Terbuangnya Tuan Muda Sombong

Terbuangnya Tuan Muda Sombong
Terima kasih Oma....


__ADS_3

Saat ini Oma Ros tengah duduk di kursi roda di temani oleh suster. Oma Ros berkali-kali menolak suapan dari suster, membuat sang suster sedikit frustasi karena Oma Ros menolak untuk makan.


Mami Yuli datang ke kamar Oma Ros dan melihat Oma Ros tidak mau makan.


"Berikan piringnya kepada saya, sus," pinta mami Yuli.


Suster pun memberikan piring tersebut kepada mami Yuli. Setelah menerima piring tersebut, mami Yuli duduk di tepi ranjang dan suster mendorong kursi rodanya agar menghadap ke mami Yuli.


"Kamu boleh makan dulu, sus," suruh mami Yuli kepada suster Ana yang mulai hari ini mengurusi Oma Ros.


Darren lah yang merekrut suster Ana, agar kesehatan Oma Ros ada yang mengontrolnya dan membantu Oma Ros terapi di rumah.


"Ibu harus makan agar cepat sembuh," imbuh mami Yuli seraya mengangkat sendoknya ke mulut Oma Ros, tapi Oma Ros tetap mengatupkan mulutnya enggan menerima suapan dari mami Yuli.


"Ibu... Ayo buka mulutnya. Ibu harus makan...." Tapi Oma Ros tetap tidak mau membuka mulutnya.


Mami Yuli menghela nafasnya.


"Ibu kenapa nggak mau makan?"


Karena ibu sudah nggak bisa ngapa-ngapain, membuat ibu menjadi orang yang tidak berguna. Keluh Oma Ros di dalam hatinya.


Mami Yuli tidak menyerah dan tetap mendekatkan sendok tersebut ke mulut Oma Ros dan membuat Oma Ros semakin merapatkan mulutnya.


Dira lewat dan akan menuju ke dapur mendadak berhenti di depan pintu kamar Oma Ros yang terbuka lebar. Dira menatap kedua wanita yang beda generasi itu tengah duduk. Dira curi dengar saat mami Yuli membujuk Oma Ros yang tidak mau makan. Dira melangkah masuk ke dalam kamar Oma Ros.


"Kenapa dengan Oma, mi?" Tanya Dira yang kini sudah berdiri di samping Oma Ros.


"Ini... Ibu nggak mau makan. Mami nggak tau kenapa ibu nggak mau makan," jawab mami Yuli menatap Dira yang berdiri di samping Oma Ros.


"Sini piringnya, biar Dira coba menyuapi Oma. Siapa tau Oma mau makan," ujar Dira seraya mengulurkan tangannya meminta piring tersebut.

__ADS_1


"Semoga kamu bisa membujuk ibu untuk makan," kata mami Yuli sembari memberikan piring tersebut ke tangan Dira.


"Iya, mi...."


Mami Yuli bangkit dari duduknya dan mengelus bahu Dira.


"Mami tinggal dulu. Mami mau ke taman belakang untuk menyiram bunga-bunga mami," ujar mami Yuli dan Dira pun mengangguk sembari tersenyum.


Setelah mami Yuli menghilangkan dari pandangannya. Dira meletakkan piring tersebut di atas nakas dekat tempat tidur. Dira duduk di tepi ranjang.


"Oma, lihat perut Dira. Apa Oma nggak mau melihat cicit Oma lahir dan juga nggak mau menggendongnya jika nanti sudah lahir."


Dira meraih tangan Oma Ros dan meletakkan di atas perutnya, seketika sang buah hati bergerak merespon sentuhan tangan oma Ros, walau Oma Ros tidak bisa merasakan gerakan sang cicit di dalam perut Dira.


"Jika Oma benar-benar sayang sama cicit Oma dan juga Oma ingin melihat cicit Oma lahir, maka Oma harus cepat sembuh. Oma mau sembuh kan?" Tanya Dira lembut.


Oma Ros yang sejak tadi hanya menatap lekat Dira menganggukkan kepalanya pelan.


Dira mengambil piring di atas nakas dan menyendokkan nasi dan sayur, setelah itu Dira mendekatkan sendoknya ke mulut Oma Ros. Oma Ros membuka mulutnya menerima suapan dari Dira.


Dira benar, kalau aku harus sembuh demi bisa melihat cicit pertama lahir dan juga aku ingin menggendongnya jika cicitku sudah lahir.


Dira terus menyuapi Oma Ros dengan telaten dan Oma benar-benar menghabiskan makanannya. Dira tersenyum melihat piringnya kini sudah kosong, setelah itu Oma Ros meminum obatnya.


"Apa Oma mau kalau kita ke taman belakang," tawar Dira.


"I... a...." Jawab Oma Ros seraya menganggukkan kepalanya pelan.


"Ayo kita ke sana."


Dira bangun dan mendorong kursi roda Oma Ros menuju taman belakang. Tiba di taman belakang, ternyata mami Yuli masih menyiram tanamannya. Mami Yuli tidak sendirian mengurus tanamannya, ada mbak Siti yang membantu mami Yuli mengurus tanaman.

__ADS_1


Dira menghentikan langkahnya di dekat gazebo dan Dira duduk di gazebo seraya melihat mami Yuli dan mbak Siti mengurus tanaman.


Semilir angin menerpa kulit wajah Dira dan Oma Ros. Cuaca pagi ini cerah berawan.


"Oma senang," tanya Dira dan Oma mengangguk.


"Oma suka berkebun nggak." Dira kembali bertanya.


"I... a...." Jawab Oma Ros sembari menganggukkan kepalanya.


"Sama dong. Nanti kalau Oma sudah benar-benar sembuh, Oma mau kan kalau kita berkebun." Oma Ros mengangguk dan Dira tersenyum sumringah.


"Oma tau... sebenarnya tuh, Dira sayang sama Oma. Semenjak tinggal di sini dan mendapatkan kasih sayang dari mami dan papi, Dira sangat bahagia karena bisa merasakan lagi kasih sayang orang tua. Dira yang sudah lama di tinggal pergi sama bapak dan ibu membuat Dira beruntung bisa merasakan kasih sayang mami dan papi, apalagi saat tau kalau Darren masih memiliki nenek. Jujur... Hati Dira sangat senang karena bisa merasakan kasih sayang nenek, tapi ternyata oma tidak menginginkan Dira. Membuat hati Dira menjadi sedih."


Maaf sudah membuat kamu sedih, karena Oma menolak kamu menjadi bagian keluarga ini.


Oma menatap lekat wajah Dira dengan tatapan bersalah. Oma Ros jadi teringat betapa kejamnya dirinya saat Oma Ros yang akan menjodohkan Darren dengan Airin.


"M-a... p," ucap Oma Ros, dengan kata-katanya yang tidak begitu jelas.


Dira tersenyum. " Apa Dira boleh memeluk Oma?"


"I... a... h," seraya mengangguk.


Dira langsung menghambur memeluk Oma Ros dengan rasa haru, karena sekarang ia bisa di terima oleh Oma Ros.


"Terima kasih Oma... Terima kasih," ucap Dira haru.


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\*\*\*\*\*\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_


***Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued***....


__ADS_2