
Pagi-pagi sekali Dira sudah terbangun, sebelum turun ke bawah Dira terlebih dahulu menyiapkan pakaian kantor untuk Darren dan juga membangunkan Darren.
"Aa, ayo bangun sudah pagi dan cepat mandi," titah Dira sembari menggoyangkan tubuh Darren yang tengah telungkup.
"Hmm... Masih ngantuk, Ra...." Lirih Darren dengan suara serak khas bangun tidur.
"Cepat bangun! Nanti kesiangan," paksa Dira seraya menarik tangan Darren.
"Lima menit lagi, yang...." Nego Darren dengan mata masih terpejam, bahkan kedua matanya begitu lengket untuk di buka.
Dira mendengus kesal. "Oke! Lima menit saja, habis itu cepat bangun," ucap Dira mengalah, kemudian Dira melangkah ke arah jendela untuk membuka tirai dan jendela.
Sembari menunggu Darren bangun, Dira mengecek handphonenya dan membaca beberapa pesan yang masuk. Di antara pesan yang masuk, ada satu pesan dari uwa Salim yang menanyakan kabarnya. Dira segera membalas pesan uwa Salim, yang mengatakan kalau dirinya baik-baik saja.
"Aa, cepat bangun. Ini sudah dari lima menit." Dira menepuk-nepuk pipi Darren.
"Hmm... Iya, aku bangung, tapi beri aku ciuman dulu," ucap Darren yang mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap ke Dira.
Muach...
Dira mendaratkan satu ciuman di pipi Darren, dan Darren pun tersenyum samar.
"Sudah... Cepat bangun."
"Iya, nyonya...."
Darren bangun dan menyibakkan selimutnya. Dira menggelengkan kepalanya melihat Darren yang melenggang santai masuk ke kamar mandi tanpa busana.
"Ra...." Darren kembali keluar dan berdiri di ambang pintu kamar mandi.
"Apa," jawab Dira tanpa melihat Darren yang berdiri di ambang pintu, karena Dira tengah membereskan tempat tidurnya.
Ra...." Panggil Darren lagi.
"Apa sih...!" kesal Dira lalu terpaksa menengok Darren yang berdiri di gawang pintu.
__ADS_1
"Senjataku bangun, Ra." Tunjuk Darren ke bawah perutnya.
"Terus...." Ucap Dira sedikit ketus.
"Kayaknya minta jatah sarapan paginya," ujar Darren.
"Nggak ada jatah sarapan pagi untuk si burung kisut kamu," sergah Dira.
"Kasihani lah, Ra, dia sudah mengepakkan sayapnya, Ra. Masa kamu tega membiarkannya bersolo karir." Darren masih kekeuh meminta jatah sarapan paginya untuk si burung kisutnya, padahal semalam sudah mendapatkan jatahnya dua kali, tapi kini dan tidak tau diri si burung kisut kembali berulah memintanya tanpa sungkan.
"Kayaknya burung kisut kamu itu perlu di ajarkan sopan santun dan juga harus di ajarkan kapan waktu boleh meminta jatahnya." Kata Dira yang menatap Darren sedikit kesal.
"Ya deh... Iya," lesu Darren memutarkan tubuhnya kembali masuk ke dalam kamar mandi.
"Ra, handuknya mana! Kok nggak ada...!" Teriak Darren.
"Ada di dalam, aku sudah nyiapin kok di catelan," jawab Dira.
"Nggak ada, Ra...." Sahut Darren lagi.
"Masa nggak ada sih. Perasaan tadi sudah aku catelin deh," gerutu Dira yang kini kakinya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
*
*
*
Dira mengerucutkan bibirnya saat keluar dari kamar mandi. Terpaksa dirinya harus mandi dua kali pagi ini, gara-gara sang suami berhasil merayu tubuhnya dengan sentuhannya. Padahal Dira bangun lebih awal agar dirinya bisa membuat sarapan untuk seluruh penghuni rumah, terutama memasak sarapan untuk Oma Ros.
"Sudah dong, jangan manyun terus," bujuk Darren sembari mengenakan pakaiannya.
"Au... Ah, sebel aku sama kamu," ketus Dira.
Darren hanya tersenyum menanggapi Dira yang ngambek. Dira melirik jam di dinding dan ternyata sekarang sudah pukul setengah tujuh.
__ADS_1
Sudah nggak ada waktu lagi membuat sarapan.
Cepat-cepat Dira mengeringkan rambutnya yang basah.
"Yang, tolong pasangin dasinya," pinta Darren.
"Tunggu. Aku belum selesai mengeringkan rambutku," balas Dira.
Selesai mengeringkan rambutnya dan menyisirnya, Dira mendekati Darren yang tengah duduk di tepi ranjang sembari menelpon Rizky. Dira segera memasangkan dasi di leher Darren dengan rapi.
"Sudah," ujar Dira.
Dira dan Darren keluar dari kamar dan segera turun untuk sarapan.
"Maaf, mi. Dira nggak bantuin mami membuat sarapan," kata Dira saat sudah tiba di meja makan.
"Iya, nggak apa-apa. Lagian sudah di bantuin sama bik Tatik," tukas mami Yuli.
"Sudah lengkap semua, lebih baik kita segera sarapan," ujar tuan Bagaskara seraya melipat korannya. Mereka pun sarapan bersama.
Selesai sarapan Darren pamit ke mami Yuli juga ke tuan Bagaskara, tidak lupa Darren mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Dira ikut mengantar Darren ke depan.
"Aku berangkat dulu dan maaf... Soal kejadian di kamar mandi," ujar Darren.
" Iya...." Timpal Dira.
Darren mencium kening Dira dan juga mencium bibir Dira sebentar. Darren juga mencium perut Dira.
"Aku berangkat dulu, ingat kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
Dira mengangguk patuh. Darren bergegas masuk ke dalam mobil yang kini di supirin oleh pak Ari. Setelah mobilnya berbelok keluar dari pagar rumah, Dira kembali masuk menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Oma Ros.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....