
Dira melangkah mendekati Darren dan Maira. Dira duduk di depan Darren. Tatapan Dira begitu dingin.
"Kenapa duduknya menjauh, mbak," ucap Dira dingin.
"Ra...." tegur Darren. Dira hanya melirik saja dan mengabaikan teguran Darren.
"Maaf, saya nggak ada maksud apa-apa kok, Nona," jawab Maira.
"Oh ya... tapi dari gestur tubuh anda sengaja merapatkan duduk anda menempel ke tubuh suami saya."
"Maaf, jika saya duduknya terlalu dekat," balasnya, sembari melirik Darren.
"Maaf, kalau saya harus menegur anda. Tolong, lain kali jangan seperti itu lagi. Saya tidak suka. Saya tau kalau anda tuh tertarik sama suami saya, tapi saya nggak akan membiarkan siapapun merusak rumah tangga kami," imbuh Dira tegas.
"Saya tidak ada perasaan apa-apa, kok. Mungkin itu hanya perasaan Nona saja," elaknya.
Darimana dia tahu kalau aku tertarik sama Darren dan ingin menjalin hubungan yang lebih jauh dari sekedar rekan bisnis. Batin Maira.
"Saya tahu kalau anda tertarik sama suami saya. Dari cara anda menatap suami saya sudah sangat kentara kalau anda suka sama suami saya," jelas Dira.
"Ra...!" tegur Darren lagi, sedangkan Maira diam tak menimpalinya.
"Maaf kalau saya harus menegur anda, sebelum ketertarikan anda lebih jauh lagi. Silahkan lanjutkan, dan tenang saja saya nggak akan mengganggu pembicaraan kalian," ucap Dira.
Darren menghela nafas, sedangkan Maira merasa tak enak hati, karena Dira mengetahui kalau dirinya punya niatan lain.
"Kalau gitu, aku pamit dulu. Kita bisa lanjutkan pembicaraan kerjasama ini lain waktu dan kebetulan saya juga ada urusan lagi," ujar Maira.
"Baiklah, dan maaf dengan sikap istri saya," kata Darren.
"Iya nggak apa-apa. Saya permisi dulu," pamit Maira seraya bangun dari duduknya.
__ADS_1
Darren mengangguk, setelah Maira keluar. Dira mendengus sembari menatap Darren dingin. Darren melirik Dira, yang tengah mencebikan bibirnya.
"Kenapa nggak kabarin aku kalau kamu mau kesini," ucap Darren yang berpindah duduknya mendekati Dira.
"Oh... Jadi aku harus bilang dulu gitu sama kamu, agar hal yang kaya tadi tidak di ketahui aku. Atau jangan-jangan kamu senang ya, bisa duduk berdekatan dengan dia. Gitu!!" ketus Dira.
"Bukan gitu, Ra. Aku sama sekali tidak ada niatan apa-apa, dan kebetulan saja tadi Maira duduknya sangat dekat denganku karena aku tengah menjelaskan beberapa hal penting tentang kerjasama yang sedang aku kerjakan bersama perusahaannya," jelas Darren.
"Oh, kebetulan dan jika tidak kepergok sama aku kayaknya akan lebih dekat dari sekedar duduk bersama," cetus Dira.
"Ra, kamu ngomongnya malah semakin ngawur."
"Jadi aku salah jika aku menjaga dan melindungi yang menjadi milikku?" dengus Dira kesal.
"Kamu nggak salah sayang dan kamu tenang saja, aku sama sekali tidak tertarik sama wanita manapun karena aku sudah punya yang lebih baik, yaitu kamu istriku yang paling aku cintai," ucap Darren sembari memencet hidung Dira gemas.
Dira menghela nafasnya, mencoba membuang kekesalan di hatinya. Walaupun rasa cemburu masih menggelayuti hatinya.
"Aku nggak suka, kalau kamu terlalu dekat dengan klien wanita kamu. Tolonglah, jangan kasih cela buat para wanita manapun untuk menjadi orang ketiga di antara kita," peringatan Dira.
"Iya sayang iya...." jawabnya seraya merengkuh tubuh Dira.
Pandangan Darren kini teralihkan ke bekal yang sejak tadi tidak begitu memperhatikan bekal tersebut. Darren memajukan duduk untuk mengambil bekal tersebut.
"Kamu bawa bekal? Isinya apa?" Tanya Darren.
Darren melepaskan rengkuhannya dan membuka bekal yang sejak tadi di abaikan. Meski hatinya masih kesal Dira mengambil alih bekal yang tengah di buka oleh Darren. Dira meletakkan satu persatu bekal tersebut di meja.
" Terima kasih, sudah mau membawakan aku makan siang."
"Iya, sekarang kamu makan," ujar Dira.
__ADS_1
Darren mengangguk dan memakannya dengan lahap, Darren juga menyuapi Dira, karena Darren tahu kalau Dira juga belum makan siang.
Dira membereskan rantang, sasaat setelah keduanya menghabiskan makan siangnya.
"Aku langsung pulang ya...." Kata Dira selesai membereskan rantangnya.
"Nggak nanti saja bareng sama aku."
"Nggak ah! Aku takut mengganggu kerjaan kamu. Lagian aku mau ke supermarket dulu mau membeli susu hamil, soalnya stoknya sudah mau habis."
"Ya sudah... Kalau itu mau kamu, sayang. Tadi kesininya di antara siapa?"
"Sama pak Ari. Beliau menunggu di lobby," ucap Dira.
"Kalau gitu, aku antar kamu ke lobby," timpal Darren.
Sebelum bangkit dari duduknya Darren menarik tubuh Dira dan Darren mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir ranum Dira. Darren begitu rakus menciumi bibir Dira, bahkan Darren tidak mau melepaskan tautan bibirnya yang terjalin mesra dengan bibir Dira.
" Permisi, pak...." Rizky tercengang dengan apa yang di lihatnya, sedangkan dua anak manusia yang saling bertautan bibir langsung kelabakan melepas diri karena kedatangan Rizky yang tiba-tiba.
"Maafkan saya, pak. Saya tidak tahu kalau bapak sedang bersama Bu Dira dan saya nggak melihatnya," ucap Rizky sembari memutarkan tubuhnya keluar dari ruangan Darren seraya memukul kepalanya karena dirinya main masuk saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Huft... Bodohnya aku, kenapa main masuk aja," gumam Rizky.
"Kamu sih, aku kan jadi malu," ucap Dira sembari memukul lengan Darren.
"Iya-iya... Ayo, aku antar kamu ke bawah." Sembari mengulurkan tangannya dan Dira meraih tangan Darren dan bangun dari duduknya.
_______***________
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
__ADS_1
To be continued....