Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Rumah sakit


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan, Dira terus menggerutu kesal. Hatinya masih menyimpan rasa kekesalannya terhadap Clarissa, yang malam ini sudah membuat moodnya jelek. Masih terbayang dalam benaknya, bagaimana raut muka Anin yang terlihat sedih saat di rendahkan dan di hina oleh Clarissa. Sebagai seorang sahabat, hati Dira juga ikut sakit melihat Anin di hina dan di kata-katai gagu. Siapa sih yang mau terlahir dengan keadaan tidak bisa bicara, pasti jawabannya nggak mau....


"huft...." Dira menghentak nafas kasarnya.


"Sudah dong... Jangan terus-menerus mencibir Clarissa. Dia kan sudah mendapatkan peringatan keras dari Teo," kata darren menenangkan Dira dengan tangannya membelai pipinya.


"Aku tahu. Tapi aku masih kesel aja. Kamu sih nggak tau bagaimana ekspresi wajah Anin saat di katai gagu. Anin terlihat sangat sedih, justru aku takut kalau Anin jadi minder sama kang Teo," sungut Dira yang mengingat kesedihan Anin, walau Dira tau Anin menyembunyikan kesedihannya di hadapan semuanya.


"Cobalah Aa bilang sama kang Teo, ajak Anin untuk berobat agar Anin bisa bicara," lanjut Dira memberi solusi.


"Iya, nanti aku bilangin ke Teo," jawab Darren.


"Harus!!" tegas Dira.


"Iya, sayang. Udah ya jangan menggerutu lagi, kasihan baby-nya kalau mamanya marah-marah terus." Rayu Darren.


"Hemm...."


*


Saat Dira tengah terkantuk-kantuk, suara dering handphone Darren mengagetkan Dira yang hampir terlelap tidur.


"Ra, tolong angkat telponnya," pinta Darren seraya mengulurkan handphonenya ke Dira.


Dira menerima handphonenya seraya menguap dan melihat siapa gerangan yang menelpon suaminya.


"Dari mami...." Gumam Dira melirik Darren dan menjawab panggilan telepon dari mami Yuli.


"Halo, mi...." jawab Dira.

__ADS_1


"Ra, kalian dimana?" Tanya mami Yuli yang terdengar terisak-isak di sebrang telpon bercampur dengan suara cemas.


"Di jalan, mau pulang. Ada apa mi? Kenapa mami nangis?" Tanya Dira penasaran.


"Oma, Ra... Oma masuk rumah sakit," sahut mami Yuli.


"Oma masuk rumah sakit?!" Beo Dira sembari menatap Darren yang kini terlihat cemas mendengar Oma Ros sakit.


"Iya... Kalian bisa datang ke rumah sakit?"


"Bisa mi bisa... Rumah sakit mana?"


"Rumah sakit mitra keluarga."


"Iya, mi. Sekarang kita segera ke sana," jawab Dira cepat.


Darren memacu mobilnya ke rumah sakit mitra keluarga, dan berharap oma Ros baik-baik saja.


"Mi...!" Panggil Darren yang langsung membuka pintu kamar rawat Oma Ros.


"Ren... Ra... Akhirnya kalian datang juga," tukas mami Yuli yang langsung bangkit dari duduknya.


Dira dan Darren langsung mendekati mami Yuli yang kini kembali terisak. Darren segera merengkuh tubuh mami-nya itu.


Darren membiarkan mami Yuli menumpahkan tangisannya, Dira maupun Darren sama-sama terdiam sembari menatap Oma Ros yang kini terbaring lemah di atas ranjang.


Setelah dirasa tangis mami Yuli reda dan tenang baru Darren bertanya kepada Mami-nya.


"Oma sakit apa? kenapa tiba-tiba Oma jatuh sakit?"

__ADS_1


"Kata bi Lila, Oma jatuh di kamar mandi dan langsung nggak sadarkan diri," ucap mami Yuli.


"Terus kata dokter gimana keadaan Oma?" Darren kembali melontarkan pertanyaan. Ada rasa cemas yang menggelayuti hatinya.


"Kata dokter... keadaan Oma stabil, tapi... kata dokter Oma bisa terkena serangan stroke," jawab mami Yuli yang kini terlihat lebih tenang seraya memandangi Oma Ros.


"Ren, mami takut... Takut kalau mami kehilangan Oma," ungkap mami Yuli yang benar-benar sangat takut kehilangan ibu mertuanya itu, wanita yang sudah melahirkan suaminya.


"Kita berdoa saja, semoga Oma baik-baik saja dan lekas sembuh," timpal Darren seraya mengusap punggung Maminya. Mami Yuli pun mengangguk pelan.


"Apa papi sudah di kasih tahu?" Tanya Darren karena papinya itu sedang meninjau lokasi proyek di luar kota.


" Sudah...dan katanya besok papi pulang," pungkas mami Yuli yang kini memandangi wajah mertuanya itu.


Mami Yuli kembali duduk di kursi dan meraih tangan keriput Oma Ros yang sampai saat ini belum membuka matanya. Dira juga ikut duduk di dekat kaki Oma Ros dan memijat kaki Oma Ros. Meskipun Oma Ros selalu sinis terhadapnya tapi Dira tetap menyayangi Oma Ros.


Menjelang subuh Oma Ros membuka matanya. Pelan-pelan Oma Ros membuka matanya dan menyimpitkan matanya karena silau lampu yang menyala terang.


Oma Ros menengok ke kiri dimana mami Yuli tengah tertidur sambil duduk dengan kepala di atas ranjang yang di tempati Oma Ros, lalu Oma Ros melihat ke arah sofa yang dimana ada Darren dan Dira tidur.


Oma Ros mengingat kejadian dimana dirinya terjatuh di kamar mandi, yang saat itu Oma Ros baru selesai buang air kecil. Oma Ros yang memang memiliki riwayat darah tinggi tiba-tiba kepalanya pusing. Saat akan berpegangan ke meja westafel Oma Ros menyenggol shampo dan terjatuh ke lantai membuat cairan shampo tumpah ke lantai dan saat itulah Oma terpeleset karena minginjak cairan shampo.


"Yyy...." Suara Oma Ros mendadak kelu dan tak mampu mengeluarkan suara.


"Yyy...." Lagi-lagi Oma Ros tidak bisa mengeluarkan suaranya. Oma Ros mencoba menyentuh kepala mami Yuli yang tengah terlelap di sampingnya. Dan lagi-lagi Oma Ros tidak bisa menggerakkan tangannya.


Kenapa dengan diriku? kenapa aku nggak bisa menggerakkan tubuh ini dan kenapa sulit sekali berbicara?


______***______

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2