Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Semangkuk sayur sop


__ADS_3

Dira yang mendengar perkataan Airin hanya mendengus kesal dan geram dengan ucapan Airin yang begitu ngebet ingin segera bertunangan dengan suaminya. Sungguh wanita tak tahu malu, pikir Dira.


"Sabar dong... Saat ini Darren tengah di sibukkan dengan posisi barunya sebagai CEO," kata Oma Ros menenangkan Airin yang tak sabaran memiliki Darren.


"Iya... Tapi kapan?" Rengek Airin manja.


"Pokoknya secepatnya kamu bertunangan dengan Darren, kalau perlu langsung menikah," tukas Oma Ros.


"Benar ya, Oma. Jangan bohong loh!" Ucap Airin.


"Iya... Tapi kamu harus sabar," imbuh Oma Ros kepada Airin.


"Baiklah...." jawab Airin lesu.


Dira melanjutkan langkahnya naik ke lantai dua dan tidak memperdulikan keberadaan Airin di rumah itu. Sampai di kamar, Dira segera menutup pintu kamarnya dan meletakkan gelas di nakas.


Sampai siang Dira tidak keluar kamar lagi. Ia malas keluar kamar dan enggan bertatap muka dengan wanita yang ingin memiliki suaminya itu.


Saat tengah asik berselancar di sosial media, tiba-tiba pintu kamarnya di ketuk.


Tok tok tok.


Dira segera membuka pintunya.


"Darren...."


Dira terkejut dengan kepulangan Darren, karena tidak biasanya suaminya itu pulang lebih cepat.


"Lagi ngapain?" tanyanya seraya merangkul pinggang Dira dan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


"Nggak lagi ngapa-ngapain. Tumben jam segini pulang?" tanyanya bernada curiga. Apa mungkin Darren pulang cepat karena di rumah ada Airin? pikir Dira.

__ADS_1


"Kenapa memangnya. Nggak boleh aku pulang cepat?" Jawab Darren. Dirinya pulang lebih awal karena mendapatkan laporan dari art-nya kalau Airin datang berkunjung ke rumahnya, sedangkan di rumah tidak ada mami Yuli dan Tuan Bagaskara. Darren yang cemas terhadap Dira, buru-buru meninggalkan pekerjaannya yang menumpuk apalagi sekarang dirinya sudah menjadi CEO dan sudah pasti pekerjaannya semakin banyak.


Darren tidak ingin membiarkan Dira di sakiti oleh Airin. Darren tau seperti apa Airin kalau sudah terpancing emosinya.


"Ya... Nggak kenapa-napa, aku kan cuman nanya. Salah!" Kata Dira mengerucutkan bibirnya.


"Nggak kok. Emm... Sudah makan belum? Kalau belum kita makan di luar, mau." Tawar Darren seraya memandang teduh wajah sang istri tercinta.


Dira menggeleng. "Nggak ah... Aku nggak mau makan di luar. Kita makan siangnya di rumah aja, bagaimana?"


"Baiklah, gimana nyamannya kamu saja, Ra," kata Darren.


"Kalau gitu ayo kita turun," ajak Dira yang langsung mengapit lengan berotot Darren dan mencium lengan ototnya.


Saat sudah tiba di ruang makan, ternyata makan siangnya belum tersaji di meja makan.


"Aku ke dapur dulu ya...." Kata Dira dan langsung mendapat anggukan kepala oleh Darren.


"Eh, nona!" Kaget mba Siti karena terlalu fokus memasak. " Sebentar lagi non. Apa non sudah sangat lapar?" Tanyanya lagi.


"Lapar lah, inikan sudah masuk jam makan siang," jawab Dira santai. Dira mendekati mba Siti dan memanjangkan lehernya melihat apa yang di masak oleh mba Siti.


"Sebentar lagi selesai, non."


"Bi Tatiknya mana?" tanya Dira celingak-celinguk mencari keberadaan bi Tatik.


"Lagi nyetrika, non," jawab mba Siti.


"Oh...." Sembari menganggukkan kepalanya.


Di meja makan. Darren yang sedang menunggu makan siangnya, tiba-tiba di dekati oleh Airin. Bahu Darren di raba oleh Airin yang kini sudah berdiri di samping Darren dengan senyum menggodanya. Darren mengibaskan tangan Airin yang bertengger di bahunya dan tidak memperdulikan keberadaan Airin di sampingnya.

__ADS_1


"Jangan terlalu membenciku, Ren. Benci dan cinta itu sangat tipis." Tukas Airin yang begitu lekat memandangi wajah tampan Darren.


"Sekarang kamu membenciku, tapi nanti setelah kita menikah rasa benci kamu berubah menjadi rasa cinta."


"Ck ... Pede banget!" Ketus Darren . " Jangan harap kalau aku mau nikahin kamu! Itu tidak akan pernah terjadi!" Sergah Darren menatap sinis wajah Airin.


"Kita lihat saja," sahutnya.


Darren bangun dan berniat meninggalkan Airin. Dengan beraninya Airin memeluk Darren dari belakang.


"Lepas!!" Hardik Darren dengan sangat keras.


"Tidak mau. Asal kamu tau, aku sudah lama mencintai kamu," kata Airin yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Darren.


"Lepas tidak! Kalau tidak kamu akan tau akibatnya!"sergah Darren yang berusaha melepaskan tangan Airin yang semakin melingkar erat di pinggangnya.


"Darren...." Panggil Dira.


"Dira...." Seru Darren membulatkan matanya dan melepaskan tangan Airin yang bertengger di pinggangnya dengan paksa.


Dira segera melangkah menghampiri Darren dan Airin. Raut wajah Dira menyiratkan kemarahan, bahkan tatapan matanya begitu tajam. Dira sudah berdiri di depan Darren seraya membawa sayur sop di tangannya.


Dira menatap Darren dan Airin bergantian dan....


Byurr


Dira menyiram Airin dengan semangkuk sayur sop.


______***______


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2