
Darren berlari menuju ruang UGD dimana Dira berada. Beberapa kali Darren mengusap wajahnya, karena khawatir mendengar kabar kalau Dira mengalami pendarahan. Darren di hubungi oleh Sandi lewat telepon dan memberitahukan keadaan Dira yang mengalami pendarahan di sertai perutnya yang sakit. Tanpa pikir panjang Darren segera menemui Dira dan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.
Darren langsung masuk ke UGD dan melihat Sandi tengah berdiri sembari telpon.
"Sandi...!!"
"Kang...." sahut Sandi yang kini mengakhiri telponnya.
"Dira mana?" tanya Darren dengan peluh di dahinya karena berlari dari parkiran motor.
"Di dalam," jawab Sandi yang langsung menyibakkan tirai berwarna hijau.
Darren dan Sandi masuk ke dalam dan Sandi menutup kembali tirai tersebut. Darren mendekati Dira yang tengah tertidur dengan infus tertancap di tangannya. Darren duduk di samping brankar Dira, dan menatap wajah Dira. Darren meraih tangan Dira dan mengusap punggung tangan Dira.
"Apa yang terjadi dan bagaimana ceritanya Dira bisa mengalami pendarahan?" tanya Darren tanpa mengalihkan pandangannya dari Dira.
"Aku nggak tahu awal masalahnya seperti apa, tapi saat aku mau berangkat kerja. Aku melihat Dira tengah di jambak oleh Siska, setelah itu Dira dan Siska saling jambak dan saling cakar. Saat aku datang dan melerai pertikaian Dira dan Siska, tiba-tiba Siska mendorong Dira dan Dira langsung merasakan perutnya sakit, setelah itu Dira langsung mengalami pendarahan."
"Kamu tanya nggak sama dokter, kenapa Dira bisa sampai pendarahan? dan Dira sakit apa?" tanya Darren penuh dengan rasa cemas, takut kalau Dira memiliki penyakit yang berbahaya.
"Kata dokter... Dira sedang hamil," ucap Sandi seraya menepuk pundak Darren.
" Hamil?" cicit Darren yang begitu lekat menatap Sandi.
"Iya...." jawab Sandi seraya menganggukkan kepalanya.
"Terus gimana keadaan kandungan Dira?" tanya Darren penuh kekhawatiran, mengingat Dira mengalami pendarahan.
"Kandungan Dira selamat dan tidak keguguran, karena aku langsung cepat-cepat membawa Dira ke rumah sakit," pungkas Sandi, "Jadi... selamat ya kang sebentar lagi akan menjadi seorang ayah," ucap Sandi seraya tersenyum menatap Darren.
"Alhamdulillah...." Darren berucap syukur karena kandungan Dira selamat dari yang namanya keguguran. Darren mengusap wajahnya dan tertawa kecil.
Drrtt Drrtt
Suara dering handphone Sandi.
__ADS_1
"Kang, aku keluar dulu ya, mau angkat telepon."
Darren mengangguk dengan senyum terus tersungging di bibirnya. Darren mencium tangan Dira, lalu mencium kening Dira. Tatapan Darren kini teralihkan ke perut rata Dira dan mengusapnya lembut, setelah itu di ciumannya perut Dira penuh kasih sayang.
"Hai... sayang. Selamat datang di perut mama dan semoga Ade berkembang dengan baik. Papa janji bakal jagain Ade dan Mama Dira, papa sayang kalian berdua." bisik Darren di perut Dira dan memeluk perut Dira.
"Ren...." panggil Dira lirih.
"Ra, kamu sudah bangun."
Darren langsung menegakkan tubuhnya, dan tersenyum menatap Dira.
"Kenapa kamu, senyum-senyum?" tanya Dira yang heran melihat Darren terus tersenyum merekah.
"Ra, kamu tahu kalau kamu tengah mengandung?"
Dira mengangguk kecil, karena dokter sudah memberi tahu kalau dirinya tengah mengandung.
"Tapi kenapa kamu terlihat tidak senang?" tanya Darren bingung melihat Dira terlihat biasa-biasa saja, bahkan tidak menampakkan wajah bahagianya. Justru Dira menatap dingin wajah Darren.
"Aku senang dan bahagia, tapi... aku masih sebal sama kamu," ketus Dira yang sampai sekarang masih menyimpan rasa kekesalannya terhadap Darren.
Dira tak menjawab, tapi kini Dira langsung memiringkan tubuhnya ke arah samping dan memunggungi Darren.
"Maaf, aku tahu aku salah karena sudah membentak kamu tadi pagi. Jangan marah lagi, bumil ku sayang," bujuk Darren seraya melingkarkan tangannya ke pinggang Dira.
"Ra... sayang... bumil ku sayang yang paling cantik," rayu Darren. " Sudah dong, jangan ngambek lagi."
Dira menghembuskan nafas pelan dan memejamkan matanya, mencoba melupakan rasa kesalnya terhadap Darren. Dira membalikkan badannya dengan wajah di tekuk, lalu duduk seraya menatap wajah Darren dingin.
"Maaf...." ucap Darren penuh penyesalan.
Dira langsung memukul dada bidang Darren berkali-kali. "Aku sebel sama kamu, aku nggak suka kalau kamu membentak aku!" Kesal dira menumpahkan kemarahannya yang terus memukul dada Darren.
"Iya, aku janji nggak akan membentak kamu lagi. Maaf...."
__ADS_1
Dira menghentikan pukulannya dan mengadahkan kepalanya menatap Darren, setelah itu Dira langsung memeluk Darren erat.
"Sudah, jangan marah lagi. Nanti baby di perut kamu sedih, melihat mamanya marah-marah terus."
"Kang...." panggil Sandi.
"Hem... kenapa?"
"Aku mau bicara sama akang di luar," pinta Sandi.
"Iya, sebentar," timpal Darren.
Darren melerai pelukannya dan mengelus pipi Dira.
"Aku keluar dulu sebentar ya. Kamu istirahat saja dulu," ucap Darren kepada Dira dan Dira langsung mengerucutkan bibirnya karena Dira tidak mau jauh dari Darren.
"Cuman sebentar sayang...." bujuk Darren.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama."
"Iya...."
Darren akan segera melangkah, tapi Dira menahan lengan Darren. "Cium dulu...." pinta Dira yang langsung memonyongkan bibirnya.
Darren tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, melihat kemanjaan Dira. Darren langsung mencium bibir Dira sebentar, setelah itu Darren meninggalkan Dira.
"Ada apa san?" tanya Darren yang kini ikut duduk di depan UGD.
"Aku sudah melaporkan kejadian tadi ke pak RT, dan kata pak RT besok keluarganya Andi dan Siska mau menemui Dira dan sekaligus ingin meminta maaf sama Dira," ungkap Sandi.
"Ck, maaf! setelah apa yang sudah di perbuat kepada Dira dan hampir menyebabkan Dira keguguran! Aku nggak akan mau memaafkan mereka dan aku akan membawa masalah ini ke kantor polisi, biar perempuan itu mendapatkan efek jera karena sudah berurusan denganku."
"Akang, yakin? mau membawa masalah ini ke kantor polisi?" tanya Sandi yang memandang lekat wajah Darren.
"Tentu saja," jawab Darren serius.
__ADS_1
"Siapa pun orang yang sudah mengganggu Dira, aku nggak akan memberi ampun." lanjut Darren menatap nyalang ke depan.
Sandi hanya manggut-manggut mendengar apa yang dikatakan Darren. Meski dirinya tidak setuju dengan apa yang di katakan Darren soal akan melaporkan masalah ini ke polisi, akan tetapi dirinya tak mempunyai hak melarang Darren. Biarlah masalah ini menjadi urusan Darren, masalah akan dilaporkannya atau tidak, Sandi percayakan kepada Darren. Sandi percaya Darren bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.