jeng. Huh... saya sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu," lanjut mami Yuli.


"Mi, Dira ke sana dulu."


"Iya, nak."


Dira segera menghampiri Darren yang tengah berkumpul dengan teman-temannya.


"Ada apa?" tanya Dira.


"Kenalin, ini teman-temanku." Darren memperkenalkan Dira kepada semua temannya.


Tidak lama seseorang memanggil Darren. "Ren...."

__ADS_1


Darren tersenyum dan langsung memeluknya, begitupun juga dengan Dira yang langsung memeluk perempuan yang bersama temannya Darren, yang tak lain adalah Anin.


"Apa kabar, Nin." Sembari melerai pelukannya terhadap Anin.


"Baik," jawab Anin tanpa suara.


Dira bisa melihat, kalau sekarang Anin terlihat lebih fresh dan juga wajahnya terlihat cerah, tidak seperti saat berada di kampungnya.


"Ayo, kita duduk di sana," tunjuk Dira kepada Anin.


Anin dan Dira duduk tidak jauh dari para lelaki. Suasana syukuran semakin terasa ramai, Dira dan Anin tengah bertukar cerita lewat kertas yang Anin tulis. Dira melirik Darren yang kini tengah di samperin perempuan cantik. Dira terlihat sangat kesal saat perempuan itu berbisik kepada Darren dan Darren tersenyum saat perempuan itu selesai berbisik kepada Darren.


"Nin, aku ke sana dulu," ucap Dira dan Anin hanya mengangguk.


Dira segera menghampiri Darren dan langsung memeluk lengan Darren. Darren hanya tersenyum saja saat Dira memeluk lengannya dan Darren tidak memperkenalkan Dira kepada wanita itu.


Dira semakin kesal saja saat wanita itu ikut merangkul lengan Darren dan Darren tidak menggubris tangan wanita itu saat merangkul lengannya, membuat tanduk tak kasat mata kini semakin menjadi saat Dira memperhatikan Darren terlihat santai saja ketika wanita itu mengelus punggung Darren.


"Ren!!" kesal Dira berucap.


"Ya, kenapa?"


"Aku mau istirahat. Ayo, temani aku istirahat," pinta Dira.


"Kamu istirahat duluan saja, nanti aku menyusulmu. Aku masih ingin berbincang dengan teman-temanku," jawab Darren.


Dira semakin kesal dan marah, apalagi kini Darren dan wanita itu, juga teman-temannya kini malah tertawa terbahak-bahak saat salah satu teman Darren menceritakan saat mereka masih duduk di bangku kuliah.

__ADS_1


Dengan kesal Dira meninggalkan Darren begitu saja dan melangkah keluar dari rumah.


__ADS_2