
Tuan Bagaskara, mami Yuli dan Darren terkejut mendengar penuturan Oma Ros. Dira hanya menundukkan kepalanya, menahan sesak di dadanya. Rasanya Dira ingin menumpahkan air matanya, akan tetapi dirinya sudah bertekad tidak akan kalah dari Oma Ros. Dira semakin mengeratkan genggaman tangannya terhadap Darren.
Oma Ros tersenyum menatap Airin yang berdiri di sampingnya, begitu juga dengan Airin yang tersenyum lebar menatap wajah Darren. Lelaki yang selama ini dia inginkan dan lelaki yang selama ini sudah meluluhkan hatinya.
Airin tidak peduli dengan status Darren yang sudah menikah. Asalkan dirinya bisa memiliki Darren yang selama ini dia cintai. Selama ini dirinya sudah berusaha meraih hati Darren, tapi sayang hati Darren sangat sulit untuk di gapai. Jalan satu-satunya adalah mendekati Oma Ros dan mengakrabkan dirinya dengan Oma Ros agar usahanya memiliki Darren dengan mudah.
Darren mengetatkan rahangnya dan memandang sengit wajah Airin yang tengah tersenyum penuh bahagia.
"Oma, kita harus bicara!" Darren berbicara dengan menahan rasa kesal.
Darren langsung menarik tangan Oma turun dari panggung dan membawanya ke luar acara tersebut.
"Maksud Oma apa?! Kenapa Oma mau menjodohkan Darren sama Airin?" tanya Darren dengan nada emosi.
"Emang kenapa? lagi pula Airin itu cocok sama kamu di bandingkan dengan istri kamu, si Dira."
"Alasannya apa! sampai Oma menjodohkan Darren sama perempuan ular itu." Geram Darren.
" Karena Oma nggak suka sama istri kamu itu. Dia itu tidak pantas bersanding dengan kamu, status sosial kita sama istri kamu itu sangatlah jauh. Dia itu hanya wanita miskin yang Oma yakini kalau istri kamu itu hanya menginginkan harta yang kita miliki," ucap Oma Ros yang tidak mau kalah debat dengan Darren.
"Dira bukan wanita seperti itu," sergah Darren.
"Ibu...." panggil tuan Bagaskara dengan sorot mata yang sangat kecewa dengan sikap Ibunya.
"Bisa-bisanya ibu menjodohkan Darren dengan wanita lain! Apa ibu tidak memiliki perasaan terhadap Dira, cucu mantu ibu yang saat ini tengah mengandung cicit ibu!" pungkas tuan Bagaskara yang tak habis pikir dengan jalan pikiran ibunya itu. Berkali-kali tuan Bagaskara menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudah ya! Ibu nggak mau berdebat lagi dengan kalian. Pokoknya keputusan ibu sudah bulat untuk menjodohkan Darren dengan Airin," ucap Oma Ros yang tetap kekeuh dengan pendiriannya.
"Ibu...!" hardik tuan Bagaskara.
"Stop! jangan membantah atas keputusan ibu. Kamu sebagai anak harus menuruti perkataan ibu. Ngerti kamu!" tukas Oma Ros penuh dengan penekanan.
"Maaf, Oma. Darren nggak bisa!" tegas Darren yang langsung meninggalkan Oma Ros dan tuan Bagaskara.
***
Dira saat ini tengah duduk di taman. Dira mengadahkan kepalanya menatap langit yang malam itu bertabur bintang.
Ibu, Bapak. Dira kangen sama kalian. Bantu Dira untuk tetap menjadi wanita kuat.
Tak terasa air mata menetes membasahi pipinya. Cepat-cepat Dira menyeka air matanya.
Dira segera berdiri dan menegakkan tubuhnya. Dirinya siap menghadapi badai yang akan mengusik rumah tangga yang di bangunnya bersama Darren.
"Nak... bantu mama mengalahkan nenek lampir itu dari keluarga kecil kita," gumam Dira sembari mengelus perutnya.
Dira melangkah memasuki gedung, dimana pestanya berlangsung. Setibanya di dalam, Dira memutuskan ke toilet terlebih dahulu. Akan tetapi langkahnya terhenti karena wanita yang di jodohkan dengan suaminya kini tengah berdiri menghadang langkahnya.
Dira menatapnya tajam dan tetap memasang wajah tenang.
Airin mendekati Dira, dan tersenyum mengejek sembari menelisik Dira dari atas sampai bawah. Dira tetap tenang, meski di dalam hatinya ingin sekali mencakar wajahnya yang angkuh itu.
__ADS_1
"Hei...! Dengar ya. Aku akan merebut Darren dari kamu," ucapnya seraya menuding telunjuknya ke wajah Dira.
"Coba saja kalau bisa," tantang Dira.
Airin tersenyum jumawa. "Tentu saja aku bisa mendapatkan Darren. Apa kamu lupa ucapan Oma Ros kalau aku dan Darren akan segera bertunangan dan kamu siap-siap di depak dari hidup Darren." Airin menatap sinis Dira dengan senyum penuh kemenangan.
"Jangan senang dulu wahai ulat bulu! Aku nggak akan membiarkan siapapun menghancurkan rumah tanggaku bersama Darren. Justru kamu yang harus bersiap untuk di tendang karena kamu bukan siapa-siapa bagi Darren," kata Dira penuh penekanan.
"Dan harusnya kamu malu dengan pendidikanmu yang tinggi itu, karena wanita yang berpendidikan tidak akan mau menjadi perebut suami orang. Tapi sayang otak kamu itu nol karena bangga menjadi wanita murahan dan bangga merendahkan harga dirimu sendiri demi lelaki yang belum tentu mencintai kamu. Bercerminlah wanita ja lang... apa kamu pantas memiliki suamiku!" Sambung Dira.
"Kurang ajar kamu!!" pekik Airin.
Airin bersiap menampar Dira. Sebelum tangan Airin mendarat di pipi Dira, tangan Airin sudah lebih dulu di tangkap Dira. Dengan cepat Dira melintir tangan Airin kebelakang dan menarik rambut Airin.
"Aw... sakit brengsek!" Rintih Airin yang kesakitan karena di pelintir oleh Dira.
"Sakit ya. Kasihan...." ejek Dira.
"Aaaww...." erang Airin karena Dira semakin menguatkan cengkramannya.
Dira melepaskan Airin sembari mendorong tubuh Airin. Dengan segera Airin memutarkan tubuhnya dan dirinya juga mendorong tubuh Dira, sehingga tubuh Dira terpundur dan juga terhuyun ke belakang.
"Aahh...." pekik Dira yang hampir terjatuh.
Dengan gerakan cepat, mami Yuli menangkap tubuh Dira yang hampir mencium lantai.
__ADS_1
"Tante ...." gumam Airin.